
Akh..
Seorang perempuan terpeleset di depan Ares, dengan sigap Ares menangkap tubuh perempuan itu agar tubuh itu tidak sampai jatuh menyentuh lantai.
"Ana?" Ares terkejut melihat siapa wanita yang ditolongnya, dia Ana. Wanita yang sama yang beberapa waktu yang lalu juga terpleset di depan Ares. "Kamu nggak apa-apa??
"Ahh.. Iya mas. Saya nggak apa-apa. Cuma sedikit kaget. Makasih, mas Ares lagi-lagi sudah bantuin saya." Ana memegang dadanya, dirinya masih merasa terkejut karena hampir jatuh terpeleset tadi. Bahkan pundaknya terlihat gemetar. Ares memapahnya dan mendudukkannya di kursi yang ada disamping mereka.
"Duduklah dulu. Dan ini.. minumlah! Supaya detak jantungmu kembali normal" Ares memberikan air mineral yang memang telah tersedia diatas meja kantin tersebut. Ana menurut, dia meminum air mineral yang baru saja disodorkan Ares. Air mineral 300 ml itu langsung tandas tak bersisa.
"Sekali lagi terima kasih ya mas" setelah menetralkan detak jantungnya, Arin kembali mengucapkan terima kasih kepada Ares.
"Sudah berapa kali kamu ngucapin makasih sama saya Na?? Kamu nggak capek ya?? Saya aja yanng denger capek Na. Kalau saya capek, kamu mau mijitin?? Saya yakin kamu pasti kamu nggak mau kan?? haha" Gurau Ares, membuat seulas senyum dibibir Ana.
"Tapi ngomong-ngomong An... " mendadak Ares berubah lagi ke mode serius. "Kok keseimbangan kamu buruk banget ya?? kamu lagi sakit??"
"Nggak mas. Cuma lagi sering begadang aja" jawab Ana sambil menunduk, dia terlihat seperti seorang anak yang sedang ketahuan membohongi orang tuanya.
"Melihat kondisi keseimbanganmu, sepertinya kamu harus banyak istirahat Na. Banyak-banyakin makan makanan yang sehat dan bergizi, untuk menghindari anemia. Mumpung lagi dirumah sakit, mau sekalian saya antar buat periksa?? Biar kamu dapat vitamin" tawar Ares.
Ana tersenyum kecil, hatinya bahagia. Ada laki-laki yang begiru perhatian padanya.
"Tuhan, bolekah Ana berharap kalau mas Ares menyukai Ana?"
"An?"
"Em.. nggak usah mas. Nanti biar Ana periksa sendiri saja" jawab Ana.
__ADS_1
"By the way, kamu lagi apa An disini? Ada yang lagi sakit?? Ibu kamu sakit??" pertanyaan Ares, membuat wajah Ana langsung berubah 180⁰. Tiba-tiba air matanya menetes. Ana terisak pelan.
"Lohh... loh... kok malah nangis Na?? Kamu kenapa?? Cerita sama saya, mungkin saja saya bisa sedikit membantu"
Grepp...
Entah keberanian dari mana Ana tiba-tiba memeluk Ares dengan erat dan menangis dipelukannya. Ares sempat tersentak kaget dan terkejut tubuhnya juga mendadak tegang kaku, namun dia bisa mengatasi situasi itu. Dia membalas pelukan Ana, ragu dan pelan. Mencoba menenangkan Ana dengan elusan pelan.
"Menangislah jika itu bisa melepas bebanmu. Tapi...emm..bisakah sedikit longgarkan pelukanmu, Saya sesak nafas." Ares tidak berbohong, dadanya sesak karena pelukan Ana benar-benar kencang.
Anna melepas pelukan Ares, begitu dia menyadari bahwa dia baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Memeluk pria yang baru dia kenal. Ditambah dengan Ares yang mengeluh sesak karena ulahnya. Sungguh, Ana terlihat malu saat ini.
"Ibu.. Ana Maluuuuuu"
"Ma.. maaf mas. Tadi spontan"
"U..udah kok mas" jawab Ana kikuk.
"Beneran??" Ana menganguk, sungguh sebenarnya dia malu. "Kalau gitu sekarang kamu cerita, lagi apa kamu disini?? Siapa yang sakit?"
"Saya sedang menunggu anak saya mas." tubuh Ares mendadak menegang, dia tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang saat ini duduk dihadapannya, perempuan yang sejujurnya telah mencuri hatinya sejak pandangan pertama, telah menikah dan memiliki anak.
"Anak?? Kamu sudah menikah?" anggukan kepala Ana membuat hati Ares remuk seketika. Kuncup yang baru saja akan mekar, kini layu sudah, bahkan sebelum kuncup itu berkembang.
"Dulu!"Ucapan Ana yang mengiringi anggukannya kembali membuat Ares terkejut.
Dalam waktu kurang dari lima menit Ares telah mendapat tiga kejutan. Wanita cantik dihadapannya sekarang ini sudah menikah, punya anak, dan juga seorang Janda.
__ADS_1
Memang tidak ada yang salah dengan status itu, hanya saja Ares sedikit shock.
"Great... gue benar-benar nggak tahu harus komentar gimana"
"Anak kamu sakit apa??" tak ingin bertanya tentang status yang mungkin nantinya akan menyinggung, Ares mengalihkan pertanyaan tentang kondisi anak Ana.
"Thalasemia. Penyakit turunan yang diperoleh dariku dan dari mantan suamiku" Ana menunduk, pikirannya kembali pada kondisi anaknya yang melemah.
"Thalasemia?? Anemia Sel Sabit?" Ana mengangguk. "Kamu beneran punya Anemia ternyata. Saya kira feeling saya salah pas liat keseimbangan kamu yang buruk banget. Lalu apa kata dokter tentang kondisi anakmu? Apa dia harus menjalani operasi??"
"Iya mas. Langit harus menjalani cangkok sumsum tulang, tapi resikonya tinggi. Saya takut kalau operasinya gagal, Langit bisa menderita kelumpuhan permanen atau resiko terburuknya adalah kematian. Saya nggak sanggup kehilangan dia. Lagi pula ada 2 kendala yang harus saya hadapi sebelum bisa melakukan prosedur operasi. Yang pertama, saya belum bisa ketemu dengan papanya Langit karena masih di Luar negeri. Dan saya yakin, dia tidak akan mau mengorbankan separuh hidupnya untuk menolong Langit. Sedangkan untuk nafkah saja dia tidak pernah berikan."
"Ck.. laki-laki cemen. Berani buat, nggak mau tanggung jawab. Maunya bikin anak doang, ngrawat nggak bisa. Lanjut..." entah sadar atau tidak, Ares mengomel mengomentari mantan suami Ana. Membuat Ana terkejut, hanya sebentar, sebelum dia melanjutkan ceritanya.
"Masalah yang kedua, kami sama sekali belum ada biaya untuk membayar operasi~nya Langit. Untuk biaya perawatan intensif saja, saya sudahh kuwalahan mas. Tapi Langit tetap harus dirawat intensif untuk tetap memantau kondisinya. Dokter saat ini hanya bisa menyuntikan pereda nyeri." Ana menunduk meratapi kondisi putra semata wayangnya..
"Emmm.... gini Na. Saya bakalan coba bantu. Nanti biar saya tanya sama bunda apa disini ada rekomen dokter yang bagus untuk menangani dan merawat kondisi putramu. Jika tidak ada, aku akan minta tolong Juan untuk kembali ke Indonesia, menangani kasus seperti ini lagi"
"Juan??"
"Dokter Juan Andres.. kakak sepupuku yang berkarir di Amerika. Dia pernah menangani kasus yang sama pada anak kecil juga. Dan berhasil. Mudah-mudahan dia bisa turun tangan untuk menangani anak kamu. Masalah sumsum, mudah-mudahan Langit bisa menerima sumsum dari luar. Tidak harus dari Ayahnya." Ana tersenyum, rasanya harapannya berada dipuncak tertinggi mendengat Ares mengatakan ada yang sakit sama, tapi dia sembuh.
"Ng.."
"Aresss!" Ana tidak jadi menyelesaikan ucapannya ketika seorang wanita memanggil Ares. Dia, Arin. Arin berjalan kearah Ares dan Ana berada. Ana yang melihatnya mendadak iri, keberaniannya menciut. Keakraban yang tadi terjalin antara dirinya dan Ares menjadi sedikit canggung. Dengan sedikit canggung, Ana menatap penampilan Arin dari atas hingga kaki.
"Cantik.. '"
__ADS_1
...■■■■■■■■■...