
Kenzhou menatap malas tumpukan berkas-berkas dihadapannya. Moodnya benar-benar buruk, hari ini adalah hari ulang tahunnya tapi tidak ada satu orang pun yang mengingatnya.
"Argghhhhh......" Kenzhou berteriak emosi, dia mendorong laptopnya menjauh dari hadapannya.
"Ana tolong kemari!" Kenzhou memerintah Ana sekretarisnya, untuk masuk kedalam ruangannya.
"Permisi pak" Setelah banyak berdebat, Kenzhou akhirnya mengalah dan mau dipanggil "Pak" oleh Ana.
"Masuk!" Ana dengan sopan masuk kedalam ruangan Kenzhou setelah dipersilahkan. Sudah lebih sebulan dirinya bekerja sebagai sekretaris Kenzhou.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Apa hari ini kau sudah melihat Arin???" Ana mengerutkan dahinya bingung, tidak biasanya bosnya itu menanyakan wanita yang bahkan setiap hari ada bersamanya.
"mbak Arin???" Kenzhou mengangguk, "Maaf pak, sejak tadi pagi saya belum melihat mbak Arin. Biasanya beliau sudah wira-wiri keruangan bapak, tapi sampai siang ini saya sama sekali belum melihat mbak Arin pak. Apa pak Ken sudah menghubungi mbak Rency? Mungkin mbak Rency tahu kemana Mbak Arin" Ana mencoba memberikan saran.
"Sudah! Aku menghubungi ruangannya, tapi dia bilang Arin belum datang. Ini sudah hampir jam makan siang, tapi dia belum datang. Aishh....sebenarnya dia niat untuk bekerja atau tidak??? Argghhh..." Kenzhou mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Pak Ares?? Apa anda sudah menghubunginya??"
"Ares ponselnya tidak aktif. Mereka benar-benar sangat kompak kalau soal menghilang seperti ini. Apa Ares juga tidak menghubungimu??"Ana terkejut dengan pertanyaan Kenzhou.
"Ke.. kenapa pak Ares harus menghubungi saya pak??"
"Aku hanya bertanya. Mungkin saja dia menghubungi ku melalui telepon kantor."
Ana hampir saja salah sangka, mesti sebenarnya Kenzhou lah yang kelepasan berbicara.
"Tidak pak.. Pak Ares sama sekali tidak menelpon kemari"
Mas Ares menghilang bersamaan dengan Mbak Arin?? Kemana mereka?? Sebenarnya hubungan seperti apa yang terjadi antara mereka???
"Na"
"Ahh.. iya pak.. ma.. maaf. Saya tiba-tiba melamun" Ana merutuki keboodohannya karena memikirkan Ares dan Arin..
"Baiklah, kau boleh kembali. Cobalah hubungi Ares dan tanya keberadaannya. Dan tolong, cancel meetingku dengan Mario sore ini. Aku benar-benar sedang tidak mood bekerja"
"Baik, pak. Permisi." Ana keluar dari ruangan Kenzhou dengan rasa penasaran.
Ana baru akan menghubungi sekretais Ares, ketika sebuah pesan, masuk ke handphonenya.
From : 089xxx
Ana nanti malam berdandanlah yang cantik. Aku akan menjemputmu tepat jam 7 malam. Aku juga sudah menitipkan gaun kepada ibu, jangan lupa untuk kau kenakan
Ana mengerutkan keningnya ketika menerima pesan itu. Dia sama sekali tak merasa mengenal nomer tersebut.
^^^To : 089xxx^^^
^^^Maaf ini siapa?^^^
From : 089xxx
__ADS_1
Ini aku Ares. Jangan lupa ya,, persiapkan dirimu.
^^^To : 089xxx^^^
^^^Mas Ares?? Tadi Pak Ken bilang nomer mas Ares nggak bisa dihubungi? Kok ini??^^^
From : 089xxx
Ken menghubungiku? Ada apa?
^^^To : 089xxx^^^
^^^Mau menanyakan mbak Arin. Soalnya sampai sekarang mbak Arin belum sampai di kantor. Dan itu membuat Pak Ken marah-marah sejak tadi. Bahkan dia membatalkan meeting pentingnya dengan Pak Mario.^^^
From : 089xxx
Jangan katakan pada Ken, kalau aku menghubungimu. Arin hari ini tidak masuk, ada sesuatu yang sedang ia persiapkan. Jadi bairkan saja jika Kenzhou memang marah-marah. Nanti juga akan diam sendiri kalau mulutnya sudah lelah.
^^^To : 089xxx^^^
^^^Ngomong-ngomong, mas Ares sendiri sedang ada dimana? Apa sedang bersama mbak Arin?^^^
From : 089xxx
Tidak... bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau Arin sedang mengurus sesuatu. Pokoknya siapkan dirimu, aku jemput kerumah mu tepaat jam 7. Dan jangan lupa makan siang.
^^^To : 089xxx^^^
^^^Memangnya kita mau kemana mas??^^^
From : 089xxx
Melihat balasan terakhir dari Ares membuat Ana malas untuk membalasnya. Sejak kejadian Ana menolong Daisy waktu itu, Ares memang lebih dekat dengan Ana. Bahkan, Ares tak segan untuk mengantar jemput Ana kerumahnya setiap hari.
"Astaga... aku lupa menghubungi sekretaris pak Mario" karena terlalu memikirkan Ares dan Arin, Ana jadi melupakan perintah Kenzhou. Secepat kilat dia menghubungi sekretaris Mario dan mere~schedule meeting antara keduanya.
...***...
"Aduh mbak...sebenernya mbak Arin ngajakin Kei kesini mau belanja apa cuma mau muter-muter sih?? Kei udah capek banget mbak, pengen tidur.. Lagian yang mbak cari apaan sih??" Keiko, adik bungsu Kenzhou, menatap dengan mimik memelas. Seakan dia butuh penyemangat agar bisa melenggang santai keluar masuk toko di Mall itu.
"Sebentar Kei. Jangan ngeluh terus donk."
"Astaga mbak, gimana aku nggak ngeluh coba? Kita udah lebih dari 4 jam keliling mall, tapi tangan kita ini masih kosong mbak. Ish... tau gini mending aku bantuin mama dirumah" bibir Keiko mencebik lucu, dirinya benar-benar kesal.
"Jangan marah... Kalau kamu dirumah bukannya bantuin, tapi kamu cuma bakal habisin stock makanan. Mbak udah hafal sama yang ada diotak kamu" dengan semangat Arin menyeret tangan Keiko memasuki ROLEX Store.
"Hehe....mbak tahu saja. Ngomong-ngomong mbak mau beli apa disini?? Tadi mbak udah kesini lho, tapi cuma liat-liat aja" Keiko melihat sekeliling.
"Memangnya apa yang akan kita beli di toko jam tangan Kei??? Sayur?? Tentu saja membeli jam tangan" Arin meninggalkan Kei, dan melihat-lihat etalase jam tangan.
"Tapi tadi mbak Arin udah masuk ke toko ini 2X lho. Tapi keluar lagi." protes Keiko
"Kali ini ada yang mau mbak beli. Kamu nggak usah cerewet"
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, nona??"Seorang pegawai menyapa °Arin dengan sopan.
"Ahh iya,, aku mencari Rolex GMT Master II Diamond Automatic 18kt White Gold Set With Diamonds Men's Watch. Apakah masih tersedia???" Arin menyebutkan satu jenis jam tangan Rolex beserta spesifikasinya.
"Sebentar" Pegawai tadi pergi sebentar dan kembali dengan sebuah kotak ditangannya.
"Ini" Pegawai itu membuka kotak, dan nampaklah jam tangan yang diinginkan Arin. Arin tersenyum memandang benda itu. Bukan jam tangan keluaran terbaru, namun jam ini adalah jam yang diinginkan Kenzhou. Dulu..
"Mbak.. mbak Arin serius mau ambil jam ini? Mbak, jangan aneh-aneh deh. Aku tahu banget berapa harga jam ini, mahal lho mbak"Keiko memandang jam dan Arin bergantian.
"Memangnya kenapa, Kei?? Ini berapa??"
"$ 485,350 atau sekitar 7,4 M"
"Astaga..." Kei terperanggah dengan harganya
"Kei.. biasa aja dong. Jam ini nggak semahal mobil Alphard yang kamu minta ke papa pas ulang tahun kamu.."
"Tapi..."
"Diamlah! Aku ambil ini. Tolong dibungkus sekalian" Arin mengeluarkan Black Card miliknya. Black Card adalah kartu yang tak memiliki batas limit, dan tidak sembarang orang bisa memilikinya.
"Mbak... siap-siap dicincang abis-abisan sama Mas Ken, kalau dia tahu mbak pakai Black Card buat beliin dia hadiah mahal kayak gini" Kei menggeleng menatap kenekatan Arin.
"Tidak akan! Asal mulut kamu ini nggak ember, keceplosaan bilang sama dia. Kalau sampai Ken tahu, berarti kamu yang bilang. " Ancam Arin. Keiko adalah gadis yang ember, apalagi jika didepannya ada banyak makanan. Dia akan mengatakan apapun, meski itu adalah raaahasia besar.
Sejak dulu, Kenzhou sangat tidak menyukai teman-temannya mengeluarkan uang banyak hanya untuk membelikan dirinya barang yang dianggapnya tak penting.
"Iya... iya mbak. Tapi ada imbalannya"
"Ck... selalu"
"Ayolah mbak.. dari pada mas Ken tahu. Mending kasih aku uang tutup mulut" dan Arin juga tidak lupa, bahwa Kei itu licik.
"Mau apa???"
"Asyikkk.... ehm gak mahal kok. Cuma satu set perhiasan Cartier yang baru launching" Arin menghela nafas pasrah ketika mendengar permintaan Keiko. 1 Set perhiasan Cartier. 1 Gelang saja bisa mencapai harga 200 jt. Jika satu Set, Arin harus bersiap untuk mengeluarkan bugdet hampir 750 jt.
"Beli aja. nanti mbak ganti"
"Yes..."Keiko bersorak kegirangan.
"Cha...sekarang kita pulang aku tak sabar untuk pesta kejutan malam ini"Setelah mendapatkan pesanannya, Arin kembali menyeret Keiko kali ini untuk keluar. Namun baru sampai didepan pintu, Arin kembali menarik Kei masuk.
"Ada apa sih mbak? Kenapa balik lagi. Kataaya mau... ." Arin membungkam mulut Keiko dengan telapak tangannya.
"Sssstttttt...diamlah. Dicounter DIOR ada Kenzhou. Kalau dia melihatku dan kau ada disini, aku yakin dia akan marah besar. Dan sekarang pikirkan caranya kita keluar tanpa ketahuan Kenzhou" Keiko mengangguk tanda paham, gadis jangkung itu langsung merogoh kedalam tas jinjingnya. Dia mengeluarkan 2 buah masker.
"Masker???" Arin menatap masker itu dengan raut wajah penuh pertanyaan.
"mbak pikir ini apa, baju?? Tentu saja ini masker. Mbak udah jadi model berapa lama sih?? Pasti tahu donk, fungsi sekaligus manfaat masker bagi public figure??" Keiko menaik turunkan kedua alisnya, seolah dia baru saja memberikan ide yang cemerlang.
Arin tersenyum dan menyeringai memandang Keiko, "Hehehe... tenyata kamu cerdas juga ya Kei. Nggak sia-sia mama ngasih kamu makan banyak".
__ADS_1
"Isshhh...sudah cepat pakai dan kita keluar dari sini. SEKARANG!" Setelah memakai masker, Arin dan Keiko melenggang santai sambil memperhatikan gerak-gerik Kenzhou. Mereka tidak ingin rencana yang mereka rencanakan jauh-jauh hari menjadi gagal dan berantakan.
●●●●●●●●