
Dilain tempat, tepatnya si AKA Group, Ares yang baru saja keluar dari ruangannya bergegas untuk menemui Ana. Entah sudah berapa lama dia lupa, tapi wanita yang dicintainya itu sekarang terkesan menghindarinya. Dan Ares benar-benar tidak menyukai hal itu. Tadi pagi, saat menemui Kenzhou, Ares sangat berharap bisa bertemu dengan Ana. Namun sialnya, Ana belum datang karena harus mengurusi Langit di rumah sakit.
Bicara soal Langit, Ares bersyukur beberapa hari yang lalu anak kecil dan lucu itu bisa dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawatan biasa. Memang belum sembuh total, tapi setidaknya kondisi langit sudah semakin stabil sebelum tindakan operasi yang akan dilakukan sebulan lagi. Dan sebelum operasi itu dilakukan, Ares benar-benar ingin mengungkap semua perasaannya pada Ana.
Begitu sampai di lorong ruang kerja Kenzhou, pemandangan pertama yang Ares lihat adalah Ana yang duduk manis di meja kerjanya. Memakai kemeja putih dengan blazer merah senada dengan celananya, dengan rambut di kuncir kuda, make up peach natural, yang membuat penampilannya hari ini benar-benar sempurna.
"Ana" mendengar suara Ares, Ana terkejut. Dia tidak menyangka pria yang dihindarinya selama beberapa hari terakhir ini muncul dihadapannya dengan senyum mengembang. "Kamu kemana aja sih An?? Telpon ku nggak kamu angkat, WA nggak dibales. Aku kerumah sakit, kamunya pulang. Aku kerumah, Rani bilang kamu dirumah sakit. Kamu sengaja hindarin aku ya??" Ana makin terkejut ketika dicecar banyak pertanyaan oleh Ares. Dia kikuk dan bingung mau menjawab apa.
"Emm.. aku..! Ah.. maaf mas. Aku harus menemui mbak Arin ada berkas yang harus ditanda tangani" Ana mengambil berkas asal dan mencoba menghindari Ares. Lagi.
Grepp
Sebuah pelukan dirasakan oleh Ana, membuat sekujur tubuhnya menegang. Ares tiba-tiba memeluknya sangat erat. Bahkan Ares tak segan menyusupkan wajahnya di ceruk leher Ana, membuat Ana merasakan sensasi berbeda dalam hatinya. Bahkan dia merasakan banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
"Ma.. Mas Ares ke.. kenapa? Tolong lepasin mas." Ana memberontak, meminta Ares untuk melepaskan pelukannya.
"Tidak akan"
"Mas.. lepasin. Kalau ada yang liat, Ana bakalan dianggap cewek nggak bener mas. Janda yang menggoda salah sayu pemilik perusahaan." Ana masih tetap meronta, namun kekuatan yang ia miliki tak seberapa dibanding kekuatan Ares. Ares tidak perduli, dia justru semakin dalam menyusupkan wajahnya keleher Ana. Bahkan Ares dengan berani menyesap dalam aroma leher Ana, yang membuat Ana terbakar gairah.
"Eghh..."Sebuah ******* kecil keluar dari bibir Ana, membuat Ana merutuki kebodohannya.
"Astaga Na.. malu-maluin" Ana memukul kepalanya berkali-kali, membuat Ares harus memegang tangan kanannya.
"Kenapa dipukul sih?? Nanti luka."
"Mas.."
"Jangan dengerin omongan orang An.. dengerin aja omongan aku. Lagian mereka tahu apa sih An tentang kita??".
Ares membalik tubuh Ana dan menatap dalam kearah bola matanya. Tatapan yang selalu bisa membuat Ana jatuh hati. Tatapan tajam namun juga hangat.
"Jangan menghindar terus An. Please..."
"Si..siapa yang menghindar mas. A.. aku cuma mau kasih berkas ini aja kok" elak Ana
"Masih nggak mau ngaku kalau kamu nghindarin aku?? Hari ini Arin cuti An.. nggak mungkin dia kekantor." Ana diam dan menatap Ares. Tiba-tiba, entah kenapa pikiran negatif kembali terlintas di benaknya.
"Sedekat apa sebenarnya hubungan Mas Ares sama Mbak Arin. Kenapa mas Ares sangat tahu tentang mbak Arin?"
__ADS_1
"Jangan selalu berpikiran negativ An.. Kalau ada yang mengganjal dihati kamu, lebih baik kamu bilang. Jangan dipendam dan jadi pertanyaan sendiri. Aku siap menjawab apapun pertanyaan kamu. An.. kita bukan lagi anak kecil atau remaja yang semua harus dijelaskan lewat kata-kata. Kita sudah dewasa An, yang mana tanpa kita saling bicara pun, seharusnya kita bisa memahami perasaan satu sama lain. Sekarang, kamu kerja lagi ya. Nanti sore, pulang nya aku jemput. Aku mau ngajak kamu kesuatu tempat. Ada sesuatu yang harus kamu tahu. Aku nggak mau kamu makin salah paham dan makin cemburu"
"Cemburu?? Me.. memangnya siapa yang cemburu dengan siapa?? Lagipula, memangnya saya siapa harus mencemburui mas ... " jawaban Ana terhenti ketika sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Ana. Hanya sebentar.
"Kamu siapa??" Ana masih speechless dengan ciuman Ares, sehingga mendengar pertanyaan Ares membuat dia hanya bisa mengangguk. "Kamu, Berliana Anisa. Calon istrinya Galaxy Antares."
"Hah... " Ana kembali shock, hampir saja bibir nya kembali disambar Ares. Namun dia lebih dulu menyadari "Isjh.. jangan cium-cium ya mas Ares."
"Sedikit Na.." rengek Ares
"Nggak ada cium-ciuman. Lebih baik mas Ares pulang. Saya mau kerja." Ana kembali duduk dimejanya, membuat sebuah ide jahil terlintas begitu saja dipikiran Ares.
"Katanya mau keruangan Arin?? Nggak jadi nih? Nanti berkasnya ditungguin lho. Kayaknya berkas Marketing itu penting."
"MAS ARESSSSSS..." Ares langsung berlari menghindari Ana yang baru saja akan melempar berkas tebal di depannya. Pria tanpan itu tak henti-hentinya tertawa. Dan Ana benar-benar malu.
"Haha... jangan marah-marah An... nanti cepet tua. Pokoknya jam 4 tunggu aku di Lobby. Aku udah izin sama ibu, buat ajak kamu pergi nanti malam" Ares langsung meninggalkan Ana. Sedang Ana yang ditinggal kembali bergelut dengan keraguan hatinya.
"Calon istri?? Bolehkah aku berharap?" lirih Ana
...***...
"Kok belum pulang Na? Nunggu jemputan??" Nara, receptionist AKA yang terkenal ramah lebih dulu menyapa Ana yang duduk di kursi yang tersedia di Lobby. Nara baru saja datang untuk giliran Shift malam.
"Aah..... iya menunggu teman ku." Ana mengangguk, lalu memandang jam tangannya. Sudah 10 menit tapi Ares belum juga datang, perasaannya jadi khawatir.
"Baiklah selamat menunggu. Kalau begitu, aku permisi dulu ya" pamit Nara
"Ah... iya Ra.. selamat bekerja" senyum Ana tulus.
Nara meninggalkan Ana ditempat duduknya, tak berapa lama dia mendengar bisik-bisik dari arah meja receptionist.
"Menunggu siapa dia??"
"Mana aku tahu, Wi"
"Tahu nggak Ra, denger-denger nih dia itu ada affair sama Tuan Ares. Salah satu pendiri perusahaan ini. Katanya dia menggoda pak Ares"
"Itu bukan urusanku, Wi. Biarkan itu jadi urusan Ana dan Tuan Ares. Lagi pula apasih untungnya ijut campur urusan orang lain?"
__ADS_1
"Tapi elo harus tahu Ra.. Dia itu seorang janda. Kenapa gitu Tuan Ares mau?? Padahal masih banyak perawan didunia ini" Dewi, wanita itu benar-benar tidak berhenti bergunjing dengan mulut pedasnya.
"Bisa nggak sih Wi.. kamu itu berhenti ngegunjing orang?? Lagian mereka yang punya hubungan kenapa kamu yang repot. Mending layanin itu tamu di depan elo" jawan Nara acuh
"Ishh..gue kan cuma cerita"
Ana menunduk dalam mendengar bisik-bisik 2 receptionist itu, meski hanya Dewi yang sejak tadi tak berhenti mengoceh. Namun tetap saja itu menyinggung hatinya. Dia tak pernah menggoda Ares. Ares yang dengan sukarela datang dan membantunya.
"Hei sayang.. apa lantai nya lebih tanpan dari aku??" Suara Ares terdengar ditelinga Arin, membuat wanita itu mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk.
"Aku sudah nungguin mas sejak tadi. Tapi mas nggak datang-datang. Aku jadi overthingking lagi" ! Ana kini mencebikkan bibirnya, membuat Ares menarik pipinya gemas.
"Awww...sakit mas " Arin memukul tangan Ares pelan.
"Hehe.. maaf telat sedikit. Tadi mampir dulu beli kue coklat kesukaan kamu. Buat nemenin kita selama perjalanan."
"Emangnya mas Ares mau ngajakin Ana kemana sih?? Ana nggak bisa pergi lama-lama mas, sekarang Langit sering banget nanyain aku."
"Cuma bentar. Besok siang kita sampai Jakarta lagi"
"Tapi aku nggak janji ya An" Ares meringis,
"Berarti kita keluar kota mas??" tanya Ana, dia jadi sedikit ragu.
"Udah ayo..! Kamu tenang aja, Langit udah sama mama. Aman pokoknya." Ares menggandeng tangan Ana. Namun Ana langsung melepasnya pelan.
"Mama?? Mas nyuruh mama ngerawat Langit?? Mas jangan ..."
"Udah An... jangan protes terus. Kita nggak jadi berangkat ini nanti" Ares kembali menggandeng tangan Ana dan menyeret nya keluar dari lobi. Tapi, sebelum benar-benar pergi...
"Dewi, saya harap mulai besok kamu bisa menjaga ucapan kamu. Jika sekali lagi saya dengar kamu mencampuri urusan saya maupun Ana. Terlebih jika saya sampai mendengar kamu menghina Ana, maka saat itu juga silahkan kamu keluar dari perusahaan ini."
Pernyataan Ares tak hanya sukses membuat Dewi menunduk takut, tapi juga sukses membuat Ana melotot tajam pada Ares.
"Mass..."
"Udah nggak usah protes. Ayo berangkat. Nanti kemaleman."
...■■■■■■■■...
__ADS_1