
Brakk...
Byurr..
"Anjirr.... " air minum yang baru saja akan masuk kedalam tenggorokannya terpaksa harus dia semburkan keluar. Membuat baju yang ia kenakan basah kuyup. "Elo apa-apaan sih Res?? Bisa nggak kalau buka pintu pelan-pelan? Jangan lupa, elo masih punya hutang engsel pintu sama gue. Ini elo mau ngrusak pintu lain lagi??" Arin mencak-mencak pada si biang rusuh yang lagi-lagi merusak pintunya.
Namun, mana Ares peduli. Bahkan tatapannya amat sangat tajam menusuk tepat di netra Arin.
"Biasa aja ngelihatinnya?? Kenapa?? Tumben pagi-pagi elo kesini?? Nggak ngapel nyonya Antares??" Arin sebenarnya tahu, sebentar lagi kemarahan pria itu akan meledak. Itu sebabnya Arin mengajak Ares terus bercanda.
"Hal bodoh apalagi yang udah elo lakuin buat Kenzhou?"
fyuh...
Arin menghela nafasnya pelan mendengar pertanyaan Ares yang begitu dingin.
"Bukan apa-apa."
"Bilang sama gue siapa yang ngebeli?? Biar gue beli balik. Elo nggak harus jual itu Rin, elo punya gue. Elo bisa pakai uang gue. Kenapa harus ditanggung sendiri"
"Ngebeli apa sih Res??"
"Siapa Rin,?? Siapa yang ngebeli rumah elo yang di Bali??"
"Emang siapa yang jual rumah di Bali sih.."
"Elo...."
"Ck... sok tahu. Tuh.. sertifikat rumah masih di laci. Kalau elo mau beli, gih beli. Lumayan uangnya buat gue shopping" Arin menjawab pertanyaan Ares tanpa melihat kearah pria itu. Dia mencoba menahan tangisnya. Karena mau dibuat bagaimanapun, Ares adalah orang yang paling peka terhadap dirinya.
Grep...
__ADS_1
Sebuah tarikan dan berakhir pelukan berhasil meluluhkan ketegaran Arin. Akhirnya, lagi-lagi dia menangis dipelukan Ares.
"Kenapa harus diam sih Rin?? Elo punya gue. Kita bisa cari jalan keluar, enggak dengan elo nyari jalan sendiri dan berakhir dengan elo ngejual aset-aset elo lagi"
"Gue cuma nggak mau Kenzhou kenapa-napa Res.. gue lebih milih nggak sama dia tapi dia baik-baik aja, dari pada gue harus ngelihat dia hancur padahal gue disampingnya. Apa yang gue lakuin, adalah hal yang memang harus dilakukan oleh seorang istri Res."
"Tapi mau sampai kapan Rin?? Sampai kapan?? Elo nggak bisa kayak gini terus."
"Res... gue akan berhenti kalau Kenzhou minta gue berhenti. Setidaknya, sampai Kenzhou bisa mengingat Aleesha. Gue nggak mau ketika Aleesha bangun, Kenzhou nggak inget sama dia"
"Rin..." Ares melepas pelukan Arin dan menatapnya dalam, "Boleh gue lakuin hal yang selalu diminta Jeff sama kita" Arin menggeleng keras. Dia nggak mau dan dia nggak bisa.
"Nggak Res.. elo nggak boleh ngelakuin itu! Elo bisa nyelakain Kenzhou. Gue nggak mau!" tolak Arin dengan segala kekhawatirannya.
"Rin .. kita harus maksa ingatan Kenzhou kembali. Kita juga nggak mungkin ngebiarin Aleesha terus dalam kondisi kaya gini. Udah 4th Rin, elo nggak kasihan ngelihat kondisi Aleesha. Gue tahu pemaksaan ini nantinya beresiko Kenzhou akan sakit, tapi ini demi Aleesha, demi rumah tangga kalian."
"No Res.. please jangan lakuin itu. Biar Kenzhou ingat sendiri Res. Please!!" Mohon Arin
"Terlambat Rin.. gue udah terlanjur maksa Kenzhou supaya mengingat semuanya. Gue nggak rela kalau elo harus nahan ini lebih lama lagi.. sudah 4th. Dan gue juga nggak bisa ngebiarin Aleesha menderita dengan semua alat bantu itu lebih lama lagi"
Tanpa sepengetahuan Arin, Ares terpaksa melakukan hal yang membuatnya akan dibenci semua orang, jika itu gagal. Memaksa ingatan Kenzhou kembali
...***...
Kenzhou termenung diatas ranjangnya. Dihadapannya ada banyak foto dan surat kabar. Airmatanya tanpa sadar turun membasahi pipinya. Surat kabar yang ada ditangannya bertanggal 10 Februari 2017. Itu sudah 4 tahun yang lalu.
"Ini semua.... kenapa gue baru nemuin ini semua?? Ya Tuhan, kenapa baru sekarang?? Kenapa gue baru ingat semuanya setelah 4 tahun lebih?? Sekarang gue harus gimana? Dan siapa yang udah ngirim ini semua ke gue??"
Ya...Kenzhou akhirnya mengingat semua masalalunya, tepatnya 3 hari yang lalu dia mengingat seluruh bagian kehidupannya secara komplit. Ini dikarenakan sebuah kiriman dari orang misterius. Tiga hari yang lalu dia mendapatkan kado misterius berisi surat kabar dan foto-fotonya bersama Arin dan Aleesha, putrinya. Surat kabar itu adalah surat kabar yang terbit saat kecelakaan terjadi pada dirinya 10 February 2017 lalu.
Dimana surat kabar itu menuliskan seluruh kronologi dan kondisinya beserta istri dan anaknya.
__ADS_1
"Arin.. maafin aku yank. Maafin aku yang bahkan nggak mengingat kamu selama 4 tahun ini. Kamu pasti sangat terluka dengan semua kelakusn aku. Aleesha, kamu dimana nak??" Kenzhou menghela nafasnya pelan, dadanya sesak.
"Aku harus menemui Arin, aku harus mengatakan semuanya. A...aku juga harus mencari dimana Aleesha. Kenapa foto Aleesha tidak ada dirumah ini?? Jangankan fotonya, satupun orang dirumah ini tidak ada yang pernah menyebut nama putriku. Apa Aleesha??? tidak..itu tidak mungkin. Aku yakin putriku masih hidup. Dan aku akan segera menemukannya. Aku harus pergi sekarang..." Kenzhou berdiri dari ranjangnya bersiap untuk pergi, namun..
Tok..Tok..Tok..
Kenzhou menangkap bunyi pintu diketuk, dengan terburu-buru dirinya menyembunyikan semua foto dan surat kabar di hadapannya kebawah ranjang tempat tidurnya.
"Ken,,, gue boleh masuk nggak??" Kenzhou hanya diam tak menjawab, dan kembali berpura-pura melamun di atas ranjangnya. Ares membuka pintu kamar dan menghela nafas pelan begitu melihat penampakan Kenzhou yang hanya melamun.
"Elo udah makan?? Udah minum obat??" Kenzhou hanya diam, tak ada satupun kata-kata yang keluar dari dalam bibirnya.
"Heh Ken... jangan lembek gini dong. Elo itu cowok, masak ditinggal cewek gitu aja cengeng. Frustasi. Kaya nggak ada cewek lain aja" Ares sudah jengah melihat kondisi Kenzhou.
Kenzhou menatap tajam Ares, namun Ares hanya tertawa acuh. "Biasa aja ngelihat gue~nya. Apa yang gue bilang kenyataan. Elo lembek"
"Cih.." Kenzhou mendengus "Elo harusnya ngaca. Bahkan elo nyaris bunuh diri gara-gara ditingal Ve. Sadar diri" jawab Kenzhou dingin. Ingin rasanya Kenzhou melempar bantal ke muka tengil Ares.
Mendengar ejekan Kenzhou, Ares hanya tersenyum, sebenarnya hatinya nyeri tapi dia justru melakukan hal ini untuk memancing Kenzhoj.
"Dua hal yang berbeda antara elo sama Gue. Kasus gue, gue ditinggal Ve sehari sebelum gue sama dia nikah. Jelas aja gue frustasi, elo kira biaya nikah murah?? Nah elo.. elo ditinggal nikah ketika elo sama si Maira udah putus. Ya.. hak dia mau nikah sama siapa donk. Kalian udah nggak punya hubungan apa-apa."
"Dia selingkuh saat masih sama gue. Elo kalau nggak tahu kronologinya nggak usah ikut komentar."
"Haha.. Ken.. emangnya kalau dia bilang, dia cinta sama cowok lain elo nggak bakal emosi. I know you Ken.. elo nggak suka di duakan. Dan waktu itu, Maira udah hamil duluan kan?? Emang elo mau tanggung jawab?? Mau gitu ikutan ngerawat anaknya Maira sama cowok lain? Gue yakin elo nggak bakal mau. Elo bukan Arin" Ares berbicara tanpa filter, biar saja sekalian. Tatapan tajam Kenzhou bahkan dia abaikan.
"Move on Ken.. C'mon.. masih banyak cewek yang nunggu elo diluar sana"
"Elo bener Res.. ada cewek yang nunggu gue sekarang. Dan gue juga sudah sangat merindukannya. Tapi, gue akan kembali dengan cara gue sendiri. Kalian yang nyembunyiin ini dari gue, maka gue juga akan kembali dengan sembunyi-sembunyi"
...■■■■■■■■■...
__ADS_1