The Secret Of My Heart

The Secret Of My Heart
Mantan Pacar


__ADS_3

Setelah mengantar mertua Arin pulang kerumahnya dengan selamat. Ares berniat untuk pulang kerumah sebentar untuk mengambil laptop. Setelahnya dia akan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Arin. Namun, baru setengah jalan dia melihat seorang gadis dengan masih menggunakan seragam sekolah sedang ditarik paksa oleh 3 orang pria. Yang kalau dilihat masih seumuran dengan gadis itu.


"Ck.. mau pura-pura masa bodoh, tapi.. ****.." Akhirnya Ares menghetikan mobilnya tidak jauh dari keempatnya.. Ketika baru turun dia bisa melihat bagaimana gadis itu memberontak.


"gue nggak mau!! lepasin gue!! lepas" gadis itu terus meronta meminta dilepaskan.


"Lepaskan dia!" Ares mengintrupsi kelakuan tiga pria muda semena-mena itu.


"Percuma kalian paksa. Dia nggak bakalan bisa masuk"


"Hegh, om.. nggak usah ikut campur urusan orang lain.. Urusi saja hidupmu sendiri. Atau om kepingin tidurnya dihangatkan sama Kirani??" Gadis itu nampak membulatkan matanya,


plak...


"Uhh.. itu pasti ngilu" batin Ares sambil memegang pipi kanannya sambil membayangkan kalau dia yang ditampar sekera


Tangan kanan Kirani yang bebas menampar salah satu dari ketiga pria yang menyeretnya.


"Jaga bicara elo Rey.. gue bukan cewek murahan"


Semua pria disana, kecuali Ares tertawa terbahak.


"Nggak usah munafik lah Ran.. melihat penampilan elo, gue nggak yakin elo masih perawan." ledek salah seorang pria itu sambil menatap jijik kearah Kirani. "Gimana om?? Mau make dia nggak? Tapi bayar mahal ya.. langka nih."


"Elo.." belum selesai Rani menuding, suara Ares sudah lebih dulu mengintrupsi.


"Ckk... saya bahkan nggak napsu ngeliat dia. Masih terlalu muda. Lebih baik kalian lepasin dia, dan kalian pergi dari sini sekarang" Ares sedikit mulai hilang kesabaran


"Dasar..anakk muda tidak tahu aturan"


"Hei..om-om..gue udah bilang urus saja urusan elo sendiri" pria bernama Rey itu kembali menyeret tangan Rani, namun kali ini tangan kanan Rani digenggam erat oleh Ares. Jadi sekarang Ares dan Rey saling tarik menarik. Namun, karena badan Ares lebih besar dan terlihat kuat, Kirani terlepas dari genggaman Rey dan berada dalam genggaman Ares.


"Masuk kemobilku, kunci dari dalam. Biar aku urus tiga bajingan ini" Kirani hanya mengangguk pasrah, dia benar-benar ketakutan. Dia sendiri tidak tahu, entah sejak kapan banyak orang menganggapnya murahan. Mungkin setelah dia memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi lebih seksi.


"Gue udah kasih kalian peringatan untuk pergi tapi kaliannya tetap nggak peduli. Kalian ngapain sih malam-malam kluyuran, masih bau kencur sudah aneh-aneh mau main ke club malam. Pakai acara bawa anak gadis orang. Ck.. pulang sana. Percuma... kalian nggak bakalan bisa masuk.." Ares terlihat tenang, meski dia tahu 3 pria muda didepannya ini menahan amarah. Amarah karena mangsa empuk mereka baru saja lepas dari terkaman.

__ADS_1


"Ckk...banyak omong nih om-om" mereka menyerang Ares bersama-sama, Ares menggeleng. Dia terpaksa harus melawan anak kecil yang bahkan usianya lebih muda dari adik bungsunya. Untung saja Ares pernah belajar Taekwondo. Satu persatu dari mereka tumbang,mereka jatuh babak belur.


"Aishhh...gue ini sudah 25th lebih, tapi harus meladeni anak-anak remaja seperti kalian. Kalian harus tahu satu hal, Keys adalah Club milik temen gue. Dan gue bisa pastikan, dia bakalan nendang kalian bahkan sebelum kalian masuk. Pulang sana! Belajar yang benar, orang tua kalian itu bekerja bukan untuk membiayai kalian hura-hura. Kira-kira gue mesti laporin kalian kepihak sekolah nggak ya??." Ares tersenyum miring, lalu pergi meninggalkan ketiganya yang masih dengan wajah shock, dan tidak percaya.


Blukk...


Ares masuk kemobil dan melihat gadis disampingnya. Gadis itu terlihat ketakutan, bahunya bergetar.


"Tenanglah, mereka tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang, katakan dimana rumahmu, ku antar pulang" Rani dengan pelan mengatakan dimana rumahnya, dengan tenang Ares melajukan mobilnya kealamat yang disebutkan Kirani.


"Ehnm .. kak.. terima kasih" setelah seperempat perjalanan diisi dengan keheningan, akhirnnya Kirani lebih dulu bersuara. Ucapan terima kasihnya membuat Ares menoleh dan tersenyum, tangannya mengacak rambut Kirani gemas, Kirani menunduk.


"Tidak perlu berterima kasih, orang hidup itu memang harus saling tolong menolong. Tapi, lain kali jangan pernah datang ketempat seperti itu lagi." Kirani mengangguk yakin, dia nampak sudah kapok.


"Kamu baru pulang sekolah??" Rani menggeleng, "Lalu kenapa kamu jam segini masih berkeliaran ditempat seperti itu dengan baju seragam?? Bagaimana kalau ada guru atau seniormu disekolah yang memergokimu. Kau bisa kena masalah." Kirani hanya menunduk dan memainkan 10 jari tangannya, dia merasa semakin bersalah.


"Kirani, boleh kakak kasih nasihat ke kamu sedikit??" Kirani mengangguk mendapat pertanyaan dari Ares. "Bisakah kamu merubah caramu berpakaian?? Kalau caramu berpakaian semacam ini, akan semakin banyak orang terutama lai-laki yang menganggap kamu adalah perempuan yang nggak benar.


Pakailah seragam yang sesuai dengan aturan yang telah di tentukan, dan rambutmu. Kamu terlihat aneh dengan rambut berwarna merah menyala ini. Kamu tidak perlu menjadi seperti orang lain hanya agar terlihat keren dimata orang lain. Kamu seharusnya belajar yang benar, agar bisa membanggakan orang tuamu. Orang tuamu akan sedih melihatmu seperti ini." Airmata Kirani menetes dia merasa bersalah, tidak hanya kepada orang tuanya tapi juga dirinya sendiri.


"Jangan menangis! Yang harus kamu lakukan sekarang adalah memperbaiki diri. Banggakan kedua orang tuamu"


"Hiks.... kak.."


"Panggil kak Ares aja"


"Kak.. terima kasih" Ares tersenyum dan secara reflek menarik Kirani kedalam pelukannya, memberikan kehanggatan dan ketenangan layaknya seorang kakak pada seorang adik.


"Sudah jangan lagi berterima kasih. Kakak lihat sebenarnya ini bukan keinginan kamu tampil semacam ini. Kamu hanya ingin disukai dan berharap akan banyak yang mau berteman denganmu." Kirani mengangguk. Ares lalu melepas pelukkannya dan menjalankan mobilnya kembali.


"Melihat dari seragam~mu, kamu murid SMA Bakti??"


"Iya kak."


"Kelas??"

__ADS_1


"Kelas 2 kak."


"Ohh.. adik kelasnya Rion berarti."


Kirani spontan menoleh ketika nama Rion disebut oleh Ares dengan sangat lugas dan enteng.


"Kenapa?? kamu kenal sama Rion??"


"Kakak kenal sama Kak Rion??"


"eh.. ditanya kok malah balik nanya. Kamu kenal Rion??" kirani mengangguk.


"Siapa yang nggak kenal sama kak Rion sih kak di sekolah. Dia terkenal banget. Banyak perempuan yang tergila-gila sama dia" jelas Kirani


"Oh ya... kamu juga termasuk??" Kirani diam, hal itu membuat menoleh kearahnya.


"Aku malah jadi perempuan paling beruntung karena sempay menjadi kekasihnya kak. Mungkin, aku yang kurang bersyukur hingga hubunganku dan kak Rion berakhir."


"Ka...kamu mantannya Rion??" Kirani mengangguk, Ares shock namun tetap melajukan mobilnya pelan. "berapa lama??"


"1,5 tahun kak. Baru putus sebulan"


"Rion mutusin kamu??" Kirani menggeleng,


"Kan tadi aku udah bilang kak, kalau mungkin akunya yang kurang bersyukur udah punya kak Rion."


"Kamu selingkuh?" Kirani menggeleng, "Lalu??"


"Kak Rion sangat baik kak, dia selalu ingetin aku untuk tampil apa adanya. Dia selalu bilang nggak peduli meski aku tidak berpenampilan modis seperti teman-teman yang lain. Tapi Aku menganggap nasehat kak Rion sebagai larangan. Aku merasa kak Rion mengekang ku, jadi kami selalu bertengkar. Puncaknya bulan lalu, kak Rion mergokin aku ngrokok. Dia marah, tapi aku makin marah. Akhirnya kami putus" jelas Kirani


"Kamu ngerokok?"


"Cuma sekali pas berantem itu kak. Baru nyoba sedikit. Sekarang udah nggak pernah."


"Astaga... " Ares speechless, tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


...■■■■■■■■■...


__ADS_2