Throwback

Throwback
Sebuah penjelasan


__ADS_3

Aslin yang benar-benar kesal akan tingkah dan juga perkataan Ansel yang begitu cuek, lantas terlihat melangkahkan kakinya meninggalkan Ansel begitu saja. Hanya saja ketika langkah kakinya sudah melangkah sebanyak beberapa kali Aslin terlihat menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Sial, jika aku marah seperti ini... Lalu bagaimana caraku untuk pulang?" ucap Aslin sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Ah... Au ah... Bodo amat!" pekik Aslin pada akhirnya sambil kembali melangkahkan kakinya hendak berlalu pergi dari sana.


Disaat langkah kaki Aslin hendak melangkahkan kakinya kembali berlalu pergi dari sana, sebuah tangan yang kokoh lantas menarik tangannya yang langsung membuat langkah kaki Aslin kembali terhenti dengan seketika. Aslin yang tak menyangka bahwa itu adalah Ansel lantas terlihat sedikit terkejut begitu melihat seseorang yang menarik tangannya adalah Ansel seseorang yang baru saja ia benci karena perkataannya yang tidak mengenakkan itu.


"Tunggu sebentar..." ucap Ansel kemudian sambil menggenggam tangan Aslin dengan erat.


"Apa lagi yang hendak kau katakan? Apa kau ingin menambah kata-kata mutiara lainnya lagi?" ucap Aslin dengan nada yang menyindir, membuat Ansel langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar ucapan Aslin barusan.


Mendengar perkataan ketus dari Aslin barusan, lantas langsung membuat Ansel menghela napasnya dengan panjang. Dengan perlahan Ansel mulai melepaskan genggaman tangannya yang melingkar dengan erat ke tangan Aslin, membuat Aslin langsung mengambil posisi bersendekap dada sambil menatap ke arah Ansel saat ini.


"Baiklah aku minta maaf jika kata-kata ku tadi telah menyinggung mu, hanya saja cobalah untuk berpikir lebih realistis lagi. Semua hal yang ingin kita rubah semuanya sudah berhasil kita rubah, bisakah sekarang kita untuk hidup bahagia dan lebih menghargai sekitar? Kita sampingkan segala hal tentang sisi negatif dari jalan yang kita ambil dan mencoba untuk hidup lebih baik lagi, bukankah dengan begitu kita bisa melangkah dengan tenang?" ucap Ansel mencoba untuk menjelaskan pemikirannya kepada Aslin.


Namun Aslin yang mendengar perkataan Ansel barusan tentu saja tidak bisa menerimanya begitu saja. Bagaimanpun juga hal ini benar-benar sebuah kesalahan dan Aslin sama sekali tidak ingin hidup dari perasaan bersalah yang memenuhi hatinya.


"Kau benar-benar sudah tidak waras! Bagaimana bisa kau hidup dengan tenang tanpa rasa bersalah sama sekali? Kau benar-benar sesuatu." ucap Aslin dengan tatapan yang tidak mengerti ke arah Ansel.


Sedangkan Ansel yang mendengar perkataan Aslin barusan semakin bingung harus menjelaskan seperti apa lagi agar Aslin bisa mengerti sudut pandangnya. Diusapnya raut wajahnya dengan kasar kemudian kembali menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang menelisik.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana lagi caranya menjelaskan kepadamu agar kamu mengerti posisiku, tapi cobalah berpikir lagi... Bukankah kamu dengan begini bisa menyelamatkan temanmu Elsa? Jika kamu tidak datang ke waktu masa satu tahun yang lalu, apakah mungkin temanmu masih ada hingga saat ini? Cobalah berpikir lebih jernih lagi Asl..." ucap Ansel dengan nada yang terdengar frustasi membuat Aslin langsung terdiam dengan seketika begitu mendengar ucapan dari Ansel barusan.


Aslin terdiam di tempatnya sambil membenarkan posisi rambutnya ke arah belakang, Aslin mencoba untuk berpikir dengan jernih.


"Baiklah.. Aku akan coba untuk mengerti tentang pemikiran mu itu! Tapi untuk bersikap tenang dan melanjutkan hidup dengan lebih baik lagi, aku sama sekali tidak setuju akan hal itu!" ucap Aslin dengan raut wajah yang datar membuat seulas senyuman tipis lantas terlihat jelas di wajah Ansel.


"Oke.. Oke.. Aku tidak akan memaksa mu lagi." ucap Ansel kemudian.


***


Sementara itu di salah satu Cafe di mana tempat Elsa bekerja, seorang pelayan Cafe bernama Reno terlihat melangkahkan kakinya membawa nampan berisi minuman. Dengan langkah kaki yang perlahan Reno terlihat mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah meja dimana Arkan dan juga istrinya tengah dinner malam itu.


"Permisi..." ucap Reno sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja.


Mendapat perlakuan tersebut tentu saja Istri Arkan langsung terkejut seketika, sedangkan Arkan terlihat ikut bangkit dari kursinya begitu air di gelas tersebut mengenai baju Istrinya.


"Saya benar-benar minta maaf..." ucap Reno sambil berusaha hendak mengelap baju milik Istri Arkan.


Hanya saja niat baik Reno sama sekali tidak dianggap, malah membuat Istri Arkan marah karena mengira bahwa Reno hendak menyentuh bagian-bagian sensitif miliknya.

__ADS_1


Plak..


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah Reno yang lantas membuat situasi di Cafe tersebut kian memanas, sedangkan Arkan yang juga beranggapan sama dengan istrinya begitu melihat sang Istri menampar Reno yang Arkan lakukan lantas mencengkram kemeja Reno kemudian memukul pipi Reno dengan keras, membuat beberapa pengunjung yang melihat kejadian tersebut langsung terkejut dengan seketika.


"Maafkan saya pak.. Maafkan saya pak..." ucap Reno secara berulang kali.


Namun Arkan yang terlanjur marah lantas memukuli Reno dengan membabi buta tanpa ampun maupun jeda, hingga raut wajah Reno memar akibat pukulan dari Arkan yang berulang kali tersebut.


"Dasar kurang ajar! Berani sekali kau melakukan itu kepada Istri ku ha?" pekik Arkan dengan nada yang kesal sambil terus memukuli Reno berulang kali.


Reno yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa pasrah tanpa bisa menyerangnya balik untuk membela dirinya. Sedangkan para pengunjung Cafe yang tengah berada di sana dan menyaksikan segala kejadiannya hanya bisa menatapnya dengan kasihan tanpa berani ikut campur ataupun memisah keduanya itu.


Reno benar-benar habis di pukuli oleh Arkan yang terus membabi buta dan tanpa ampun sama sekali melakukannya kepada Reno. Sampai kemudian dari arah dapur Elsa yang mendengar ribut-ribut lantas terlihat keluar dari dalam untuk melihat apa yang tengah terjadi di depan hingga mengundang banyak perhatian pelanggan.


"Ada apa? Mengapa ramai sekali?" ucap Elsa bertanya pada salah satu rekannya yaitu Tika.


Tika yang mendengar sebuah suara berasal dari Elsa lantas langsung melirik ke arah Elsa sekilas kemudian menunjuk ke arah depan dimana terlihat Arkan yang hingga kini masih menghajar Reno.


"Reno di pukuli habis-habisan oleh pengunjung hanya karena menumpahkan minuman yang ia bawa di baju Istrinya." ucap Tika dengan raut wajah yang bergidik ngeri namun berhasil membuat Elsa terkejut ketika mendengar perkataan dari Tika barusan.

__ADS_1


"Reno? Lalu mengapa kau hanya diam saja? Sial!" pekik Elsa kemudian sambil berlarian membelah kerumunan pengunjung saat itu.


Bersambung


__ADS_2