Throwback

Throwback
Tetap akan terjadi


__ADS_3

Di sofa ruang tamu


Malam itu karena Aslin yang menginap di Apartemennya, pada akhirnya Ansel memutuskan untuk tidur di ruang tamu sedangkan Aslin di kamar. Bayangan tentang Paradoks yang dibicarakan oleh Aslin benar-benar membuat Ansel terngiang-ngiang. Sambil menatap ke arah langit-langit ruang tamunya Ansel memikirkan segala hal yang berkaitan tentang teori tersebut, membuat helaan napas lantas terdengar menggema di telinganya saat itu.


"Jika memang sebuah Paradoks ada, lalu mengapa itu harus terulang di antara kami ber sepuluh? Mengapa aku tetap merasa ada yang aneh dengan segala hal yang terjadi saat ini?" ucap Ansel sambil terus menatap ke arah langit-langit kamarnya.


Ansel yang tak kunjung menemukan jawabannya lantas terlihat mulai bangkit dari tidurnya kemudian mengambil posisi bersandar di sofa ruang tamu tersebut. Pikirannya kali ini benar-benar bercabang seakan tidak tahu harus melangkah di jalan yang mana. Sampai kemudian Ansel yang terpikirkan dengan ruangan kaca di Mansion itu, lantas sedikit tersentak sekaligus bertanya-tanya tentang ruangan tersebut.


Ansel yang sudah mulai frustasi karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, lantas terlihat mulai bangkit dari posisinya kemudian mengambil jaket kulit miliknya dan tak lupa kunci mobil. Malam ini juga Ansel harus mendapatkan kunci dari segala hal bagaimana pun caranya.


"Sepertinya aku memang harus pergi ke sana." ucap Ansel kemudian sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Apartemennya.


***


Suasana di dalam mobil


Setelah berkendara selama beberapa menit Ansel nampak menghentikan laju mobilnya sejenak. Ditatapnya jalanan yang bercabang dengan pandangan yang menelisik sekaligus bertanya-tanya jalanan mana yang akan ia lewati dan ambil saat ini. Ditatapnya kedua jalanan tersebut sambil mengingat-ingat kemana mobil van yang menjemput para penjelajah waktu pergi menuju ke Mansion tersebut.


"Jika aku tidak salah sepertinya aku harus mengambil jalur sebelah kanan saat ini." ucap Ansel kemudian sambil mulai melajukan mobilnya mengambil jalur sebelah kanan berharap dengan begitu ia mengambil keputusan yang tepat.


Dengan perlahan Ansel mulai mengikuti instingnya mengambil jalur sebelah kanan. Sambil menatap ke arah sekitaran Ansel mulai mengingat-ingat beberapa tempat yang ia lewati ketika berada di mobil van menuju ke arah Mansion.

__ADS_1


Beberapa menit berkendara Ansel yang tak asing dengan beberapa tempat yang saat ini ia lewati lantas tersenyum dengan lebar, Ia benar-benar yakin bahwa Mansion milik Amara berada tidak jauh dari sini.


"Aku menemukannya..." ucap Ansel sambil menghentikan laju mobilnya tak jauh dari sebuah bangunan mansion yang begitu luas dan tentu saja tak asing bagi Ansel.


Ansel yang berhasil sampai di lokasi mansion milik Amara, lantas tampak memperhatikan sekitar mencoba untuk mencari titik aman agar ia bisa masuk ke dalamnya. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada pagar di sebelah utara bangunan Mansion tersebut yang sepertinya tidak ada penjagaan di sana.


"Sepertinya aku bisa masuk dari sebelah sana." ucap Ansel kemudian dengan nada yang yakin.


**


Setelah membuat keputusan Ansel kemudian mulai terlihat melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil. Dengan langkah yang perlahan Ansel mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pagar di sebelah utara dan bersiap untuk naik ke atasnya.


Bruk...


"Ada apa?" tanya sebuah suara yang terdengar tak jauh dari posisi Ansel mendarat.


"Aku seperti mendengar sesuatu benda jatuh dari arah sini." jawab sebuah suara lainnya yang lantas membuat beberapa langkah kaki mulai terdengar berdatangan ke arah dimana Ansel berada.


"Sialan!" ucap Ansel dalam hati.


Meow....

__ADS_1


Disaat situasi sedang tegang karena mengira bahwa dirinya ketahuan, seekor kucing terlihat melompat dari arah dimana Ansel berada. Membuat para bodyguard tersebut lantas berdecak dengan kesal ketika mengetahui bahwa suara yang tadi ia dengar ternyata berasal dari seekor kucing.


"Sepertinya dewi fortuna sedang berada bersama dengan ku." ucap Ansel ketika melihat beberapa bodyguard tersebut terlihat mulai melangkahkan kakinya pergi menjauh dari sana.


Beberapa menit menunggu hingga para bodyguard tersebut pergi dari sana, Ansel mulai terlihat bangkit perlahan dari posisinya. Diusapnya beberapa bagian bajunya yang terlihat kotor karena terkena tanah tepat ketika dirinya jatuh tadi namun sama sekali tak menyurutkan niatannya untuk masuk ke dalam.


Sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan memastikan semuanya aman, Ansel mulai melangkahkan kakinya secara mengendap-endap menuju ke arah Mansion milik Amara. Dengan langkah kaki yang perlahan Ansel mulai melipir ke arah samping dan hendak masuk melalui celah-celah bagian samping Mansion tersebut.


Ditatapnya area taman sebelah samping mansion milik Amara, dengan langkah kaki yang mengendap-endap menuju ke arah sana. Sampai kemudian disaat langkah kaki Ansel hampir tiba di taman samping sebuah percakapan yang berasal dari Amara dan seorang Pria lantas membuat langkah kaki Ansel terhenti seketika.


Ansel yang melihat interaksi keduanya lantas langsung mengambil posisi bersembunyi di balik beberapa tanaman rimbun yang ada di area samping sambil mencuri dengar percakapan keduanya. Ansel yang tidak terlalu jelas dengan sosok Pria yang sedang berbicara dengan Amara saat ini, lantas mulai mempertajam pandangannya untuk melihat siapa pemilik suara itu sebenarnya.


"Siapa Pria yang saat ini bersama dengan Amara? Sialan... Mengapa dia harus memakai topi dan juga syal di lehernya sih? Aku kan jadi tidak bisa melihat wajahnya." gerutu Ansel dengan nada yang kesal sambil terus melihat ke arah Pria tersebut dengan tatapan yang penasaran.


"Apa kau sudah melihat perbedaan apa yang terjadi ketika kau mengambil keputusan yang berbeda?" ucap Pria tersebut yang lantas membuat Ansel langsung mengernyit ketika mendengarnya secara diam-diam.


"Cara? Cara apa yang sedang keduanya bicarakan? Apakah ini berkaitan dengan segala hal yang terjadi belakangan ini? Mengapa pembicaraan mereka terdengar begitu mencurigakan?" ucap Ansel dengan raut wajah yang bertanya-tanya akan arah dari pembicaraan Amara dan juga Pria tersebut.


Disaat Ansel tengah di landa kebingungan akan perkataan dari Pria itu, lain halnya dengan Amara yang terlihat diam saja ketika pertanyaan itu terlontar keluar dari mulut Pria tersebut. Helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus keluar dari mulut Amara, membuat Pria itu lantas mengernyit ketika mendengar helaan yang berasal dari Amara barusan.


"Aku rasa tidak ada bedanya meski kau mencoba untuk mengubah alur ceritanya setiap tahun? Segala hal yang sudah menjadi takdir akan tetap terjadi walau kau berusaha untuk merubahnya." ucap Amara dengan nada yang datar membuat raut wajah Pria tersebut tentu saja langsung berubah.

__ADS_1


"Kau..."


Bersambung


__ADS_2