
Bruk...
"Siapa kau!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Ansel terhenti di tempatnya ketika ia baru saja menutup pintu ruangan tersebut.
Ansel yang mendengar sebuah suara tak asing di telinganya tentu saja langsung tersenyum sambil perlahan-lahan mulai berbalik badan menatap ke arah sumber suara. Tanpa melihat secara langsung pun Ansel jelas tahu bahwa suara itu adalah milik Amara, membuatnya begitu bahagia karena Ansel tidak salah dalam memasuki ruangan untuk bertemu dengan Amara.
"Ansel! Bagaimana kamu bisa masuk kemari?" pekik Amara dengan raut wajah yang terkejut begitu melihat Ansel berbalik badan dan melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan mu saat ini, jadi ku mohon berikan aku waktu sebentar saja, aku janji tidak akan lama." ucap Ansel dengan nada yang memohon karena ia yakin Amara pasti akan langsung mengusirnya apalagi ketika ia datang tanpa izin dan langsung masuk ke dalan rumahnya.
"Pergi kamu sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeret mu keluar dari sini." ucap Amara kemudian yang lantas membuat Ansel bingung harus bagaimana menghadapi Amara yang terus mengusirnya seperti ini.
"Ku mohon beri aku waktu beberapa menit saja, semua yang terjadi diantara kami benar-benar saling berhubungan dan terkesan mustahil, tidakkah kamu ingin menjelaskan sesuatu kepada kami? Apapun itu setidaknya yang membuat kami bisa merasa lebih tenang!" ucap Ansel masih dengan nada yang memohon namun dengan setengah memaksa.
Mendengar perkataan Erzhan barusan lantas membuat Amara terdiam seketika. Sesekali Amara melirik ke arah atas beberapa kali yang lantas membuat Ansel bertanya-tanya apa yang sedang ditatap oleh Amara saat ini, namun ketika Ansel hendak menoleh ke arah belakang tangan Amara langsung menghentikan gerakan Ansel agar tidak sampai menoleh ke arah belakang, membuat Ansel semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Amara saat ini.
"Apakah ada kamera pengawas di atas?" ucap Ansel namun kali ini dengan nada yang berbisik berusaha sekecil mungkin agar tidak bisa di tangkap oleh kamera pengawas tersebut.
Mendapat pertanyaan tersebut Amara lantas mengedipkan kelopak matanya sebanyak dua kali, membuat Ansel lantas bertanya-tanya apa maksud dari kedipan mata Amara.
"Apa warna bajuku hijau?" ucap Ansel kemudian dengan nada yang berbisik seakan sengaja untuk mengetes Amara.
__ADS_1
Amara yang kembali mendapat pertanyaan lantas mulai mengedipkan kelopak matanya sebanyak dua kali meski ia tidak terlalu yakin akan pertanyaan aneh dari Ansel barusan, yang membuat Ansel lantas menjadi mengerti jika kedipan mata tersebut berarti "Iya".
"Baiklah, yang kamu lakukan hanya cukup mengedipkan kelopak matamu saja tak perlu yang lain." ucap Ansel dengan nada yang berbisik membuat Amara kembali mengedipkan matanya.
Melihat persetujuan dari Amara barusan lantas membuat Ansel terdiam seketika seakan mencoba memikirkan pertanyaan apa yang akan ia tanyakan kepada Amara saat ini.
"Apakah kami bersepuluh saling berhubungan hingga kamu menyatukan kami dalam satu perjalanan waktu?" ucap Ansel dengan pertanyaan asal, Ansel bahkan tidak terlalu yakin jika pertanyaannya ini benar-benar terjadi. Hanya saja perkataan Aslin beberapa hari yang lalu benar-benar mengusik pikirannya.
Amara yang mendengar pertanyaan dari Ansel barusan lantas melirik sekilas ke arah kamera pengawas yang ada di atas kemudian menatap ke arah Ansel dan mulai mengedipkan kelopak matanya sebanyak dua kali. Melihat jawaban tersebut tentu saja membuat Ansel terkejut seketika, ia benar-benar tidak menyangka bahwa pemikiran Aslin selama ini adalah benar adanya. Awalnya Ansel hanya mengira bahwa segala yang dikatakan oleh Aslin hanyalah sebuah praduga, namun ketika mendapat jawaban langsung dari Ansel kini ia benar-benar yakin bahwa segala hal yang terjadi belakangan ini merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan antara satu sama lain.
"Bagaimana bisa?" ucap Ansel yang tidak mengerti sama sekali akan misteri perjalanan waktu ini yang kian menjadi semakin rumit baginya.
Amara yang mengetahui bahwa Ansel masih bingung dengan apa yang ia katakan, lantas langsung melangkahkan kakinya ke arah meja dan mengambil sesuatu di sana. Amara tampak menggambar sesuatu di atas selembar kertas, membuat Ansel semakin kebingungan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Amara saat ini.
"Apa ini? Rantai makanan?" ucap Ansel dengan tatapan yang bingung seakan tidak mengerti akan selembar kertas yang diberikan oleh Amara barusan.
"Pergilah sekarang dan cermati baik-baik maka kamu akan menemukan jawabannya." ucap Amara kemudian sambil mengisyaratkan kepada Ansel agar segera berlalu pergi dari sana ketika Amara melihat kamera pengawas di atas terlihat sedikit bergerak seperti tengah mencurigai sesuatu.
"Baiklah aku akan pergi..." ucap Ansel kemudian yang mengerti akan kode yang diberikan oleh Amara barusan dan langsung bergegas pergi dari sana.
****
__ADS_1
Rumah kontrakan Aslin
Setelah kejadian tentang Reno yang di gelandang ke kantor polisi, Aslin memutuskan untuk membawa Elsa ke rumah kontrakannya. Keheningan kembali terjadi di sana yang lantas membuat suasananya begitu terasa tidak mengenakkan karena Elsa yang sedari tadi lebih banyak diam tanpa bersuara sama sekali.
"Apa kamu sudah lebih baik? Aku yakin Arya pasti bisa menyelamatkan Reno, kamu jangan khawatir ya Els." ucap Aslin mencoba untuk kembali menenangkan Elsa agar tidak terlalu memikirkan segalanya.
Mendengar perkataan dari Aslin barusan lantas membuat Elsa langsung mendongak menatap ke arah Aslin, digenggamnya tangan Aslin dengan erat membuat seulas senyuman lantas terbit dari wajah Aslin begitu mendapat perlakuan tersebut.
"Terima kasih banyak." ucap Elsa kemudian dengan tatapan yang penuh rasa terima kasih terhadap Aslin.
"Tak perlu sungkan Els, bukankah itu yang menjadikan kita berdua begitu dekat?" ucap Aslin sambil memeluk tubuh Elsa dengan erat.
Keduanya lantas sama-sama terhanyut dalam sebuah kehangatan yang sudah lama tidak mereka berdua rasakan. Aslin yang bersyukur bisa kembali memutar waktu dan menyelamatkan Elsa, kini lebih mementingkan Elsa dan juga menghargainya. Ada beberapa hal yang Aslin sesalkan dahulu namun pada akhirnya bisa ia tebus setelah ia memutar ulang waktunya ke masa satu tahun yang lalu.
"Terima kasih banyak Aslin, aku sungguh bersyukur memiliki mu..." ucap Aslin kemudian.
Disaat keduanya tengah terhanyut dalam sebuah perasaan saling menguatkan, sebuah deringan ponsel milik Aslin lantas mulai terdengar dan membuat Aslin langsung melepas pelukannya secara perlahan. Aslin yang melihat nama Ansel tertera jelas pada layar ponsel miliknya, langsung bangkit dari posisinya dan menggeser ikon berwarna hijau di sana.
"Ansel, ada apa?" ucap Aslin sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Elsa.
"Ansel?" ucap Elsa dengan nada yang terkejut begitu mendengar sebuah nama terucap jelas di mulut Aslin saat itu.
__ADS_1
Bersambung