
"Aaa" teriak Aslin yang terkejut akan isi dari paket yang baru saja ia terima.
Ansel yang saat itu kebetulan sedang berada di belakang Aslin, lantas langsung berlarian mendekat ke arah dimana Aslin berada tepat ketika mendengar suara teriakan yang berasal dari Aslin. Ansel benar-benar penasaran apa yang membuat Aslin hingga berteriak dengan histeris, membuatnya lantas langsung menatap ke arah Aslin dengan raut wajah yang penasaran baru setelah itu menatap ke arah paket yang tadi dilempar oleh Aslin. Di mana di dalam paket tersebut berisi bangkai tikus yang sudah berbau busuk disertai dengan foto Aslin yang terdapat tulisan "Mati" di sana, membuat Ansel yang melihat hal tersebut lantas langsung memeluk tubuh Aslin dengan erat seakan mencoba untuk menenangkan Aslin saat ini.
***
Apartment Ansel
Setelah kejadian tersebut Ansel berusaha untuk mencari tahu pelaku sekaligus pengirim paket tersebut, namun setelah mencari tahu dan melihat rekaman kamera pengawas Ansel sama sekali tidak menemukan titik terang atau bahkan wajah pengirim paket tersebut.
"Kami minta maaf atas ketidaknyamanannya, kami berjanji akan mengusut dalang di balik pengiriman paket tersebut." ucap salah satu petugas di Apartment tersebut.
"Terima kasih banyak atas bantuannya Pak, saya harap masalah ini akan segera selesai." ucap Ansel sambil menyalami petugas tersebut.
"Kami permisi dulu Pak, selamat sore..." ucap petugas tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dan meninggalkan unit Apartment Ansel.
Setelah kepergian petugas tersebut dari unit Apartemennya, Ansel terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk dan menghampiri Aslin yang saat itu tengah duduk termenung di ruang tamu.
Ansel mengambil duduk tepat di sebelah Aslin kemudian menggenggam tangannya dengan lembut seakan mencoba untuk menenangkan Aslin saat ini. Ansel tentu tahu jika Asli saat ini sedang ketakutan akan sesuatu yang baru saja terjadi kepadanya. Membuat Aslin yang menyadari genggaman tangan Ansel kepadanya, lantas berusaha untuk melepasnya kemudian menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Ansel, membuat Ansel lantas menghela napasnya dengan panjang begitu melihat reaksi Aslin ketika ia menggenggam tangannya.
Saat ini dalam pikiran Aslin benar-benar hanya ada bermacam cara agar membuat kehidupannya kembali tenang. Elsa bahkan sudah menuduhnya merebut Ansel dari dirinya. Jika saat ini keduanya benar-benar menjalin hubungan, bukankah itu artinya tuduhan Elsa kepadanya semua benar?
"Apa pengirim paket tersebut ketemu?" tanya Aslin kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Mereka semua sedang mencari siapa pengirim paket tersebut, rekaman kamera pengawas tidak dapat menangkap wajahnya dengan jelas. Kamu tenang ya jangan terlalu dipikirkan kita cari solusinya bersama-sama." ucap Ansel dengan nada yang lembut berharap dengan begitu bisa menenangkan Aslin saat ini.
Hanya saja Aslin bukan lagi anak kecil yang bisa diberikan permen ketika ia merasa sedih, mendengar perkataan Ansel barusan sama sekali tak membuat rasa takut di dalam dirinya berkurang sedikitpun. Membuat Aslin lantas langsung mengusap raut wajahnya dengan kasar sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.
"Aku tahu kamu hanya ingin menenangkan ku, tapi aku rasa itu tidak akan berhasil karena saat ini pikiran ku dipenuhi dengan segala hal negatif yang mungkin saja akan terjadi kepadaku." ucap Aslin dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Apa yang kamu khawatirkan? aaku bahkan selalu berada di sisi mu. Selama aku ada, aku tidak akan membiarkan mu terluka sedikit pun." ucap Ansel dengan raut wajah yang yakin.
Entah mengapa melihat Aslin sedih seperti ini membuat hati Ansel menjadi tidak tenang. Tidak ada yang pernah tahu apa yang bisa terjadi ke depannya, tapi Ansel berani menjamin jika ia akan melindungi Aslin dari kematian bagaimana pun caranya.
"Jangan membujuk ku saat ini, aku bukanlah anak kecil An." ucap Aslin sambil bangkit dari posisinya.
Aslin kemudian meninggalkan Ansel begitu saja dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Pikirannya saat ini bahkan benar-benar kacau, Aslin sungguh takut jika ia adalah korban selanjutnya yang akan tewas dan mengantarkan nyawanya, membuat Aslin sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
Suara pintu yang ditutup cukup keras lantas membuat Ansel hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ansel jelas tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran Aslin, Ansel bahkan tidak bisa melarang segala pemikiran buruk yang saat ini terus berputar di kepala Aslin. Jujur saja Ansel benar-benar takut jika sampai Aslin memanglah korban selanjutnya ayang akan menjemput kematiannya. Jika memang hal itu benar-benar terjadi, Ansel sungguh tidak siap jika harus kehilangan Aslin saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyelamatkan mu As? Jujur aku bahkan juga takut jika hal itu benar-benar terjadi kepadamu." ucap Ansel sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya namun Ansel akan mencoba untuk melindungi Aslin bagaimanapun caranya. Meski hal itu mustahil Ansel akan tetap mencoba untuk melakukannya dan menyelamatkan Aslin dari bahaya.
***
Sementara itu di kediaman Rani, terlihat Rani baru saja pulang dari bekerja. Rani mengusap area tengkuknya yang terasa sedikit kaku karena terlalu lama bekerja dalam posisi menunduk. Sambil melangkahkan kakinya memasuki area rumahnya, Rani mulai terus membawa langkah kakinya menuju ke area dapur dan mengambil minum di sana.
__ADS_1
Glegek.. Glegek..
"Ah benar-benar menyegarkan." ucap Rani sambil meletakkan gelas tersebut di atas meja makan.
Rani yang memang sudah lelah sehabis pulang bekerja, lantas mulai kembali membawa langkah kakinya hendak menuju ke arah kamarnya untuk segera pergi mandi kemudian tidur. Diputarnya handel pintu kamarnya dengan perlahan, namun sebuah bunyi kaca yang pecah lantas mengejutkan Rani yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Suara apa itu?" ucap Rani dengan raut wajah yang penasaran.
Rani yang penasaran akan suara tersebut kemudian mulai mengambil langkah bergegas menuju ke arah depan untuk melihat suara apa barusan.
**
Ruang tamu
Tepat ketika langkah kaki Rani sampai di area ruang tamu kediamannya, pandangan mata Rani terhenti pada kaca jendela yang berada tepat di sebelah kiri pintu di mana kaca tersebut nampak berlubang karena terkena sesuatu benda yang keras.
"Siapa yang melakukannya? Benar-benar sialan!" ucap Rani dengan raut wajah yang kesal begitu melihat kaca jendelanya berlubang.
Dengan raut wajah yang kesal ketika melihat hal tersebut, Rani kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kertas yang dibungkus di area luar batu besar yang berada tak jauh dari posisinya berada saat ini.
"Apa itu?" ucap Rani sambil membawa langkah kakinya mendekat ke arah benda tersebut.
Bersambung
__ADS_1