Throwback

Throwback
Aku tidak ingin mati!


__ADS_3

"Semoga saja perasaan ku tidaklah menjadi kenyataan." ucap Ansel sambil mempercepat laju mobilnya membelah jalanan Ibukota malam itu.


Di saat mobil yang dilajukan oleh Ansel saat itu melaju dengan kecepatan yang mendekati tinggi, sebuah mobil mendadak melaju dari arah berlawanan dan menyalakan lampu dem cukup terang. Hal tersebut membuat Ansel terkejut dan dengan spontan membanting setirnya ke arah kiri hingga membuatnya menabrak sebuah pohon besar yang berada di persimpangan jalan.


Brak...


Suara tabrakan itu terdengar cukup keras hingga membuat kap mobil milik Ansel lantas terbuka dengan lebar dan mengeluarkan asap. Beruntungnya sebuah safety yang muncul tepat di area setir mobilnya, membuat Ansel tidak sampai terluka sehingga hanya memunculkan beberapa luka ringan saja di area kepala dan juga lengannya.


Ansel nampak mengerjapkan kelopak mata secara perlahan sambil memegang area kepalanya yang terlihat sedikit berdarah karena tabrakan tersebut. Dengan gerakan yang perlahan Ansel mencoba untuk keluar dari dalam mobil melalui pintu pada kursi penumpang yang di sebelahnya karena pintu di sisi pengemudi tidak bisa di buka saat itu.


Sambil terlihat sedikit sempoyongan, Ansel yang berhasil keluar dari sana lantas langsung melangkahkan kakinya dan mengambil posisi duduk tepat di area gang kecil di sebelah ruko yang tak jauh dari lokasi kecelakaan tersebut.


Sambil berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya, Ansel kemudian merogoh ponsel yang berada di saku celananya dan mencoba untuk mendiami nomor Aslin di sana. Namun sayangnya hingga panggilan ke berapa kalinya Aslin sama sekali tak menjawab panggilan teleponnya, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Ansel saat itu.


"Ayo angkat teleponnya As, kamu ke mana sebenarnya? Mengapa kamu tidak mengangkatnya?" ucap Ansel dengan raut wajah yang penuh khawatir.


Di saat Ansel tengah mencoba untuk menelpon Aslin saat ini, sebuah suara yang berasal dari mobilnya lantas mengejutkannya yang saat itu tengah terduduk diantara gang ruko tersebut. Ditatapnya ke arah belakang yaitu di mana mobilnya terlihat terus mengeluarkan asap. Seseorang yang sangat Ansel kenali mendadak muncul tepat di samping pintu kemudi seperti sedang mencari dirinya sambil membawa sebongkah kayu dengan ukuran yang cukup besar. Hal tersebut tentu saja membuat Ansel lantas mengernyit ketika mendapati hal tersebut.


"Fadlan? Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan sekarang?" ucap Ansel dengan raut wajah yang penuh kebingungan.

__ADS_1


"Sial, mengapa dia bisa kabur? Bukankah harusnya dia saat ini sedang berada di sekitar sini?" ucap Fadlan yang menatap ke arah sekeliling mencoba mencari keberadaan Ansel di sana.


Fadlan benar-benar terlihat begitu kesal ketika tak mendapati jika Erzhan berada di dalam mobilnya. Membuatnya lantas langsung mukai melangkahkan kakinya menyusuri area terdekat dari kecelakaan tersebut untuk mencari Ansel. Fadlan sangat yakin jika Ansel belum pergi jauh dari tempat ini.


"Keluar kau An! Aku tahu kau berada di sekitar sini, hadapi aku secara jantan... Apa begini caramu untuk berlari?" ucap Fadlan dengan nada yang meninggi.


Sedangkan Ansel yang mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Fadlan tentu saja langsung bingung sekaligus penasaran. Entah apa yang membuat Fadlan berbalik dan ingin mengejarnya saat ini, Ansel bahkan tidak mengetahui dengan pasti alasan di balik tingkah laku Fadlan yang berubah dengan begitu cepat.


"Ada apa dengannya sebenarnya? Mengapa tiba-tiba ia malah mengejar ku?" ucap Ansel dengan raut wajah yang kebingungan sambil sesekali melirik ke arah di mana posisi Fadlan sekarang berada.


Ansel terdiam sejenak di tempatnya seakan bertanya-tanya apa yang tengah terjadi saat ini. Ditariknya nafasnya dalam-dalam seakan mencoba mencari jalan keluar di atas permasalahan ini. Ada dua pilihan yang bisa Ansel lakukan saat ini yaitu kabur atau menghadapi Fadlan dan bertanya kepadanya secara langsung, apa yang telah terjadi kepadanya? Helaan nafas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Ansel saat itu.


"Aku benar-benar sudah gila rupanya!" ucap Ansel sambil mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah di mana Fadlan berada saat ini.


Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Fadlan saat itu, begitu melihat Ansel lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Fadlan berada dan berhenti tepat di hadapannya.


"Rupanya kau benar-benar seseorang yang gila ya An? Disaat semua orang lari ketika melihat apa yang ku bawa, sedangkan kau malah datang dan mendekat ke arah ku!" ucap Fadlan dengan senyuman yang menyeringai.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Mengapa kau malah mengejar ku? Bukankah kita berada dalam satu tim? Pembunuh itu bahkan sudah diketahui identitasnya, tapi kau malah mengejar ku.. Apa kau tidak salah orang?" ucap Ansel kemudian dengan raut wajah yang penasaran serta kebingungan menatap ke arah di mana Fadlan berada saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak salah orang, lagi pula aku terpaksa melakukan hal ini karena jika aku tidak membunuhmu maka aku yang akan dibunuh olehnya!" teriak Fadlan dengan raut wajah yang kesal.


Sebenarnya Fadlan juga tidak ingin melakukan hal ini, namun Fadlan terpaksa dan harus melakukannya untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.


"Kau itu sudah gila? Jika memang seperti itu seharusnya kau katakan kepadaku biar kita mencari jalan keluarnya sama-sama. Mengapa kamu malah mengikuti perkataannya?' ucap Ansel lagi mencoba untuk membawa Fadlan ke jalan yang benar.


"Kau yang tidak waras! Kau pikir aku mau jika nasibku berakhir seperti Rani? Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, sehingga sebelum semuanya berbalik kepadaku aku harus membunuh mu agar aku tetap hidup! Maafkan aku tapi ini adalah jalan terbaik yang aku ambil untuk saat ini." ucap Fadlan dengan raut wajah yang yakin menatap tajam ke arah Ansel saat itu.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut Fadlan langsung berlarian menuju ke arah di mana Ansel berada, membuat Ansel yang melihat hal itu tentu saja langsung mengambil langkah kaki seribu mencoba menghindari kejaran dari Fadlan barusan. Ia benar-benar tidak berpikir bahwa jalan pikiran Fadlan saat ini malah terlalu dangkal dan sama sekali dibutakan oleh janji palsu yang dibuat oleh Elsa. Padahal jika Fadlan membunuhnya sekalipun belum tentu juga Elsa akan melepaskan dirinya begitu saja.


"Berhenti dan jangan lakukan ini Fad, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik dan mencari solusi dari semua masalah ini!" ucap Ansel sambil terus membawa langkah kakinya berusaha kabur dari kejaran Fadlan.


"Tidak akan pernah karena aku tidak ingin mati!" ucap Fadlan sambil terus berlarian.


Ckittt


Bruk...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2