
"Berhenti dan jangan lakukan ini Fad, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik dan mencari solusi dari semua masalah ini!" ucap Ansel sambil terus membawa langkah kakinya berusaha kabur dari kejaran Fadlan.
"Tidak akan pernah karena aku tidak ingin mati!" ucap Fadlan sambil terus berlarian.
Di saat Ansel tengah kebingungan mencari cara agar bisa lolos dari kejaran Fadlan dan menuju ke kediaman Aslin. Sebuah mobil dari arah persimpangan jalan mendadak melaju dengan sangat kencang dan menabrak ke arah Fadlan begitu saja. Hal tersebut membuat Ansel yang sedari tadi berlarian di hadapannya, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu mendengar decitan rem terdengar dengan keras di jalanan tersebut.
Ckittt
Bruk...
"Fadlan!" pekik Ansel begitu mengetahui jika Fadlan baru saja tertabrak.
Melihat hal tersebut tanpa berpikir panjang lagi Ansel lantas langsung berlarian menuju ke arah di mana Fadlan berada saat ini.
Ketika Ansel sampai di sana, Fadlan sudah terlihat seperti terkapar dengan bersimbah darah di seluruh tubuhnya. Tubuh Fadlan nampak kejang-kejang sepersekian detik sampai pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, membuat Ansel yang melihat semua itu lantas langsung tertegun di tempatnya tanpa bisa mendekat ke arah Fadlan saat ini.
Setelah kematian Fadlan baru saja, seseorang nampak keluar dari dalam mobil yang menabrak tubuh Fadlan barusan. Ansel yang melihat seseorang tersebut seperti tidak asing baginya, lantas langsung mempertajam pandangannya dan memastikan identitas orang tersebut.
__ADS_1
Sampai kemudian ketika sebuah suara terdengar dengan jelas menggema di telinganya, Ansel jelas tahu jika sosok tersebut ternyata adalah Amara.
"Cepat masuk dan selamatkan Aslin saat ini juga!" pekik Amara yang langsung membuyarkan segala pertanyaan yang berputar di kepala Ansel saat ini begitu melihat kedatangan Amara yang tiba-tiba itu.
Ansel yang semula memang tujuannya adalah untuk menyelamatkan Aslin, lantas langsung bergegas dan masuk ke dalam mobil Amara tanpa bertanya akan sesuatu hal. Dengan langkah kaki yang bergegas Ansel mulai masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Amara dan melaju pergi meninggalkan jalanan tersebut menuju ke kediaman Aslin saat ini.
**
Area dalam mobil
Di saat Amara tengah sibuk melajukan mobilnya membelah jalanan Ibukota menuju ke kediaman Aslin, Ansel nampak sesekali melirik ke arah di mana Amara berada. Ia benar-benar tidak tahu mengapa Amara bisa tiba-tiba muncul di sana dan melakukan hal tersebut kepada Fadlan, padahal jelas-jelas Amara tidak pernah melakukan hal tersebut atau bahkan membantunya mengungkap segala misteri yang terdapat di lingkaran ini.
"Apa maksud sebenarnya dari lingkaran rantai makanan yang kamu berikan kepadaku?" ucap Ansel pada akhirnya, ia bahkan sudah benar-benar penasaran akan hal ini.
"Maksud dari lingkaran itu sebenarnya adalah kalian dimana dua komponen tambahan yang ada di sebelahnya adalah kamu dan juga Fatia, sedangkan untuk elang sudah bisa kamu tebak jika itu adalah Elsa." jawab Amara dengan nada yang datar.
"Ada sebenarnya dengan ini semua? Antara rantai makanan dan dua komponen tambahan, mengapa aku sama sekali tidak bisa menemukan jawabannya?" ucap Ansel dengan nada yang terdengar dengan kesal namun berhasil membuat seulas senyum terlihat dengan jelas pada raut wajahnya saat itu juga.
__ADS_1
"Sebenarnya tidak ada yang terjadi ketika kalian mengulang waktu dan pergi ke masa lalu, apa yang di gariskan tetap akan terjadi juga dan kamu tentu tahu akan hal itu. Itulah sebabnya aku membuat tida percobaan, dimana percobaan pertama aku sengaja memutus elang agar rantai makanan itu tidak terjadi, percobaan kedua aku membiarkan segalanya terjadi sesuai takdir dan percobaan ketiga aku menambahkan dua komponen yaitu kamu dan juga Fatia. Dan nyatanya dari semua percobaan tersebut seseorang yang terjerat dalam rantai makanan itu tetap mati, awalnya aku tidak tahu mengapa alasannya tapi belakangan ku temukan alasannya yaitu Aslin! Sifat setia kawan Aslin yang selalu ingin menyelamatkan Elsa membuat segalanya tetap berjalan sebagaimana takdir yang sudah di gariskan." ucap Amara menjelaskannya dengan begitu runtut membuat ekspresi wajah Ansel mendadak menegang begitu mendengar hal tersebut.
"Jadi kau melakukan percobaan kepada kami sebanyak itu? Apakah kau sudah tidak waras? Kau pikir hidup kami hanya sebuah mainan untukmu?" ucap Ansel dengan nada yang kesal ketika mendengar perkataan dari Amara barusan.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ansel barusan, lantas membuat Amara langsung menginjak pedal remnya dengan kuat sehingga membuat mobil berhenti dengan seketika di bahu jalan.
Ckit...
"Aku juga terpaksa melakukan hal ini, kau kira menyenangkan bermain-main dengan kehidupan seperti ini? Semua aku lakukan karena Aston, Aston telah menyelamatkan putriku dan mau tidak mau harus membuatku melakukan segala hal sesuai dengan perintahnya. Aku juga tidak menginginkan hal ini tapi aku harus melakukannya." ucap Amara dengan raut wajah yang kesal ketika mendengar Ansel malah menyalahkan dirinya.
"Jika memang kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, harusnya kamu memperingatkan kami atau bahkan melakukan sesuatu dan jangan menuruti Aston, cari cara agar putrimu bisa bebas. Apa kau tidak bisa memikirkan hal itu?" pekik Ansel sekali lagi.
"Aku benar-benar tidak berdaya kehidupan putriku ada di ujung tanduk, putriku saat ini sedang terbaring koma di ranjang pasien dan kau mengatakan agar aku mencari jalan lain? Tidak ada yang bisa kulakukan selain kembali ke masa lalu agar aku bisa menikmati waktu lebih lama bersama dengan putriku. Apa kau kira aku juga tidak mempunyai masalah hidup? Lagi pula aku selalu memperingatkan kalian dan selalu membantu kalian di semua kesempatan yang aku bisa, namun sayangnya aku tidak bisa mengubah takdir itu agar tidak tetap terus berlanjut dan sesuai dengan jalurnya." ucap Amarah kemudian dengan nada yang terdengar frustasi, membuat Ansel langsung terdiam dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.
Keheningan nampak terjadi diantara keduanya tepat setelah perkataan terakhir Amara baru saja. Baik Ansel maupun Amara sama-sama terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Ansel tidak habis pikir akan segala hal yang telah dilakukan oleh Amara, namun Ansel juga tidak bisa menyalahkan Amara karena ini semua bukanlah kehendak darinya.
Ansel melirik sekilas ke arah Amara saat ini yamg terlihat tengah mengusap raut wajahnya dengan kasar kemudian menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
"Bagaimana jika dalang dari segala hal yang terjadi kepada putrimu adalah Aston? Tidak pernahkah kau berfikir seperti itu? Bukankah segalanya yang berkaitan dengan Aston nampak mencurigakan bagimu?" ucap Ansel kemudian yang lantas mengejutkan Amara dengan seketika.
Bersambung