Throwback

Throwback
Saling berhubungan


__ADS_3

"Dia..." ucap Aslin sambil mengangkat sebuah foto wisuda yang terletak di atas meja kecil tepat di sebelah sofa ruang tamu.


Ditatapnya foto wisuda tersebut dengan tatapan yang menelisik sekaligus bertanya-tanya, membuat Ansel yang baru saja dari arah dapur untuk mengambil minum, lantas menatap bingung ke arah Aslin yang terlihat begitu serius menatap foto wisuda tersebut.


"Apakah ada sesuatu?" ucap Ansel dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Aslin.


Mendapat pertanyaan tersebut dari Ansel membuat Aslin lantas tersentak seketika. Diletakkannya kembali foto tersebut ke tempatnya semula setelah itu menatap ke arah Ansel yang saat ini terlihat tengah mendudukkan dirinya di sofa yang posisinya tepat dihadapan Aslin.


"Apa kamu lulusan UI juga?" tanya Aslin kemudian sambil menunjuk ke arah foto wisuda yang baru saja ia letakkan di atas meja kecil tersebut.


Mendengar perkataan dari Aslin barusan lantas membuat Ansel menatap ke arah tunjuk Aslin.


"Ya, apa kau juga berkuliah di sana?" tanya Ansel kemudian.


"Bukan aku tapi Elsa, hanya saja Elsa tidak sampai menamatkannya karena ada beberapa masalah yang aku sendiri tidak tahu apa itu." ucap Aslin kemudian mulai menjelaskan, sedangkan Ansel yang mendengarnya hanya manggut-manggut tanda mengerti.


Ting tong ting tong


Suara bel pintu terdengar dengan nyaring yang lantas menghentikan percakapan keduanya. Membuat Ansel yang mendengar suara bel tersebut langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama.


Melihat hal tersebut Aslin yang menduga bahwa itu adalah pengantar makanan lantas hanya membiarkan Ansel untuk mengambil makanan tersebut.


***


Meja makan

__ADS_1


Di area meja makan terlihat Aslin dan juga Ansel tengah menyantap makanan mereka dengan lahapnya. Dalam keheningan yang tercipta diantara keduanya terlihat Aslin sesekali melirik ke arah Ansel, membuat Ansel yang menyadari bahwa sedari tadi Aslin tengah menatap ke arahnya lantas mulai meletakkan sendoknya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan kepada ku?" tanya Ansel kemudian sambil menatap ke arah Aslin dengan raut wajah yang penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Aslin langsung tersenyum seketika. Aslin yang seakan seperti tengah tertangkap basah pada akhirnya hanya bisa tersenyum sambil meletakkan sendoknya di piring.


"Lalu apa rencana mu selanjutnya?" tanya Aslin pada akhirnya.


Ansel yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terdiam sejenak seakan tengah berpikir jawaban apa yang akan ia berikan untuk Aslin. Ansel sendiri bahkan tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil disaat-saat seperti ini, membuat Ansel lantas menghela napasnya dengan panjang begitu mendapat pertanyaan secara tiba-tiba dari Aslin barusan.


"Aku juga tidak tahu.." ucap Ansel dengan santai namun berhasil membuat Aslin menganga lebar ketika melihatnya.


"Apa kau sedang bercanda?" tanya Aslin dengan raut wajah yang bertanya seakan tidak percaya akan perkataan dari Ansel barusan.


Ansel yang mendapat tatapan tidak percaya dari Aslin hanya bisa terdiam sambil meneruskan kegiatan makannya yang tertunda. Membuat Aslin yang melihat hal tersebut lantas menjadi kesal.


Sedangkan Ansel yang mendengar perkataan dari Aslin barusan tentu saja langsung mendongak seakan terkejut dengan perkataan Aslin barusan.


"Apa yang kau katakan barusan?" ucap Ansel bertanya seakan memastikan bahwa indra pendengarannya barusan tidaklah salah.


"Tidak ada, makanannya enak lain kali beri tahu aku dimana kamu memesannya..." ucap Aslin dengan senyum yang mengembang membuat Ansel lantas mengernyit dengan seketika begitu mendengar perkataan Aslin barusan.


***


Malam harinya

__ADS_1


Aslin yang tak kunjung mendapatkan informasi apapun lantas mulai jengah terus menunggu tanpa pembahasan seperti ini. Aslin yang melihat Ansel hanya duduk santai tanpa melakukan apapun kemudian mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Ansel berada.


"Apakah kita tidak jadi membahas apapun saat ini? Jika tidak ada yang dibahas maka aku akan pulang karena ini sudah larut." ucap Aslin kemudian karena kesal yang dilakukan Ansel sedari tadi hanya diam saja.


"Menginap lah di sini malam ini." ucap Ansel dengan nada yang enteng.


Sebuah perkataan yang tentu saja mengejutkan Aslin ketika itu keluar langsung dari mulut Ansel barusan. Bagaimana bisa seorang pria menawarkan untuk menginap di tempatnya pada seorang perempuan yang baru saja ia temui? Ini bahkan benar-benar gila!


Aslin yang tak percaya akan perkataan Ansel barusan lantas hanya termenung dengan tatapan yang aneh, membuat Ansel yang menyadari bahwa Aslin kini tengah salah paham dengannya pasti sedang berpikir yang tidak-tidak kepadanya.


"Tunggu sebentar, jangan salah paham aku menyuruh mu untuk tinggal karena aku takut jika sewaktu-waktu kamu akan menjadi korban selanjutnya. Kita bahkan belum tahu motif dari kematian tiga orang yang melakukan perjalanan waktu bersama dengan kita." ucap Ansel kemudian mulai menjelaskan tujuannya.


Mendengar penjelasan tersebut membuat Aslin lantas memerah, bukan karena tersipu melainkan karena malu telah salah sangka kepada Ansel.


"Yang benar saja, aku dan ketiga korban itu berbeda. Aku rasa bukan aku korban selanjutnya?" ucap Aslin kemudian sambil mengambil duduk di sebelah Ansel.


"Bagaimana kamu tahu? Bukankah semuanya masih buram hingga kini?" ucap Ansel kemudian dengan tatapan tidak mengerti.


"Apa kau pernah membaca salah satu artikel yang ada di Internet? Dimana di sana menjelaskan tentang sesuatu teori yang bernama Predestination Paradox, sebuah teori yang mengatakan bahwa semua yang seharusnya terjadi pasti tetap akan terjadi, meski kita mengulang ke masa lalu sekalipun nyatanya kita tetap tidak bisa merubah apapun meski jalan menuju takdir itu berbeda caranya." ucap Aslin mulai menjelaskan apa yang ia dapat di Internet.


"Lalu apa hubungannya dengan kematian tiga orang tersebut?" ucap Ansel yang seakan masih tidak mengerti akan hubungan diantara keduanya.


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Aslin lantas menghela napasnya dengan panjang. Memang butuh usaha untuk mengerti tentang Paradoks ini, tapi Aslin yakin antara Paradoks dengan beberapa hal yang terjadi kepada keduanya belakangan ini sama-sama terhubung menjadi satu kesatuan.


"Jadi begini, aku datang ke masa satu tahun yang lalu untuk menyelamatkan Elsa namun ketika aku sampai di sini memang aku berhasil menyelamatkan Elsa, nyatanya meski aku berhasil menyelamatkan Elsa kecelakaan tersebut tetap terjadi namun berganti dengan pak Arman yang menjadi korbannya. Bukankah hal ini menarik? Yang jadi pertanyaannya disini, jika memang ini berkaitan dengan Paradoks tersebut, lalu mengapa harus pak Arman yang menjadi korbannya? Mengapa harus salah satu dari kita yang melakukan perjalanan waktu? Tidakkah menurut mu ini aneh?" ucap Aslin dengan raut wajah yang serius membuat Ansel langsung terdiam seketika seakan mulai memikirkan teori yang diberikan oleh Aslin barusan.

__ADS_1


"Pasti ada sesuatu yang aneh!"


Bersambung


__ADS_2