Throwback

Throwback
Maksud di balik gambar rantai makanan


__ADS_3

Setelah mendapat telpon dari seseorang yang bernama Ansel, Aslin ijin pergi sebentar keluar untuk beberapa waktu. Saat ini di rumah kontrakannya hanya tinggal Elsa seorang diri kesepian tanpa siapapun yang menemaninya saat itu. Ditatapnya dinding bercat warna putih di ruangan tersebut dengan tatapan yang kosong.


Sebuah nama yang begitu membekas diingatan Elsa, dimana nama Ansel adalah nama yang sama dengan seseorang di masa lalu Elsa yang pernah menyinggahi hatinya. Hanya saja sebuah kejadian yang sama sekali tidak ia inginkan, lantas terjadi dan membuatnya harus berpisah dengan Ansel hingga saat ini.


Elsa menghela napasnya dengan panjang sambil menggigit bibir bagian bawahnya tanpa ia sadari. Jika sampai orang yang menelpon Aslin adalah Ansel yang sama, Aslin bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya jika sampai kenyataan itu benar adanya. Sebuah kejutan yang mungkin akan bisa merubah segalanya termasuk tentang hubungannya dengan Aslin tentunya.


"Aku rasa bukan Ansel yang sama, aku yakin itu.. Tidak mungkin Aslin mengenal Ansel ku." ucap Elsa dengan raut wajah yang khawatir sambil masih menatap lurus ke arah depan.


Bagaimanapun juga sebelum Elsa memastikan segala kenyataannya ia tidak akan menyimpulkan sesuatunya terlebih dahulu. Elsa akan terlebih dahulu mencari tahu tentang siapa Ansel yang dimaksud oleh Aslin di telpon sebelum kepergiannya barusan.


***


Apartment Ansel


Cklek...


Suara pintu yang terbuka terdengar dengan jelas yang menampilkan sosok Ansel tepat di ambang pintu unit Apartemennya.


"Masuklah, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepadamu." ucap Ansel kemudian yang langsung membuat Aslin mengangguk tanda mengerti.


Aslin kemudian lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit Apartment Ansel dan langsung menuju ke arah ruang tamu untuk mulai berdiskusi.

__ADS_1


Ketika keduanya sudah duduk di sofa dengan posisi yang berhadapan Ansel terlihat mengeluarkan sebuah kertas yang langsung membuat Aslin mengernyit ketika melihat gambar tersebut. Sebuah gambar tentang rantai makanan dimana di sebelahnya terdapat dua komponen tambahan yang sama sekali tidak Alena tahu apa maksudnya.



Alena menatap ke arah Ansel dengan tatapan yang bertanya-tanya seakan menunggu jawaban dari arti selembaran yang ia tunjukan barusan.


"Apa ini An? Sebuah rantai makanan?" ucap Aslin dengan tatapan yang penasaran ke arah Aslin.


"Aku juga tidak tahu apa maksud dalam gambaran ini, hanya saja Amara mengatakan bahwa itu adalah kunci jawaban dari segala pertanyaan kita." ucap Ansel sambil menatap ke arah gambaran tersebut.


Aslin yang juga penasaran akan maksud yang terkandung dalam gambaran tersebut, lantas terus menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya. Amara tentu tidak akan menggambar sesuatu tanpa ada maksud tertentu, hanya tinggal mencari tahu arti dari rantai makanan ini maka semua hal yang tergambar di sana pasti akan dapat terpecahkan.


"Apakah Amara tidak mengatakan sesuatu lagi saat bertemu dengan mu? Aku yakin pasti ada kata kuncinya." ucap Aslin sambil mulai menerka-nerka.


"Ada, ketika aku menanyakan apakah kita ber sepuluh saling berhubungan sehingga ia mengumpulkan kita dalam sebuah perjalanan waktu dan jawaban Amara saat itu adalah iya." ucap Ansel kemudian sambil mengingat-ingat.


"Jadi kita benar-benar terhubung antara satu sama lain? Jika begitu apakah ada sesuatu clue yang lain lagi?" tanya Aslin kembali dan Ansel langsung menggeleng dengan perlahan begitu mendapat pertanyaan tersebut.


Aslin kembali terdiam sambil mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ansel saat ini. Ditatapnya kembali gambar tersebut dengan seksama seakan tengah mencoba mencari kunci jawaban dari soal gambaran tersebut.


Aslin mencoba untuk mencocokkan clue yang ia dapat dari Ansel barusan dan terus mengulang kata ber sepuluh dalam batinnya. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada hewan yang ada di dalam rantai makanan tersebut yang berjumlah delapan, sedangkan di sebelahnya terdapat dua komponen tambahan yang jika di gabung menjadi genap 10 dan sama persis dengan total kesepuluh orang yang ikut dalam perjalanan waktu ke masa satu tahun yang lalu.

__ADS_1


"Mungkinkah..." ucap Aslin dengan nada yang memanjang membuat Ansel lantas dengan spontan mendongak dan menatap ke arahnya.


"Apa kamu menemukan sesuatu Asl?" tanya Ansel dengan raut wajah yang penasaran.


"Lihatlah ini An, hewan dalam rantai makanan ini berjumlah delapan dan ada dua komponen tambahan di sebelahnya yang jika digabungkan akan menjadi angka sepuluh. Bukankah angka ini sama dengan jumlah orang yang melakukan perjalanan waktu ke masa satu tahun yang lalu?" ucap Aslin kemudian mulai menjelaskan, yang lantas membuat Ansel langsung ngeh jika keduanya sama-sama memiliki kemungkinan.


"Jangan bilang jika yang coba Amara sampaikan kepada kita adalah dimana rantai makanan ini diibaratkan sebagai kita ber sepuluh?" ucap Ansel yang sedikit terkejut akan hal yang baru saja ia mengerti itu.


"Aku rasa begitu dan aku yakin tidak hanya ini yang coba untuk disampaikan oleh Amara jika kita melihat dari susunan rantai makanan dimana Elang adalah pemangsa yang kuat pada rantai makanan ini." ucap Aslin dengan tatapan yang menelisik ke arah gambar tersebut seakan mencoba menerka maksud sebenarnya dari gambaran Amara ini.


"Kamu benar Asl" jawab Ansel dengan tatapan yang juga bertanya-tanya akan arti dari gambaran tersebut.


***


Sementara itu di ruangannya, terlihat Amara tengah terduduk sambil termenung menatap kosong ke arah depan. Bayangan tentang Ansel yang tadi berhasil masuk ke dalam kediamannya lantas terlukis jelas dipikirannya. Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Amara membuat perasaannya semakin gusar.


Ini lah yang ia takutkan selama ini ketika semuanya perlahan-lahan mulai terbongkar dan kembali menimbulkan kekacauan. Amara bahkan muak ketika semuanya selalu saja kembali seperti ini lagi dan lagi, membuat Amara mulai lelah akan ini semua tapi tidak tahu bagaimana caranya untuk berhenti.


Disaat perasaan gundah menghampiri dirinya, sebuah suara pintu yang terbuka dari luar lantas langsung membuyarkan segala lamunan Amara tentang Ansel. Seorang Pria yang tempo hari berbicara dengan Amara saat itu lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Amara berada, yang tentu saja langsung membuat Amara terkejut begitu melihatnya.


"Apa kau tengah bermain petak umpet dengan ku? Mengapa kau berani-beraninya menipu dan bermain di belakang ku?" pekik Pria itu dengan tiba-tiba yang lantas membuat Amara mengernyit dengan tatapan yang bingung.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" ucap Amara dengan tatapan yang tidak mengerti ke arah Pria tersebut.


Bersambung


__ADS_2