Throwback

Throwback
Kematian Fatma


__ADS_3

Ruangan Sili


Sesuai instruksi dari Tika yang mengatakan jika ia di panggil di ruangan Sili, membuat Elsa lantas terlihat mulai mengetuk pintu ruangan Sili dan masuk ke dalamnya secara perlahan.


Tap tap tap


Suara derap langkah kaki yang terdengar mendekat ke arah dimana meja kerja Sili berada, lantas membuat Sili langsung menghentikan aktivitasnya. Melihat Elsa sudah berada tepat di dalam ruangannya, Sili lantas kemudian mulai mengambil ponsel miliknya dan memutar suatu rekaman vidio.


"Lihat lah vidio ini!" ucap Sili dengan nada memerintah.


Elsa yang datang ke ruangan Sili dan langsung ditunjukkan sebuah rekaman video tersebut, tentu saja terkejut bukan main. Elsa terdiam di tempatnya menatap ke arah ponsel milik Sili yang memutar dengan jelas rekaman video dan juga beberapa komentar dari netizen tentang pelayanannya. Hal ini benar-benar buruk, kedatangan Fatma kemarin benar-benar merusak reputasinya dan memutarbalikkan fakta memfitnah Elsa melakukan hal-hal yang tidak ia lakukan.


"Saya tidak melakukannya Bos jika anda tidak percaya, anda bisa bertanya kepada Tika ataupun yang lainnya. Saya benar-benar masih menghormati pelanggan tersebut kemarin." ucap Elsa mencoba untuk menjelaskan segalanya.


Sili menghela napasnya dengan panjang kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ditatapnya Elsa dengan tatapan yang menelisik saat itu.


"Begini saja, aku beri kamu waktu satu hari. Buat pelanggan tersebut mengatakan yang sebenarnya ke publik jika tidak maka terpaksa kamu akan saya pecat." ucap Sili kemudian dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.


"Tapi.. Saya harus mencarinya kemana Bos? Saya bahkan tidak tahu tempat tinggalnya." ucap Elsa dengan raut wajah yang bingung.


"Terserah dan saya tidak mau tahu, bukankah sekarang dunia lebih canggih? Sebaiknya gunakan otak mu itu dengan baik!" ucap Sili lagi dengan nada yang lebih meninggi.


"Baiklah, saya permisi." ucap Elsa kemudian dengan raut wajah yang sendu.


***


Area dapur


Setelah dari ruangan Sili, Elsa lantas melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang gontai dan berhenti tepat di area dapur merenungi segala hal yang telah terjadi.


Dari ambang pintu Tika yang baru saja selesai mengantarkan pesanan kepada pelanggan, melihat Elsa yang berwajah masam seperti itu lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Elsa berada saat ini.

__ADS_1


"Apa semua baik-baik saja El?" tanya Tika kemudian sambil mengusap pundak Elsa.


Elsa mendongak menatap ke arah Tika dengan hembusan napas yang kasar.


"Aku yakin kamu juga sudah tahu tentang hal ini, tapi jujur aku benar-benar tidak melakukannya Tik.. Kamu percaya kepada ku bukan?" ucap Elsa sambil menggenggam dengan erat tangan Tika berharap ia punya seseorang yang bersama dengannya.


"Tentu El, aku bahkan juga ada di sana waktu itu dan aku percaya kamu tidak melakukan apapun yang di tuduhkan oleh pelanggan tersebut." ucap Tika mencoba untuk menyemangati Elsa agar tidak terlalu terpuruk akan pemberitaan tersebut.


"Aku tahu, tapi aku harus tetap menyelesaikan segalanya atau aku akan di pecat. Lagi pula kemana aku harus mencari alamat wanita tersebut?" ucap Elsa dengan raut wajah yang sendu.


Namun Tika yang mendengar keluh kesah Elsa bukannya ikut sedih malah tersenyum dengan simpul. Tika mengeluarkan selembar kertas kemudian memberikannya kepada Elsa, membuat Elsa lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung akan maksud dari Tika memberikan kertas tersebut kepadanya.


"Itu adalah alamat lengkap pelanggan yang kemarin, setelah berita itu viral aku meminta tolong saudara ku yang ahli IT untuk mencari tahu alamat rumah pelanggan tersebut. Bagaimana? Keren kan aku?" ucap Tika dengan alis yang sengaja di naik turunkan seakan bangga dengan pekerjaannya.


Elsa yang mendengar semua penjelasan dari Tika barusan tentu saja langsung tersenyum dengan lebar kemudian memeluk tubuh Tika dengan erat.


"Terima kasih banyak Tik, kamu benar-benar teman terbaik yang aku miliki." ucap Elsa dengan nada yang terdengar bahagia sambil masih memeluk Tika dengan eratnya.


***


Di sebuah mansion besar di kediaman Argantara terlihat Fatma tengah tertawa dengan bahagia karena baru saja menghabiskan uangnya untuk membeli beberapa barang-barang branded kesukaannya. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Fatma ketika ia mengeluarkan sebuah tas dengan merk ternama kemudian menciumnya dengan raut wajah yang bahagia.


"Tidak sia-sia aku menjadi simpanan Argantara, uang Pria itu benar-benar tidak ada habisnya." ucap Fatma dengan kegirangan sambil kembali membuka satu persatu belanjaannya.


Disaat perasaan senang dan juga bahagia meliputi dirinya, ke sebuah bel lantas berbunyi yang langsung membuat raut wajah Fatma berubah seketika. Dengan langkah kaki yang malas Fatma kemudian mulai bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama untuk melihat siapa yang datang saat ini.


Cklek...


"Atas nama Ibu Fatma?" ucap kurir tersebut begitu melihat seorang wanita keluar membukakan pintu untuknya.


"Iya"

__ADS_1


"Ini ada paket makanan dari bapak, mohon untuk di terima." ucap kurir tersebut sambil memberikan sebuah bingkisan yang langsung di terima oleh Fatma dengan raut wajah yang bahagia.


***


Ruang makan


Setelah menerima paket tersebut Fatma lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan yang terletak tepat di sebelah dapur. Di bukanya bungkus tersebut dengan perlahan, begitu melihat potongan sushi yang berjajar dengan cantik di sebuah kotak membuat Fatma langsung memakannya dengan lahap.


"Arga benar-benar tahu dengan jelas seleraku..." ucap Fatma dengan raut wajah yang bahagia.


Fatma memakan satu persatu sushi tersebut hingga tandas. Sampai kemudian ketika suapan terakhir sushi tersebut mendarat di lidahnya, sebuah perasaan tidak enak langsung terasa menerpa di area leher dan juga dadanya.


Bruk...


Fatma terjatuh cukup keras ke lantai dengan disertai kejang-kejang selema beberapa detik, satu menit kemudian perlahan-lahan mulutnya mulai mengeluarkan busa dengan di sertai mata yang melotot ke atas.


"To...tolong...." gumamnya dengan mulut yang penuh busa namun sama sekali tidak akan ada orang yang mendengarnya.


Sampai kemudian diantara sadar dan tidak sadarnya sebuah bayangan sosok yang memakai tudung hitam nampak melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah Fatma, membuat Fatma mulai perlahan-lahan mengulurkan tangannya berusaha untuk meminta tolong namun terlambat karena tepat ketika tangannya berada di awang-awang pandangannya menggelap dan pada akhirnya Fatma menghembuskan napas terakhirnya.


***


Sementara itu Elsa yang tadi mendapat alamat Fatma dari Tika, lantas langsung bergegas mempercepat langkah kakinya memasuki area komplek perumahan elit tersebut. Ketika langkah kaki Elsa baru memasuki area perumahan Fatma, Elsa nampak terkejut dengan banyaknya orang yang tengah mengerubungi area depan rumah Fatma.


"Apa yang terjadi pak?" ucap Elsa kemudian ketika melihat seorang Bapak-bapak tengah celingukan menatap ke arah depan.


"Nyonya Fatma meninggal neng..." ucap Bapak-bapak tersebut.


"Apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2