
Andi yang baru saja kehilangan ponselnya, lantas langsung mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas mencoba menghindari sosok bertudung hitam tersebut. Sosok itu benar-benar berlari dengan sangat cepat sambil membawa sebuah balok kayu di tangannya. Andi tidak tahu apa yang membuat sosok itu mengejar dirinya, namun yang jelas saat ini yang harus Andi lakukan adalah lari dan terus berlari.
Andi benar-benar tidak ingin mati saat ini, apalagi ketika mengetahui bahwa dia adalah korban selanjutnya. Tentu pikiran Andi menjadi sangat buruk dan kacau ketika bayangan tersebut terus berputar di kepalanya saat ini.
"Aku tidak ingin mati... Aku tidak ingin mati... Aku tidak ingin mati, apapun yang terjadi aku harus tetap hidup!" ucap Andi dengan berkali-kali sambil terus melangkahkan kakinya berlalu pergi menjauh dari sana sebisa mungkin.
Di saat Andi tengah sibuk berlari dengan langkah kaki yang sempoyongan karena masih terpengaruh minuman beralkohol yang telah ia minum sebelumnya, sebuah benda besar tiba-tiba melayang dan menghantam tepat di area tengkuknya. Membuat Andi lantas langsung terkejut dengan seketika dan terhuyung jatuh dalam posisi tengkurap di tanah detik itu juga.
"Akh..." rintihnya ketika merasa kesakitan di area tengkuknya.
Andi mengusap area tengkuknya yang baru saja terkena lemparan tersebut. Ada sedikit perasaan yang terkejut dalam diri Andi ketika ia mendapati noda darah di tangannya disaat ia meraba area tengkuknya.
"Da...darah..." ucap Andi dengan nada yang tergagap.
"Bagaimana? Apakah kau sudah bersiap untuk naik ke atas? Hahahaha kebetulan sekali aku sedang ingin mengirim seseorang untuk naik ke atas sana. Bersiaplah karena tidak ada yang bisa kabur dari ku bagaimanapun juga!" ucap sosok wanita tersebut yang lantas membuat Andi langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar perkataan tersebut keluar dari mulutnya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Mengapa kau malah mengejar ku? Aku bahkan tidak mengenal mu!" ucap Andi dengan nada yang terdengar bingung sambil mulai melesot mundur secara perlahan berusaha untuk menghindari sosok tersebut.
"Kamu tanya kenapa? Tidak ada jawaban apapun karena aku hanya ingin melakukannya! Kebetulan kau lewat dan meminta ku untuk mengirim ke atas, lalu dimana letak salah ku? Bukankah harusnya kau bersyukur karena aku membantu mu?" ucap sosok bertudung tersebut.
__ADS_1
"Kau benar-benar gila!" ucap Andi sambil berusaha bangkit dari sana.
Namun sebelum Andi benar-benar bangkit dari sana sosok bertudung tersebut sudah lebih dulu memukul kembali kepala Andi dengan membabi buta, Andi yang di serang tepat di area kepalanya sama sekali tidak bisa berkutik dan hanya bisa terdiam menerima segalanya. Sampai pada akhirnya Andi meregang nyawa dan menutup matanya. Andi tewas di tempat dengan bersimbah darah akibat dari pukulan wanita itu yang membabi buta di seluruh area tubuhnya.
Melihat Andi sudah tidak bergerak sosok bertudung itu lantas melempar balok kayu tersebut ke tempat pembuangan sampah. Sarung tangan masih melekat di tangan sosok bertudung itu, sepertinya ia sangat rinci dalam hal ini. Sosok itu mengambil posisi jongkok dan menatap ke arah mayat Andi.
"Sepertinya membunuh kini menjadi hobi ku, tidak buruk... Aku bahkan merasa bahagia setelah membunuhnya, dasar pria malang!" ucap dengan senyum yang menyeringai.
***
Sementara itu Aslin yang mencoba mendial nomor Andi di ponselnya, kemudian terlihat menghentikan langkah kakinya ketika ia mendengar sebuah deringan ponsel di area sekitarnya.
"An bukankah itu suara deringan ponsel?" ucap Aslin kemudian yang lantas membuatnya langsung menghentikan gerakannya.
"Sial, ponselnya terjatuh.. Lalu kita harus kemana mencari Andi sekarang?" ucap Ansel kemudian mulai kesal akan hal ini.
Ansel bahkan mulai frustasi dan membayangkan yang tidak-tidak saat ini, keduanya jelas tahu apa yang terjadi namun sayangnya baik Ansel maupun Aslin sama sekali tidak bisa mencegah hal itu untuk tidak terjadi. Segala hal yang mereka lakukan dalam perjalanan waktu itu nyatanya sama sekali tidak bisa merubah apapun pada kehidupan mereka, malah membawa bencana yang sama sekali tidak mereka inginkan.
Aslin yang tahu jika Ansel tengah tidak baik-baik saja, lantas menepuk pundaknya secara perlahan seakan mencoba untuk memberikannya ketenangan.
__ADS_1
"Aku yakin Andi masih ada di sekitaran sini, sebaiknya kita percepat langkah kaki kita. Kita bisa An.. Aku yakin akan hal itu, sebaiknya kita bergerak sekarang." ucap Aslin dengan nada yakin sambil menarik tangan Ansel untuk mulai kembali bergerak menyusuri area tersebut.
Melihat keyakinan yang saat ini ada pada diri Aslin, lantas membuat Ansel mencoba untuk percaya kepadanya dan melanjutkan langkah kakinya. Pada akhirnya Ansel dan juga Aslin kembali meneruskan langkah kaki mereka menyusuri setiap tikungan dan juga gang yang ada di sekitaran tempat itu.
Selangkah demi selangkah yang mereka ambil terlihat begitu cepat seakan seperti mengejar waktu, mereka benar-benar takut jika mereka tidak bisa menolong Andi. Sampai kemudian ketika langkah kaki keduanya sampai di sekitaran tempat pembuangan sampah, bau anyir darah yang menyeruak di hidung mereka langsung menghentikan langkah kaki mereka.
Aslin dan juga Ansel lantas saling pandang antara satu sama lainnya seakan keduanya satu pemikiran saat ini.
"Bukankah ini bau anyir darah? Apa jangan-jangan..." ucap Aslin kemudian dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Ayo kita berpencar dan cari sumber bau tersebut." ucap Ansel kemudian yang seakan tahu kemana arah perkataan Aslin saat ini.
Aslin yang mendengar hal tersebut lantas mengangguk kemudian mulai bergerak. Baik Ansel dan juga Aslin terlihat mulai mencari di sekitaran area tempat pembuangan sampah di mana mereka berdua mencium bau anyir yang begitu pekat.
Hingga ketika langkah kaki Ansel terhenti tepat di sebuah tumpukan sampah plastik, Ansel yang melihat seseorang tengah tergeletak di tanah dengan bersimbah darah nampak menghentikan langkah kakinya. Ansel terdiam mematung di tempatnya menatap ke arah dimana mayat tersebut tergeletak, meski raut wajah mayat itu tidak terlalu jelas karena tertutupi dengan darah dan juga penerangan lampu jalan yang seadanya, namun Ansel jelas tahu jika dia adalah Andi.
"Apa kamu sudah menemukannya An?" ucap Aslin yang belum menyadari akan perubahan raut wajah Ansel saat itu.
Aslin yang tak mendengar jawaban apapun dari Ansel, lantas mendekat ke arahnya namun tersentak ketika ia melihat apa yang saat ini membuat Ansel terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Kita sudah terlambat..." ucap Ansel dengan nada yang lirih.
Bersambung