
Malam itu setelah pulang bekerja, Aslin yang baru saja keluar dari kantornya lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah jalanan hendak menyetop taksi untuk ia pulang. Ditatapnya jalanan sekitar dengan perasaan yang bercampur aduk saat itu. Setiap perkataan Amara yang mengatakan tentang harga yang harus di bayar lantas kembali terngiang di kepalanya.
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus keluar dari mulut Aslin saat itu, Aslin benar-benar tidak menyangka niatnya untuk menolong Elsa dari ambang jurang kematian lantas harus membawanya pada permainan gila dengan harga mahal yang harus ia bayar di setiap langkah yang telah ia ambil. Sebuah perasaan menyesal mendadak menghantuinya ketika Aslin merasa bahwa ia telah mengambil langkah yang salah dalam hal ini.
"Ayolah Asl.. Lagi pula kau sudah berhasil menyelamatkan Elsa, apalagi yang kau sesalkan? Lagi pula bukankah kamu mengatakan akan melakukan segala hal agar bisa menyelamatkan Elsa? Dan ini adalah jawaban dari doa mu itu!" ucap Aslin pada diri sendiri sambil memasang raut wajah yang cemberut ketika mengingat kembali tingkah bodohnya yang melangkah tanpa memikirkan segalanya terlebih dahulu.
Aslin yang tidak ingin kembali mengingat tentang segala hal yang sudah ia lakukan saat ini dan sama sekali tidak bisa ia rubah, lantas kembali menghela napasnya seakan mencoba untuk menenangkan hatinya dan membuang segala pikiran buruk yang ada di kepalanya saat ini.
Aslin kemudian kembali mencoba melambaikan tangannya ke arah jalanan berusaha untuk menyetop salah satu taksi yang berlalu lalang di jalanan. Sampai kemudian ketika sebuah mobil taksi berhenti tepat di hadapannya Aslin yang hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi tersebut, lantas langsung menghentikan gerakannya ketika tanpa sengaja di seberang jalan di mana tempat ia berdiri saat ini ia melihat Ansel tengah melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat.
Melihat hal tersebut Aslin lantas memutuskan untuk tidak jadi naik ke dalam taksi dan meminta maaf kepada sopir taksi tersebut walau karena hal itu Aslin harus mendapat omelan dari si supir taksi, namun Aslin sama sekali tidak memperdulikannya.
Aslin yang yakin bahwa itu adalah Ansel lantas mulai melangkahkan kakinya menyebrang jalanan walau belum terlihat lampu merah menyala di sana, namun Aslin yang terburu-buru lantas melangkahkan kakinya begitu saja membelah jalanan menuju ke arah seberang jalan.
"Maaf Pak... Maaf..." ucap Aslin meminta maaf karena ia menyebrang begitu saja dan mengejutkan beberapa pengguna jalanan.
Aslin yang berhasil sampai di seberang jalan lantas terlihat mempercepat langkah kakinya menyusul kepergian Ansel. Ditatapnya area sekeliling dengan tatapan yang mencari keberadaan Ansel disekitaran sana, sampai kemudian pandangannya terhenti pada Ansel yang terlihat hendak masuk ke dalam mobil. Melihat hal tersebut membuat Aslin langsung mempercepat langkah kakinya menyusul langkah kaki Ansel.
__ADS_1
"Ansel..." panggil Aslin kemudian yang lantas menghentikan langkah kaki Ansel dengan seketika.
Ansel yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang langsung berbalik badan dengan seketika. Melihat sosok wanita yang tak asing di pikirannya lantas langsung membuat Ansel mengernyit dengan seketika. Sedangkan Aslin yang melihat Ansel menghentikan langkah kakinya langsung mempercepat langkah kakinya dan berhenti tepat dihadapan Ansel.
"Kamu..." ucap Ansel begitu melihat raut wajah Aslin yang ngos-ngosan itu karena telah berlarian sedari tadi.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Aslin kemudian sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan, membuat Ansel yang mendengar hal tersebut langsung menatap Aslin dengan raut wajah yang penasaran.
"Masuklah ke dalam!" ucap Ansel kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil miliknya.
Aslin yang mendengar perintah dari Ansel barusan lantas langsung mengangguk dengan seketika kemudian setelah itu mulai melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Ansel masuk ke dalam mobil miliknya. Setelah memastikan Aslin masuk ke dalam mobilnya, barulah Ansel mulai melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat untuk berbicara empat mata bersama dengan Aslin.
Mobil yang dilajukan oleh Ansel berhenti tepat di sebuah jembatan gantung, membuat Aslin yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan seketika sekaligus bertanya-tanya apa alasan Ansel membawanya hingga kesini. Ansel melepas sabuk pengamannya kemudian keluar dari dalam mobil, membuat Aslin yang melihat Ansel keluar lantas langsung mengikuti langkah kaki Ansel keluar dari sana.
"Wah.. Pemandangannya benar-benar indah dari sini." ucap Aslin begitu keluar dan melihat view dari atas jembatan gantung begitu indah dengan disertai lampu gantung yang gemerlapan.
"Ada apa?" tanya Ansel kemudian yang lantas membuyarkan lamunan Aslin yang sedari tadi terpesona menatap ke arah sekeliling.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Aslin mempercepat langkah kakinya dan mendekat ke arah Ansel yang saat ini terlihat tengah duduk di atas kap mobilnya.
"Aku tidak tahu apa kamu juga merasakannya atau tidak tapi aku rasa ada yang tidak beras dari perjalanan kita semua, bagaimana menurut mu?" ucap Aslin kemudian.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Ansel lantas menghela napasnya dengan panjang.
"Aku tahu, namun terlepas dari semua itu kita berhasil merubah segalanya bukan? Tidak hanya aku, bahkan kau pun berhasil menyelamatkan teman mu. Lalu apa lagi yang perlu kita risaukan?" ucap Ansel kemudian yang lantas membuat Aslin terkejut seketika tepat setelah mendnegarnya langsung dari mulut Ansel.
Aslin yang tadinya berpikir bahwa Ansel akan satu pemikiran dengannya nyatanya malah sebaliknya, membuat Aslin yang baru saja mendengar sesuatu yang tak sesuai dengan ekspetasinya lantas langsung bangkit dari posisinya. Ditatapnya sekilas manik mata Ansel yang berwarna biru laut itu dengan tatapan penuh kekecewaan, membuat senyuman di wajah Ansel perlahan-lahan mulai luntur dan tidak lagi terlihat di sana.
"Awalnya aku kira kediaman mu di sana karena kau yang juga tidak menyetujui akan hal ini, tapi setelah mendengarnya langsung dari mulut mu aku jadi menyadari satu hal penting. Sebuah kesempatan emas yang datang padamu memang menguntungkan tapi apakah kematian seseorang yang tak bersalah untuk harga setiap tindakan kita, apakah itu di benarkan? Kau benar-benar gila An!" ucap Aslin dengan nada penuh penekanan membuat Ansel lantas terkejut seketika disaat mendengarnya.
Setelah mengatakan hal tersebut Aslin yang terlanjur kesal akan perkataan dari Ansel barusan, lantas berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ansel di sana. Sedangkan Ansel yang mendengar setiap perkataan keluar dari mulut Aslin barusan tentu saja terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Aslin akan bereaksi sebaliknya.
Ansel yang melihat kepergian Aslin barusan lantas mengusap rambutnya dengan kasar. Ia bahkan sudah frustasi akan beberapa hal yang terjadi di hidupnya dan saat ini malah ditambah pusing lagi dengan tingkah Aslin yang tiba-tiba seperti itu.
"Arggg sial!" ucap Ansel dengan nada yang frustasi.
__ADS_1
Bersambung