
"Apa itu?" ucap Rani sambil membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana benda tersebut berada.
Dengan raut wajah yang penasaran Rani mulai mengambil gulungan kertas tersebut, kemudian mengambilnya dari batu besar yang berada di dalamnya. Dengan perlahan Rani mulai membuka kertas tersebut karena penasaran akan tulisan yang berada di dalam kertas itu, hanya saja ketika tepat kertas itu dibuka sepenuhnya. Betapa terkejutnya Rani ketika mendapati tulisan "mati" berada tepat di dalam kertas tersebut dengan tinta berwarna merah darah, seakan-akan seperti benar-benar ditulis dengan menggunakan darah segar dari hewan atau bahkan sejenisnya.
Melihat tulisan yang sama sekali tidak pernah ingin ia lihat, lantas membuat Rani langsung membuang kertas tersebut. Ditatapnya ke luar jendela dimana tanpa sengaja Rani malah melihat sosok bertudung hitam di luar tengah memperhatikan dirinya.
Melihat hal tersebut membuat Rani langsung bergeser dan menyandarkan tubuhnya di pintu karena terkejut ketika mendapati bahwa sosok bertudung hitam tersebut berada di luar rumahnya.
"Aku tidak ingin mati... Aku tidak ingin mati..." ucap Rani dengan nada yang terdengar berulang kali.
Rani yang mulai panik akan segala pikiran buruk yang saat ini tengah berputar di kepalanya, lantas langsung mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Ansel di sana. Rani benar-benar takut saat ini jika harus seorang diri berada di rumahnya.
Rani menggigit bibir bagian bawahnya sambil berusaha menahan pintu rumahnya, Rani sungguh takut jika sewaktu-waktu sosok bertudung hitam tersebut berusaha masuk ke dalam rumahnya.
"Halo..." ucap Ansel di seberang sana.
"Syukurlah kamu mengangkatnya, bisakah kamu datang ke sini? Sosok bertudung hitam tersebut ada di depan rumah ku saat ini, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku mohon selamatkan aku.. Aku mohon..." ucap Rani dengan nada yang menahan isak tangisnya.
Rani bahkan sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa saat ini. Di dalam pikirannya hanya ada Ansel yang mungkin bisa membantu menyelamatkan hidupnya.
"Tenangkan dirimu, sekarang kirim lokasi mu dan aku akan langsung datang ke sana secepatnya, oke? Jadi aku harap bertahanlah hingga aku sampai ke rumah mu." ucap Ansel kemudian sambil menenangkan Rani.
Ansel sungguh tahu jika Rani saat ini tengah panik dan juga ketakutan. Tidak hanya Rani bahkan Aslin di sini pun mengalami hal yang sama tepat setelah mendapat paket misterius tersebut.
"Baiklah, tapi kau janji harus segera datang kemari. Aku benar-benar tidak ingin mati... Ku mohon selamatkan aku..." ucap Rani lagi dengan nada yang mengiba.
__ADS_1
"Tentu, tunggulah sebentar saja." ucap Ansel kemudian yang lantas membuat Rani mulai merasa sedikit lega.
Panggilan telpon terputus begitu saja tepat setelah perkataan terakhir Ansel barusan. Rani meringkuk menahan rasa takut yang ada di dalam dirinya saat ini. Entah apa yang akan terjadi dalam dirinya selanjutnya namun Rani benar-benar takut sekarang.
"Aku tidak mau mati..." ucap Rani sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.
Sampai kemudian sebuah ketukan pintu yang terdengar menggema berulang kali, lantas membuat Rani ketakutan hingga menutup kedua telinganya dengan erat.
Dok dok dok...
Suara pintu itu begitu terdengar dengan keras di gedor dari luar secara berulang kali, membuat kedua tangan Rani lantas menjadi gemetar ketika mendengar suara pintu yang terus berusaha di dobrak.
Rani yang mulai ketakutan lantas langsung mulai merangkak berlalu pergi dari ruang tamu dengan langkah yang perlahan sambil menahan suaranya. Namun nyatanya sebuah suara kaca yang pecah karena terhantam benda yang besar, lantas mengejutkan Rani dan langsung membuat tubuh Rani tertancap beberapa serpihan kaca jendela dan mulai mengeluarkan darah di beberapa bagian.
Rani merayap dan terus merayap mencari tempat teraman, namun gerakannya terhenti tepat ketika di hadapannya sepasang kaki seseorang yang tentu saja tidak mungkin ada karena Rani hanya tinggal seorang diri di sana.
"Si...siapa kamu?" ucap Rani dengan bibir yang bergetar.
Namun bukannya menjawab yang dilakukan oleh sosok bertudung hitam tersebut malah langsung menjambak rambut Rani dengan erat dan menyeretnya ke arah dapur. Rani yang di seret seperti itu tentu saja terkejut dan berusaha untuk melepas jambakan sosok bertudung hitam tersebut, namun gagal karena sosok tersebut malah langsung membenturkan kepalanya di dinding selama beberapa kali hingga kepala Rani mengeluarkan darah segar akibat benturan tersebut.
Rani yang di tarik dan di benturkan selama beberapa kali tentu saja pandangannya langsung buram seketika, namun ia sama sekali tidak ingin hanya menerima nasib dan pasrah mati di tangannya. Membuat Rani mulai berusaha menggapai tubuh sosok bertudung hitam tersebut dan menariknya dengan keras.
Tarikan yang tak sengaja tersebut, nyatanya berhasil membuat tudung bagian depannya terbuka dan menampilkan wajah asli dari sosok bertudung hitam tersebut. Membuat Rani yang melihat wajahnya secara langsung tentu saja langsung terkejut seketika karena raut wajahnya sangat tidak asing bagi Rani.
"Kau..." ucap Rani sambil memegangi area kepalanya.
__ADS_1
"Tentu saja, apa kau masih mengingat ku Rani?" ucap sosok bertudung hitam tersebut.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut sosok bertudung hitam itu lantas mengayunkan tangannya yang memegang sebuah vas keramik besar tepat ke arah kepala Rani. Membuat tubuh Rani langsung terhuyung seketika dan jatuh setelah vas keramik tersebut pecah dan berserakan di lantai.
Rani nampak gelagapan, tubuhnya saat ini sudah berlumuran dengan darah miliknya, membuat sosok bertudung hitam tersebut lantas langsung mengambil posisi berjongkok di dekat tubuh Rani yang nampak meregang nyawa saat ini.
"Gigi harus dibalas gigi, dan perbuatan yang kejam harus di balas dengan hal yang serupa, bukan?" ucap sosok bertudung hitam tersebut.
Sambil mengambil serpihan dari vas keramik di lantai, sosok bertudung hitam tersebut lantas langsung menggores lengan Rani begitu saja hingga mengeluarkan banyak darah kemudian meninggalkannya begitu saja.
"To...long aku..."
***
Beberapa menit kemudian
Mobil yang di kendari oleh Ansel nampak berhenti di depan rumah Rani, tak berapa lama setelah itu terlihat Ansel dan juga Aslin turun dari dalam mobil dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah kediaman Rani saat ini.
Dibukanya pintu rumah Rani dengan cepat begitu melihat kondisi kaca jendela yang sudah pecah dan juga berantakan.
Aslin mengedarkan pandangannya ke area sekitar mencoba mencari keberadaan Rani di sana dan pandangannya terhenti pada sosok Rani yang tergeletak di bawah dengan bersimbah darah saat itu.
"Hubungi Ambulan sekarang juga An!"
Bersambung
__ADS_1