Throwback

Throwback
Mencari wajah sosok pembunuh tersebut


__ADS_3

"Apa yang Rani katakan?" ucap Ansel dengan raut wajah yang penasaran.


Aslin yang mendengar pertanyaan tersebut, lantas langsung terdiam seketika seakan mencoba untuk mengingat perkataan Rani sebelumnya.


"Entah apa yang dimaksud oleh Rani, hanya saja dia mengatakan jika sosok pembunuh yang selama ini kita cari dia adalah wanita yang datang dari masa lalu. Baik aku maupun kamu mengenal dirinya dengan pasti. Aku yang tidak tahu siapa yang tengah dibicarakan oleh Rani lantas mulai bertanya tentang siapa sosok tersebut, namun sebelum Rani menjawab pertanyaan ku Rani malah pingsan dan tak sadarkan diri. Apa yang terjadi sebenarnya An? Siapa sosok tersebut? Mengapa teka-teki ini kian menjadi rumit?" ucap Aslin dengan nada yang terdengar begitu frustasi, membuat Ansel langsung terdiam seketika.


Ansel yang mendengar pembunuh tersebut berasal dari masa lalu tentu saja langsung terdiam memikirkan segala halnya. Ia dan juga Aslin bahkan baru kenal ketika mengalami perjalanan waktu kembali ke masa lalu bersama. Bagaimana mungkin Rani mengatakan jika sosok pembunuh tersebut datang dari masa lalu? Dan yang jelas baik Aslin maupun Ansel sama-sama mengenalnya.


"Jika memang dia datang dari masa lalu, menurut mu siapa orang yang kamu, aku dan juga Rani kenal?" ucap Ansel kemudian yang lantas membuat Aslin langsung mendongak menatap ke arahnya.


"Aku benar-benar tidak tahu An.. Pikiran ku saat ini sungguh penuh dengan segala hal yang terjadi belakangan ini." ucap Aslin dengan raut wajah yang bingung.


Ansel yang mendapat jawaban dari Aslin barusan kembali terdiam di tempatnya seakan mulai memutar otaknya mencari jawaban dari teka-teki ini.


Keheningan mendadak terjadi diantara keduanya dalam sepersekian detik. Sampai kemudian Ansel terlihat bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang intens.


"Jika memang seperti itu ayo kita pulang dan mencari tahu segalanya, mungkin semakin cepat akan semakin baik." ucap Ansel kemudian sambil mengulurkan tangannya mengajak Aslin untuk pergi.


Mendengar ajakan tersebut lantas membuat Aslin melirik sekilas ke arah UGD seakan merasa khawatir akan keadaan Rani saat ini jika keduanya pergi dan meninggalkannya.


"Bagaimana dengan Rani?" tanya Aslin kemudian dengan raut wajah yang khawatir.


"Tak perlu merasa cemas, tidak akan ada yang terjadi dengan Rani. Di sini banyak orang dan ada perawat jaga, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu." ucap Ansel mencoba untuk meyakinkan Aslin bahwa semuanya baik-baik saja.


"Benarkah?" tanya Aslin sekali lagi seakan tidak langsung percaya perkataan Ansel barusan.

__ADS_1


"Tentu saja." jawab Ansel sekali lagi.


Mendengar hal tersebut pada akhirnya membuat Aslin mau tidak mau percaya akan perkataan dari Ansel barusan. Dengan gerakan yang perlahan Aslin kemudian mulai bangkit dari tempat duduknya dan menggenggam tangan Ansel dengan erat kemudian melangkahkan kaki mereka masing-masing berlalu pergi dari sana.


**


Sementara itu tanpa keduanya sadari sedari tadi terlihat seseorang tengah berdiri tak jauh dari posisi mereka dan memata-matai segala hal yang terjadi di sana. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah seseorang tersebut ketika melihat kepergian keduanya dari ruang tunggu.


Sambil mengambil posisi bersendekap dada, sosok tersebut nampak menatap kepergian keduanya dari area lorong Rumah sakit.


"Wel.. Wel.. Wel... Mungkin saat itu dewi fortuna sedang berbaik hati dan menolong nyawa mu, tapi aku pastikan jika malam ini kau tidak akan pernah bisa selamat dari ku, Rani!" ucap sosok tersebut dengan seulas senyum menatap ke arah ruang UGD dimana saat ini Rani masih mendapat pertolongan.


***


Apartment Ansel


Meski awalnya Aslin menolak dengan keras opsi tersebut, namun setelah mendengar kembali perkataan Ansel lantas membuat Aslin mau tidak mau mulai membawa langkah kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Setelah kepergian Aslin dari sana, Ansel melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat kecil yang ada di Apartemennya, dimana biasanya Ansel menggunakan ruangan tersebut sebagai gudang untuk barang-brang yang tidak ia pakai.


Entah mengapa setelah mendengar perkataan Aslin yang mengatakan jika sosok pembunuh tersebut berasal dari masa lalu dan mereka mengenalnya. Membuat Ansel kepikiran untuk membongkar beberapa album sekolahnya, siapa tahu jika Aslin mengenal salah satu dari teman-temannya dahulu.


Sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar Ansel mulai mencari beberapa album lawas miliknya yang masih bisa di lihat. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada tumpukan beberapa album foto yang berada di atas almari.


"Aku rasa itu yang aku cari." ucap Ansel sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana tumpukan album tersebut berada.

__ADS_1


***


Ruang tamu


Setelah mengambil beberapa album miliknya, Ansel terlihat sedikit membersihkannya dari debu tebal yang menyelimuti cover album tersebut.


Uhuk uhuk...


Aslin yang baru saja selesai bersih-bersih kemudian mulai mendekat ke arah dimana Ansel berada, setelah mendengar suara batuk dan juga bersin-bersin yang berasal dari Ansel di ruang tamu.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Aslin dengan raut wajah yang penasaran.


"Kemarilah As dan lihat ini!" ucap Ansel kemudian yang langsung membuat Aslin mengernyit begitu mendengar perkataan Ansel barusan.


Aslin yang memang penasaran akan apa yang sedang dilakukan oleh Ansel saat ini, lantas terlihat mulai mengambil duduk di sebelah Ansel dan melihat ke arah beberapa tumpukan album yang terletak di atas meja.


"Sebuah album foto? Untuk apa?" tanya Aslin dengan raut wajah yang bingung.


"Karena aku tidak tahu harus memulainya dari mana untuk mencari sosok pembunuh tersebut, lantas membuat ku kepikiran dengan beberapa album sekolah yang mungkin bisa membantu kita menemukannya. Kamu bantulah aku dan katakan jika ada seseorang yang kamu kenali." ucap Ansel kemudian namun masih tetap fokus menatap ke arah beberapa foto teman-temannya.


Aslin yang mendengar penjelasan dari Ansel barusan, lantas mengangguk mengerti kemudian mulai memilah beberapa album foto untuk ia lihat dan amati. Disaat Aslin tengah sibuk memilih album mana yang akan lebih dahulu ia lihat, pandangan matanya terhenti pada sebuah album salah satu universitas terbesar di negara ini.


Aslin yang penasaran tentu saja langsung mulai membuka satu persatu album kenangan tersebut dan melihat dengan teliti setiap foto mahasiswa yang terdapat di sana. Setelah cukup lama melihat dan menelusuri mendadak gerakan Aslin lantas terhenti ketika ia menyadari salah satu foto dari mahasiswa tersebut tidak asing baginya.


"Bukankah dia..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2