Throwback

Throwback
Panggilan darurat dari unit Apartment


__ADS_3

"Bukan begitu... Aku..." ucap Aslin bingung hendak menjelaskannya bagaimana untuk membuat Amar percaya kepadanya saat ini, setidaknya Aslin mencoba untuk mengulur waktu sampai kedatangan Ansel kembali kesini.


Melihat Aslin yang begitu gugup lantas membuat Amar tersenyum dengan tipis, Amar melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah dimana Aslin berada yang lantas membuat Aslin mulai melangkahkan kakinya mundur ke belakang. Entah mengapa Aslin benar-benar tidak nyaman akan kehadiran Amar saat ini, terlebih lagi dengan bau alkohol yang begitu menyengat ketika jarak diantara keduanya semakin dekat.


"Apa kau sedang mabuk? Berhenti di tempat mu dan biarkan aku menghubungi Ansel.." ucap Aslin sambil terus melangkahkan kakinya mundur ke arah belakang.


Amar yang mendengar perkataan dari Aslin barusan lantas kembali tersenyum. Tanpa ingin menghentikan gerakannya dan mendengarkan perkataan Aslin yang Amar lakukan malah terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aslin dan berusaha menggapai tangannya. Membuat Aslin lantas terkejut seketika disaat mendapati Amar mencengkram tangannya dengan erat.


"Lepaskan tangan ku! Apa yang kau lakukan ha?" pekik Aslin dengan nada yang keras, membuat Amar lantas tertawa dengan keras ketika mendengarnya.


Tawa Amar benar-benar terdengar dengan keras dan juga gila. Aslin bahkan tidak tahu dengan jelas alasan mengapa Amar melakukan ini kepadanya yang harus Aslin lakukan adalah bagaimana cara agar ia kabur dari Amar.


"Kamu hendak pergi kemana sayang aku bahkan belum bersenang-senang dengan mu hahahaha.." ucap Amar dengan senyum yang mengembang.


Raut wajah bahagia milik Amar sama sekali tidak bisa disembunyikan, niat awal Amar yang datang ke tempatnya Ansel untuk meminta uang, siapa yang mengira ia malam mendapatkan bidadari di sini? Yang mungkin bisa memenuhi hasratnya saat ini yang tengah tegang. Sambil terus mencengkram dengan erat tangan Aslin, Amar lantas mulai mengarahkan Aslin untuk mendekat ke arahnya dan memeluk tubuh Aslin dengan erat bersiap untuk menciumnya membuat Aslin yang mendapat perlakuan tersebut lantas sebisa mungkin berusaha untuk menghindar.


"Kau benar-benar sudah gila!" pekik Aslin sambil menendang tepat ke arah burung milik Amar, membuat Amar yang kesakitan lantas langsung melepaskan genggaman tangannya begitu saja.


Disaat rasa sakit menghampiri Amar karena burungnya yang di tendang oleh Aslin, Aslin yang melihat ada celah untuk dirinya kabur lantas langsung berusaha lari dari sana. Sayangnya karena terburu-buru mengambil kesempatan Aslin sampai tidak menyadari bahwa Amar memposisikan kakinya sedikit ke depan sehingga membuat Aslin tersandung dan jatuh hingga menabrak sofa ruang tamu kemudian berakhir di lantai dengan posisi terlentang.


"Aw..." pekik Aslin yang merasa kesakitan di beberapa area.

__ADS_1


Sedangkan Amar yang melihat Aslin tergeletak seperti itu tentu saja langsung melangkahkan kakinya dengan terseyot-seyot karena menahan rasa sakit di sekitar area pusaka pamungkas miliknya.


"Yang perlu kau lakukan adalah diam dan berbaring dalam posisi seperti ini, mengapa kau sulit sekali diatur ha?" ucap Amar dengan nada yang kesal.


Mendengar perkataan Amar yang semakin gila tentu saja membuat Aslin berusaha untuk bangkit dari posisinya. Namun gerakan Amar yang mendahuluinya lantas membuat Aslin tidak bisa berkutik selain mendorong dada bidang Amar yang saat ini berada dalam posisi tepat di atasnya seakan bersiap untuk mencumbu Aslin saat ini.


"Pergi kau.. Pergi... Jika Ansel sampai tahu kau melakukan ini padaku maka tamatlah riwayat mu!" teriak Aslin sambil berusaha untuk membuat tubuh Amar agar menjauh dari hadapannya.


"Jika memang seperti itu maka kita lakukan secara diam-diam agar Ansel tidak tahu, bagaimana sayang?" ucap Amar dengan tersenyum bahagia.


"Kau benar-benar sudah gila!" pekik Aslin sambil terus berusaha untuk membuat Amar agar menjauh dari dirinya.


***


"Aku benar-benar bisa stres jika terus-terusan begini." ucap Ansel sambil mengusap rambutnya dengan kasar.


Disaat langkah kaki Ansel hendak melangkahkan kakinya memasuki area lift, langkah kaki Ansel lantas terhenti dengan seketika begitu ia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya. Suara panggilan itu begitu terasa familiar sehingga membuat Ansel lantas langsung berbalik badan dengan seketika.


"Selamat malam pak Ansel..." ucap seorang satpam dengan nametag Ali di dadanya lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Ansel berada.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Ansel dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah satpam tersebut.

__ADS_1


"Kami menerima telpon dari unit Apartment anda beberapa menit yang lalu, apakah ada masalah yang serius Pak?" ucap Ali dengan sopan membuat Ansel yang mendengar perkataan dari Ali barusan lantas langsung mengernyit dengan seketika.


Ansel benar-benar tidak mengerti akan maksud dari perkataan Ali barusan, namun ketika Ansel teringat akan Aslin yang saat ini sedang berada di unit Apartemennya tentu saja langsung membuat Ansel terkejut dengan seketika.


"Di atas ada teman saya Pak, mungkin dia sedang mencari saya tadi.. Saya permisi dulu Pak, terima kasih..." ucap Ansel kemudian langsung berpamitan karena takut sesuatu terjadi kepada Aslin saat ini.


Sedangkan Ali yang melihat segala tingkah laku dari Ansel barusan lantas hanya bisa menatap kepergiannya dengan tatapan yang bertanya-tanya sekaligus bingung akan apa yang sebenarnya terjadi.


"Dasar aneh, pagi-pagi buta sudah mengganggu saja.." ucap Ali dengan raut wajah yang kesal namun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


***


Ting


Suara pintu lift yang terbuka terdengar menggema di sana membuat Ansel langsung melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang terburu-buru keluar dari dalam lift dan menuju ke arah unit Apartemennya. Dengan perasaan yang khawatir Ansel melangkahkan kakinya menyusuri area lorong beberapa unit Apartment sebelum unit miliknya. Sampai kemudian ketika langkah kakinya sampai tepat di unit pintu Apartemennya tanpa ingin membuang waktu lagi Ansel langsung membuka password pintu unit Apartemennya.


Ceklek...


Disaat langkah kaki Ansel mulai masuk ke dalam Apartemennya, betapa terkejutnya Ansel begitu melihat pemandangan yang ada dihadapannya dimana kakaknya Amar tengah berada di atas tubuh Aslin berusaha untuk mencumbu Aslin dengan kasar. Melihat hal tersebut tanpa pikir panjang lagi Ansel lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya dan langsung menarik baju bagian belakang Amar kemudian menghempaskannya ke pinggir hingga membuat tubuh Amar terhuyung dan jatuh ke samping.


"Apa yang sedang kakak lakukan sebenarnya ha?" pekik Ansel dengan nada yang emosi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2