
"Apa maksud mu?" ucap Amara dengan tatapan yang tidak mengerti ke arah Pria tersebut.
Pria tersebut yang mendapat pertanyaan itu, tentu saja langsung tersenyum dengan sinis kemudian mempercepat langkah kakinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Amara berada saat ini.
"Kau kira aku tidak tahu kau bertemu dengan anak itu bukan? Apa yang kau katakan kepadanya? Apa kau ingin mengatakan tentang segalanya yang telah terjadi?" ucap Pria itu dengan nada penuh penekanan dan terlihat begitu marah kepada Amara saat ini.
Amara terdiam di tempatnya, pikirannya melayang memutar kembali ingatan ketika ia bertemu dengan Ansel. Jelas yang dibahas Pria itu saat ini adalah Ansel, Amara bahkan sudah menduganya jika Pria itu akan mengetahuinya ketika ia melihat kamera pengawas di ruangannya mulai bergerak dengan perlahan disaat itu.
"Dia datang hanya untuk menanyakan pertemuan selanjutnya, bukankah itu tidak masalah?" ucap Amara mencoba mencari alasan yang masuk akal agar Pria itu tidak curiga.
Mendengar perkataan Amara barusan malah membuat Pria itu marah kepadanya, Pria itu lantas maju beberapa langkah kemudian mencengkram dengan erat leher Amara membuat Amara yang mendapat serangan secara mendadak tersebut tidak bisa bersiap dan terkejut akan serangan yang berasal dari Pria itu.
"Apa yang ka..u lakukan?" ucap Amara sambil berusaha melepas cengkram tangan Pria itu di lehernya.
"Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan, kamu pikir bisa bermain-main dengan ku ha?" pekik Pria itu yang lantas membuat Amara langsung menutup matanya karena suara Pria itu yang begitu keras dan menggema di ruangan tersebut.
"Le...lepaskan..." ucap Amara sambil terus memberontak berharap Pria itu akan melepaskannya.
Pria itu tersenyum dengan tipis melihat Amara yang terus merengek minta untuk dilepaskan, sampai kemudian Pria itu menghempaskan Amara begitu saja hingga membuat Amara lantas mundur beberapa langkah dari posisinya semula.
"Ini peringatan untuk mu, aku tidak menerima alasan apapun jadi aku harap lakukan tugas mu dengan baik dan jangan melakukan penyimpangan apapun!" ucap Pria itu dengan nada yang mengancam membuat Amara hanya terdiam ketika mendengarnya.
Setelah mengatakan hal tersebut Pria itu lantas berlalu pergi begitu saja dari ruangan itu, membuat Amara yang melihat kepergian Pria tersebut lantas langsung terduduk di tempatnya dengan frustasi. Diusapnya rambutnya dengan kasar ke arah belakang kemudian berdecak dengan kesal, ia bahkan tidak menyangka bahwa Pria itu akan mengetahuinya secepat ini.
Amara menghela napasnya dengan panjang kemudian menyenderkan punggungnya pada kursi kebesarannya.
"Argg sepertinya aku harus lebih berhati-hati dengannya... Aku yakin dia akan semakin mengawasi ku setelah kejadian ini." ucap Amara dengan nada yang kesal.
__ADS_1
***
Apartment Ansel
Setelah perundingan yang cukup memakan waktu dan hanya mendapatkan fakta bahwa kesepuluh gambar yang di berikan oleh Amara memiliki arti mereka ber sepuluh yang melakukan perjalanan waktu, membuat Ansel dan juga Aslin memutuskan untuk melanjutkannya besok.
"Apa kamu yakin tidak ingin menginap di sini?" tanya Ansel yang melihat Aslin mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak bisa, di rumah ada Elsa yang sedang menginap lagipula suasana hatinya sedang tidak baik saat ini jadi aku rasa mungkin lain kali saja." ucap Aslin menolak dengan halus.
"Baiklah jika memang seperti itu biar aku yang mengantar mu pulang." ucap Ansel hendak mengambil kunci mobilnya namun di tahan oleh Aslin, membuat Ansel langsung menghentikan langkah kakinya dengan spontan.
"Tidak perlu aku akan naik taksi, kamu pergilah istirahat saja." ucap Aslin kemudian dengan senyum yang mengembang.
Mendengar perkataan Aslin barusan lantas membuat Ansel hanya menghela napasnya panjang sambil menyaksikan kepergian Aslin dari Apartemennya.
"Sebaiknya aku susul dia..." ucap Ansel kemudian sambil mengambil jaket kulit dan juga kunci mobilnya.
Ansel yang membuat keputusan Untuk mengantarkan Aslin, lantas langsung mempercepat Langkah kakinya bergegas menyusul langkah kaki Aslin yang sudah lebih dulu turun ke bawah.
"Semoga saja aku masih sempat menyusulnya." ucap Ansel sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area lorong unit Apartment.
***
Parkiran
Ansel terlihat mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobilnya keluar dari area parkiran dan mencari keberadaan Aslin yang mungkin masih berada di sekitaran area Apartemennya. Disaat mobil milik Ansel keluar dari parkiran pandangan mata Ansel, lantas terhenti tepat di area bahu jalan dimana ia melihat Aslin tengah berusaha untuk mencari tumpangan.
__ADS_1
Seulas senyum lantas terbit dari wajah Ansel ketika menyadari bahwa instingnya selalu saja benar. Ansel yang melihat Aslin berdiri di bahu jalan lantas melajukan mobilnya ke arah Aslin dan berhenti tepat di hadapannya.
"Masuklah aku akan mengantar mu pulang." ucap Ansel ketika kaca mobilnya ia buka untuk berbicara dengan Aslin.
"Ansel? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" ucap Aslin dengan terkejut ketika mengetahui si pengemudi mobil tersebut adalah Ansel.
"Masuklah ke dalam lagi pula ini sudah larut, tidak akan ada taksi yang bisa membawa mu pulang." ucap Ansel lagi.
Aslin yang mendapat tawaran tersebut terdiam sejenak tak langsung mengiyakan ajakan Ansel barusan, diliriknya area jalanan malam itu yang memang sudah sangat sepi dan sama sekali tidak terlihat taksi atau bahkan angkutan umum yang berlalu lalang saat itu. Membuat helaan napas lantas langsung terdengar berhembus dari mulut Aslin saat itu.
"Ayo cepatlah keburu pagi kalau kamu hanya diam seperti itu." ucap Ansel kemudian yang langsung membuat Aslin memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar joke dari Ansel yang garing itu.
"Baiklah.. Baiklah..." ucap Aslin kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya memutar mobil Ansel dan masuk ke dalamnya.
***
Rumah kontrakan Aslin
Di dalam rumah kontrakan Aslin, Elsa saat ini tengah menanti dengan raut wajah yang gusar. Sejak kepergian Aslin setelah mendapat telepon tersebut, Elsa sama sekali tidak bisa tidur ataupun bersantai. Pikirannya benar-benar tertuju kepada satu nama yaitu Ansel, diliriknya sekilas jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari membuatnya semakin gelisah karena tak kunjung mendapati kepulangan Aslin.
"Kemana sebenarnya Aslin? Apa dia sedang bercinta? Oh ayolah Els sahabat mu itu bukanlah orang yang seperti itu. Dia tentu tidak akan mengerti bagaimana caranya bercinta." ucap Elsa menggerutu karena mulai kesal tak kunjung melihat Aslin pulang ke rumah.
Sampai kemudian terdengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah, membuat Elsa lantas langsung berlarian menuju ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang. Ada sedikit raut wajah terkejut ketika Elsa melihat sesosok pria keluar dari dalam mobil tersebut, seorang pria yang sangat ia kenali dan masih menyimpan sebuah luka di hatinya.
"Ansel.."
Bersambung.
__ADS_1