
Di salah satu tepi jembatan gantung dimana menjadi tempat favorit bagi Ansel untuk berdiskusi bersama dengan Aslin, terlihat kini Ansel tengah duduk di kap mobil bersama dengan Aslin sambil menatap pemandangan malam saat itu. Angin yang berhembus sepoi-sepoi malam itu begitu menambah suasana menjadi begitu damai dan tenang di sana, membuat Aslin sejenak melupakan segala hal yang terjadi belakangan ini di hidupnya. Ansel yang tak mendengar suara apapun dari Aslin lantas terlihat melirik sekilas ke arah perempuan itu seakan menunggu apa yang akan disampaikan oleh Aslin saat ini.
"Ada apa?" tanya Ansel kemudian.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Aslin langsung menoleh ke arah Ansel dengan seketika.
"Pak Arkan ditemukan meninggal di rumahnya pagi ini, apa kamu sudah membaca beritanya?" tanya Aslin kemudian sambil menghela napasnya dengan panjang.
Entah mengapa semakin ke arah sini Aslin semakin takut menjalani kehidupannya karena harus dihantui dengan perasaan yang tidak tenang serta kematian yang siap akan menghampirinya kapan pun juga tanpa ia tahu waktunya.
Ansel yang mendengar perkataan dari Aslin barusan lantas langsung menatap lurus ke arah depan. Apa yang dikatakan Aslin barusan Ansel sungguh mengetahuinya, Ansel bahkan sudah berusaha untuk bersikap masa bodoh. Namun satu persatu kejadian yang berkaitan dalam lingkaran ini membuat Ansel pada akhirnya mau tidak mau ikut masuk dalam lingkaran ini.
"Aku tahu, berita itu bahkan tengah heboh saat ini." ucap Ansel dengan nada yang lirih namun masih bisa terdengar oleh Aslin saat itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan An? Aku rasa kita tidak bisa jika hanya bersikap cuek dan seakan tutup mata dengan semua ini karena pada akhirnya kita juga akan masuk ke dalamnya An, apa kamu pikir dengan begini kita akan bebas begitu saja? Tentu saja tidak An..." ucap Aslin mencoba untuk membuka mata Ansel lebih lebar lagi.
Ansel yang mendengar segala nasihat dari Aslin barusan lantas langsung terdiam seketika. Ansel menghela napasnya dnegan panjang sambil menatap kosong ke arah depan.
__ADS_1
"Apa kau tahu? Kehidupan seseorang yang kosong membuatnya begitu gelap mata dan membenci dunia yang begitu cerah. Aku merasakannya dan hampir setiap hari menjalaninya, awalnya aku mengira dengan mengikuti Amara aku bisa menghindari kecelakaan itu dan kembali hidup dengan normal. Namun nyatanya bukan kaki ku yang tidak bisa berjalan yang menjadi titik diriku di jauhi oleh orang lain termasuk orang tua ku. Ternyata itu ada pada diri ku sendiri, tidak ada yang benar-benar menganggap ku ada dan menginginkan keberadaan ku termasuk orang tua ku. Aku bekerja hanya untuk menyambung hidup ku saja, tapi setelah bertemu dengan mu dan melihat mu yang begitu kekeh dalam menyelamatkan teman mu membuat ku sadar bahwa nyatanya hidup ku yang tidak beruntung." ucap Ansel mulai bercerita panjang lebar sambil sesekali menertawakan kehidupannya sendiri.
Mendengar perkataan dan juga curhatan tentang kisah hidup Ansel barusan, lantas langsung membuat Aslin terdiam seketika. Aslin tidak menyangka bahwa ternyata Ansel juga merasakan hal yang sama namun dengan cara yang berbeda, Aslin yang mengira hanya dirinya di dunia ini yang kesepian namun nyatanya setiap orang merasakan hal yang sama hanya saja dengan cara dan juga kehidupan yang berbeda-beda. Ditatapnya Aslin dengan tatapan yang cukup lama, membuat Ansel lantas bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Aslin saat ini kepadanya.
"Jika kau ingin menertawakan ku silahkan saja, aku tidak akan marah." ucap Ansel kemudian yang lantas membuat Aslin mengernyit ketika mendengarnya.
Aslin tersenyum ketika mendapat sindiran tersebut, membuat Ansel lantas bertanya-tanya akan maksud dari senyuman Aslin barusan.
"Semuanya tidak seindah yang kau bayangkan karena nyatanya aku juga kesepian untuk itulah aku datang ke masa ini dan menyelamatkan Elsa karena hanya Elsa yang ku miliki. Satu-satunya teman yang selalu menyemangati ku layaknya seorang saudara baik ketika kami kecil maupun sampai detik ini. Aku juga kesepian An... Tidak hanya dirimu seorang di dunia ini yang merasa kesepian walau di luarnya mereka terlihat bahagia dan baik-baik saja." ucap Aslin kemudian yang lantas membuat Ansel terdiam ketika mendengarnya.
Keheningan kemudian terjadi diantara Ansel dan Aslin tanpa ada yang ingin mengatakan sesuatu. Sampai kemudian Ansel bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah Aslin dnegan tatapan yang menelisik.
Mendapat tawaran tersebut tentu saja langsung mengundang seulas senyum terlihat terbit dari wajah Aslin, dengan perlahan Aslin ikut bangkit dari tempat duduknya kemudian menggenggam dengan erat tangan Ansel. Keduanya nampak tersenyum seakan mulai mengikat kontrak diantara satu sama lainya seakan keduanya sama-sama berjanji untuk mencari dalang di balik segala kejadian yang menimpa mereka kemudian hidup dengan bahagia.
"Mari kita lakukan bersama..." ucap Aslin kemudian seakan menyetujui tawaran dari Ansel barusan.
****
__ADS_1
Beberapa hari kemudian
Hari ini adalah hari dimana para time traveler berkumpul menjadi satu. Dari arah pintu masuk utama terlihat Ansel dan juga Aslin mulai melangkahkan kakinya secara bersama-sama masuk ke dalam mansion dan menuju ke ruangan dimana mereka berkumpul setiap dua minggu sekali.
Tekad mereka berdua kali ini benar-benar bulat, keduanya yang sama-sama memimpikan sebuah kebahagian pada akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan segalanya dan hidup dengan bahagia tanpa harus dihantui rasa bersalah dan juga ketakutan setiap harinya.
Ansel dan Aslin terlihat melangkahkan kakinya terus masuk ke dalam menuju ruangan tersebut, hingga kemudian ketika langkah kaki keduanya sampai di ruangan itu beberapa orang sudah terlihat berkumpul di sana sedang melakukan perbincangan dan juga tertawa dengan nada yang riang hingga nada suaranya memenuhi area ruangan tersebut. Disaat langkah kaki keduanya hendak menghampiri tempat duduk mereka masing-masing, Aslin yang menyadari ada satu hal yang ganjil ketika ia masuk ke dalam ruangan tersebut. Lantas terlihat menarik tangan Ansel, yang lantas membuat Ansel langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu mendapat tarikan tangan dari Aslin barusan.
"Ada apa Asl?" tanya Ansel kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Aslin yang terlihat fokus menatap ke arah beberapa orang.
"Ada sesuatu yang aneh, apa kamu tidak menyadarinya?" ucap Aslin sambil menunjuk ke arah kursi orang-orang dengan ekor matanya.
"Memangnya apa?" ucap Ansel kemudian bertanya.
"Ada tiga kursi yang kosong di sana? Tidakkah kamu merasa ada yang aneh?" ucap Aslin kemudian.
"Tiga? Bukankah yang gugur hanya dua orang?"
__ADS_1
Bersambung