Throwback

Throwback
Semoga masih sempat


__ADS_3

Sementara itu di sebuah gang kecil yang terletak di perumahan, terlihat Andi tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang sempoyongan. Andi yang mengetahui bahwa ia adalah korban selanjutnya tentu saja tidak bisa menerimanya begitu saja, Andi benar-benar tidak menginginkan ini terjadi apalagi jika mengetahui bahwa dirinya akan mati sebentar lagi.


Andi terus menyusuri gang selama beberapa menit dengan langkah kaki yang ke kanan dan ke kiri karena pengaruh minuman beralkohol yang ia minum. Malam ini Andi benar-benar tengah mabuk berat karena frustasi akan dirinya sendiri.


"Untuk apa aku mempunyai uang yang melimpah.. Jika sebentar lagi aku akan mati... Aku akan mati... Akan mati... Hahaha dasar bodoh kau!" ucap Andi dengan nada yang berteriak seakan merasa kesal dengan kehidupannya saat ini.


Andi yang mulai lelah nampak menghentikan langkah kakinya sebentar dan bersandar pada sebuah tembok bangunan di sana. Ditatapnya area sekitar yang saat itu tengah sepi tanpa ada seorangpun yang lewat di area sana. Hanya saja ketika ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, pandangannya lantas terhenti kepada seorang yang mengenakan tudung hitam tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Ditatapnya seseorang tersebut dengan senyum yang mengembang, membuatnya lantas langsung mulai bergerak dan mengejar sosok orang tersebut.


"Tunggu sebentar! Hei... Tunggu..." teriak Andi sambil mulai mengambil langkah kaki yang berlari walau dengan langkah yang sempoyongan.


Sosok seseorang tersebut nampak menghentikan langkah kakinya begitu mendengar panggilan dari Andi barusan, namun tanpa menoleh ke arah sumber suara dan tetap menatap lurus ke arah depan.


"Apa kau tahu jika aku sedang bernasib sial saat ini? Mengapa tidak kau bunuh saja aku sekalian ha? Agar aku segera mati dan naik ke atas..." ucap Andi dengan nada yang terdengar seperti orang linglung saat ini.


Mendapati seseorang yang mabuk dan membuatnya menghentikan langkah kakinya, lantas membuat sosok seseorang tersebut tersenyum menyeringai menatap ke arah Andi saat ini. Andi yang melihat senyuman tipis nan mengerikan mulai melangkahkan kakinya mundur dari tempatnya.


"Kau iblis... Senyuman itu adalah senyuman iblis!" ucap Andi dengan raut wajah yang ketakutan.


"Bukankah kau menginginkan sebuah kematian? Kemarilah biar aku permudah jalan mu!" ucapnya dengan senyum yang menyeringai.


"Kau.. Kau wanita iblis!" ucap Andi sambil mulai mengambil langkah kaki berlarian menjauh dari sana.

__ADS_1


Sosok bertudung hitam tersebut nampak tertawa dengan bahagia ketika mendapati Andi lari tunggang langgang ketika mendengar perkataannya barusan. Sambil mulai mengambil langkah kaki perlahan sosok bertudung tersebut nampak mengambil arah yang berlawanan dari jalan yang di pilih oleh Andi namun dengan langkah kaki yang cepat.


"Aku sangat menyukai permainan ini, baiklah mari kita lihat aku atau kamu yang akan menang sekarang." ucapnya dengan senyum yang mengembang sambil mempercepat langkah kakinya.


**


Sementara itu Andi yang belum sepenuhnya sadar dari mabuknya, lantas terlihat berlari namun dengan langkah kaki yang sempoyongan ke kanan dan ke kiri seakan tengah menghindari sesuatu.


"Aku tidak ingin mati.. Aku tidak ingin mati..." ucap Andi berkali kali sambil terus melangkahkan kakinya.


Andi yang teringat akan perkataan Ansel kala itu di mansion Amara kemudian mulai mengambil ponselnya dan mengaktifkan tanda darurat di aplikasi gps nya. Baru setelah itu Andi mulai mendial nomor Ansel di sana dan mencoba untuk menghubunginya.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Tenanglah pak, sebenarnya ada apa?" ucap Ansel kemudian dengan nada penuh kebingungan.


"Aku sungguh tidak ingin mati sekarang!" ucap Andi lagi namun tidak menjelaskan detailnya, membuat Ansel tidak tahu lagi harus bagaimana berbicara dengan Andi dan membuatnya tenang saat ini.


Sampai kemudian ketika Ansel belum selesai berkomunikasi dengan Andi, sebuah suara benda jatuh yang cukup keras lantas terdengar dan mengejutkan Ansel dengan seketika. Sambungan telponnya terputus begitu saja tepat ketika ponsel milik Andi terjatuh ke jalanan. Andi memilih kabur dan melupakan ponselnya ketika melihat sosok bertudung hitam tadi terlihat berdiri di ujung gang sambil membawa sebuah kayu besar di tangannya.


"Dia benar-benar gila!" ucap Andi sambil kembali mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


***


Sementara itu setelah menjemput Aslin malam-malam begini di rumahnya. Ansel nampak melajukan mobilnya mengikuti letak gps ponsel milik Andi terakhir kalinya. Pikiran keduanya benar-benar melayang entah memikirkan apa, membuat suasana di dalam mobil terasa begitu hening tanpa adanya pembicaraan apapun. Entah apa yang sedang terjadi kepada Andi saat ini membuat Aslin tidak bisa membayangkan jika Andi akan benar-benar tewas dan menjadi korban selanjutnya sesuai dengan prediksi Amara kemarin.


"Kita sudah sampai, jika melihat titik terakhir Andi berada hingga kini terletak di daerah ini, aku harap kita tidak terlambat." ucap Ansel tepat setelah menghentikan laju mobilnya baru saja membuat Aslin langsung menoleh dengan seketika ke arah Ansel saat ini.


"Jika begitu ayo turun dan segera temukan pak Andi, mari kita ubah sama-sama meski kemungkinan itu kecil sekalipun." ucap Aslin kemudian.


"Kamu benar, mari lakukan itu bersama-sama." ucap Ansel kemudian sambil mulai membuka pintu mobilnya dan turun dari sana di ikuti Aslin tak lama setelah itu.


Ansel dan juga Aslin nampak terlihat turun dari mobil dan menatap ke arah sekitar. Suasana gang saat itu nampak begitu sepi karena memang saat ini sudah lewat tengah malam dan tentu saja tidak akan ada orang yang berkeliaran di jam-jam seperti ini. Aslin dan Ansel nampak saling tatap selama beberapa detik sampai kemudian Ansel membuka suara yang langsung memutus tatapan keduanya.


"Aku tidak yakin jika berpencar adalah jalan yang terbaik saat ini, mungkin sebaiknya kita mencari secara bersama-sama karena hal itu akan lebih baik ketimbang kita harus berpencar." ucap Ansel kemudian.


"Aku setuju, ayo pergi sekarang!" ucap Aslin kemudian yang di balas Ansel dengan anggukan kepala.


Setelah memutuskan pada akhirnya keduanya melangkahkan kakinya secara bersama-sama mencari keberadaan Andi di sekitaran sana. Aslin menatap ke arah titik di mana Andi berada saat ini dan menunjukkan arahnya kepada Ansel.


Satu persatu gang dan juga tikungan nampak mereka lewati untuk mencari keberadaan Andi di sekitaran sana, hanya saja sayangnya hingga saat ini Ansel dan juga Aslin sama sekali tidak menemukan apapun di sana. Aslin yang tak ingin berpikiran buruk lantas terus menatap dengan fokus ke arah layar ponselnya dan menghilangkan segala pikiran buruk di kepalanya. Sampai kemudian ketika langkah kaki keduanya sampai tepat di daerah titik lokasi dimana posisi Andi terlihat, Aslin mulai mendial nomor Andi di sana.


"Bukankah itu..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2