
"Bukankah dia..." ucap Aslin dengan raut wajah yang terkejut, membuat Ansel langsung menoleh ke arah Aslin begitu mendengar perkataan dari Aslin barusan.
"Apakah kamu mendapatkan sesuatu?" tanya Ansel kemudian sambil menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Aslin dan melihat apa yang Aslin temukan.
Ansel menatap ke arah tunjuk jari tangan Aslin cukup lama sambil mengingat-ingat siapa orang di balik foto tersebut. Sampai kemudian Ansel terlihat mengernyit begitu menyadari jika yang berada di dalam foto tersebut adalah Rani.
"Bukankah dia Rani?" pekik Ansel kemudian yang lantas membuat Aslin langsung menoleh ke arah Ansel dengan seketika.
"Apa dia benar-benar Rani yang melakukan perjalanan waktu bersama dengan kita? Sungguh dia orangnya?" ucap Aslin kemudian kembali menanyakan sesuatu yang jelas-jelas Aslin tahu jawabannya.
"Iya dia adalah Rani, aku bahkan baru menyadari jika Rani adalah teman seangkatan ku. Jujur aku juga baru menyadarinya saat ini." ucap Ansel yang seakan terkejut ketika mengetahui fakta barusan.
Keduanya kemudian saling terdiam dalam pemikirannya masing-masing. Entah mengapa setelah keduanya berhasil mendapatkan fakta jika Rani adalah teman seangkatan Ansel, itu artinya apa yang dikatakan oleh Rani benar adanya.
"Jika memang Rani dan juga kamu berhubungan, maka kita tinggal mencari sosok tersangka dalam album ini. Aku yakin sosok pembunuh tersebut adalah salah satu dari orang di dalam foto album ini." ucap Aslin kemudian dengan nada yang begitu yakin.
"Kamu benar dan jangan lupakan fakta jika kamu juga mengenali orang tersebut, mungkin hal tersebut akan membantu kita memecahkan teka-teki ini." ucap Ansel mengingatkan Aslin yang langsung di balas Aslin dengan anggukan kepala.
Tepat setelah Ansel mengatakan hal tersebut keduanya kemudian langsung fokus menatap ke arah satu persatu foto mahasiswa seangkatannya. Entah siapa pembunuh itu sebenarnya, namun keduanya terus berusaha mencari dan mencari satu persatu ke dalam ribuan mahasiswa seangkatannya.
Sampai kemudian pandangan Aslin terhenti pada sebuah foto Elsa yang masih terlihat begitu culun dengan kacamata yang terlihat bertengger di wajahnya. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulutnya. Apa yang terjadi belakangan ini dengan Elsa benar-benar membuat hidupnya berantakan. Keinginannya untuk menyelamatkan Elsa dari ambang kematian nyatanya sama sekali tak membuatnya semakin dekat dengan Elsa malah sebaliknya. Membuat Aslin begitu merasakan kekosongan dalam hatinya.
"Mungkinkah hubungan kita bisa diperbaiki lagi El? Aku benar-benar merindukan kita yang dahulu." ucap Aslin dalam hati sambil menatap ke arah foto Elsa yang berada tepat di album penerimaan mahasiswa baru.
__ADS_1
Sementara itu Ansel yang sedari tadi fokus menatap ke arah begitu banyak foto, lantas terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar ketika ia tak kunjung mendapatkan seseorang yang mungkin cocok atau bahkan terlihat seperti pembunuh. Sedangkan Aslin yang sedari tadi di suruh untuk membantunya melihat mana yang ia kenali malah tidak bersuara sama sekali.
"Bagaimana As? Apa kamu menemukan seseorang yang bisa kita curigai?" tanya Ansel kemudian sambil tetap fokus menatap ke arah album foto tersebut.
"..."
Tidak ada jawaban apapun dari Aslin karena memang Aslin tengah melamun saat ini, membuat Ansel yang tak mendapat jawaban apapun dari Aslin lantas langsung menoleh ke arah Aslin.
Ansel yang mendapati Aslin hanya melamun sambil menatap ke arah selembar foto penerimaan mahasiswa baru, pada akhirnya lantas mengernyit sambil bertanya-tanya akan apa yang sedang Aslin lakukan saat ini.
"Ada apa? Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Ansel kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Aslin, membuat lamunan Aslin lantas buyar seketika.
Aslin yang mendengar perkataan dari Ansel barusan kemudian mulai menunjuk ke arah foto album penerimaan mahasiswa baru dimana terdapat foto Elsa di sana. Membuat Ansel langsung mengernyit dengan seketika disaat melihat arah tunjuk Aslin saat ini.
Mendengar perkataan dari Aslin barusan lantas membuat Ansel mulai memperhatikan arah tunjuk Aslin, dimana ia menunjuk seorang gadis berkacamata dengan kuncir kuda di antara puluhan orang yang juga ikut berfoto di sana.
"Apakah dia benar-benar Elsa?" ucap Ansel kemudian bertanya dengan tatapan yang aneh.
"Iya, bukankah Elsa nampak begitu polos dan juga manis di sini?" ucap Aslin lagi dengan polosnya seakan belum sadar apa yang baru saja ia katakan saat ini.
Ansel yang mendengar secara langsung jawaban tersebut tentu saja menjadi membeku di tempatnya. Jika Aslin hanya mengenal Elsa di sana, bukankah itu berarti Elsa adalah pembunuh yang dimaksud oleh Rani?
Pikiran Ansel benar-benar melayang saat ini memutar kembali ingatan di mana beberapa tahun silam ketika ia masih bersekolah di universitas. Jika saja Elsa mengatakan bahwa dia adalah gadis berkacamata, tentu saja ia akan langsung mengenalinya. Lagi pula siapa yang akan bisa melupakan sebuah kejadian buruk di masa lalu yang hampir membuatnya di DO dari kampus hanya karena sebuah kesalahpahaman yang dilakukan oleh Elsa saat itu.
__ADS_1
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Ansel saat itu, membuat Aslin langsung mengernyit menatap ke arahnya begitu melihat ekspresi raut wajah yang di tunjukkan oleh Ansel saat ini tepat setelah mendengar perkataannya.
"Apakah terjadi sesuatu An?" tanya Aslin kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidakkah kamu menyadari sesuatu tentang perkataan mu barusan As? Jika memang dia adalah Elsa dan kamu mengenalnya, bukankah itu artinya dia adalah...." ucap Ansel sengaja menjeda perkataannya agar Aslin meneruskan ucapannya barusan.
"Ti...tidak mungkin..." ucap Aslin dengan raut wajah yang terkejut sambil menatap tak percaya ke arah Ansel saat ini.
Aslin benar-benar tidak ingin mempercayai apapun juga meski kedengarannya hal itu sangatlah masuk akal atau bahkan mungkin itulah kebenaran yang selama ini Aslin cari.
***
Rumah sakit
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik Rumah sakit lantas terdengar menggema di sana. Seorang dokter wanita yang lengkap dengan masker terlihat mulai berjalan dengan perlahan menuju ke arah UGD. Dokter itu nampak terlihat berhenti di ambang pintu dan menatap ke arah sekitar seakan tengah berusaha mengamati situasi yang ada. Sampai kemudian ketika ia mengetahui suasananya sudah aman, barulah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mengunci ruangan tersebut dari dalam.
Seulas senyum terbit dari dalam masker yang menutupi mulutnya ketika begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut suara Elektrodiagram terdengar begitu menggema di ruangan tersebut, seakan seperti suara alunan lagu yang membahagiakan untuknya.
"Katakan selamat datang pada malaikat maut mu baby..."
Bersambung
__ADS_1