
Flashback on
Beberapa tahun yang lalu tepatnya di salah satu universitas terbesar di Jakarta. Terlihat Ansel tengah melangkahkan kakinya memasuki area kelas tepat ketika suasana kelas masih begitu sepi saat itu. Entah mengapa Ansel begitu menyukai suasana kelas yang sepi dan juga hening, membuatnya lebih bisa berkonsentrasi dalam belajar dan juga mendapatkan hal baru tentunya.
Hanya saja sayangnya semua ekspetasi Ansel yang menginginkan sebuah keheningan sebelum kelas di mulai, harus gagal ketika melihat adegan pembulian kepada salah satu mahasiswa perempuan tepat ketika ia masuk ke dalam kelas saat itu.
Ansel yang semula tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka memutuskan untuk mengacuhkan mereka dan duduk dengan tenang di ruangan tersebut
"Orang udik dan juga yatim piatu seperti mu sama sekali tak pantas menerima cinta yang begitu besar! Jangan bermimpi dengan terus menulisnya di buku diary mu tanpa tahu malu!" ucap Rani sambil menunjuk ke arah kepala Elsa dengan gerakan yang kasar berulang kali.
Ya, bukankah ini sebuah kebetulan ketika ternyata Ansel dan juga Rani ada dalam satu kampus namun dengan jurusan yang berbeda? Entah takdir apa yang mengikat keduanya hingga tanpa sadar melakukan perjalanan waktu bersama ke masa satu tahun yang lalu tanpa keduanya sadari.
"Sa..saya minta maaf, saya bahkan tidak mengganggu kamu.. Tapi mengapa kamu terus-terusan mengganggu saya?" ucap Elsa dengan kepala yang menunduk seakan tak berani menatap ke arah Rani.
"Kau memang tak memiliki salah padaku tapi angan mu yang terlalu tinggi benar-benar membuat ku muak!" ucap Rani kembali dengan nada yang meninggi sambil mengayunkan tangannya hendak berusaha memukul Elsa.
Namun sayangnya ketika tangan Rani hampir mendarat di pipi Elsa, mendadak tangannya berhenti di awang-awang karena Ansel yang sedari tadi diam lantas geram juga melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Niat hati ingin mencari ketenangan yang didapatkan oleh Ansel malah pemandangan yang memuakkan hatinya.
__ADS_1
"Hentikan sekarang juga karena aku membenci sebuah pembulian, jadi jangan lakukan itu di depan ku!" ucap Ansel dengan nada yang ketus menatap ke arah Rani saat ini.
"Tapi dia..." ucap Rani hendak membela diri namun Ansel langsung memotong perkataannya.
"Aku tidak perduli sama sekali dan aku ingin ketenangan di kelas ini, jadi mari lakukan dengan baik!" ucap Ansel dengan nada penuh penekanan menatap tajam ke arah Rani saat ini.
Mendengar perkataan Ansel barusan lantas membuat kesal Rani. Ditatapnya tajam Elsa saat ini karena gara-gara Elsa ia jadi mendapat bentakan dari Ansel barusan. Rani yang tidak mendapat tempat di sana saat ini, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan kesal menuju ke arah bangku paling atas mencoba untuk pergi dari hadapan Elsa saat ini, diikuti dengan dua orang temannya yang sedari tadi juga sedang berada di area sana dan membuli Elsa saat itu.
Ansel yang melihat kepergian Rani dan juga kedua temannya lantas langsung melangkahkan kakinya untuk mengambil sebuah buku kecil yang tergeletak di bawah dan memberikannya kepada Elsa, membuat Elsa yang melihat hal tersebut lantas langsung menerima buku miliknya dengan manik mata yang berbinar karena kagum akan tindakan dari Ansel untuknya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ansel kemudian sambil menatap ke arah Elsa dengan tatapan yang menelisik.
"Syukurlah kalau begitu, lain kali jika mereka bertindak tidak adil lagi kepadamu lawan lah jangan hanya diam saja karena itu akan membuat mereka semakin menindas mu!" ucap Ansel kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Elsa dan melangkahkan kakinya ke arah salah satu meja yang ada di ruangan tersebut.
Sedangkan Elsa yang mendengar segala nasihat yang keluar dari mulut Ansel tentu saja langsung tersenyum. Sungguh tidak salah jika Elsa begitu mengagumi sosok Ansel dan menjadikannya pengisi hatinya yang kosong. Ketika Elsa melihat secara langsung bagaimana kebaikan Ansel lantas membuat Elsa semakin menyukai Ansel lagi dan lagi.
"Hanya kamu lah penguat ku untuk tetap bertahan di sini!" ucap Elsa dalam hati sambil sesekali menatap ke arah Ansel yang sudah mengambil duduk di salah satu bangku di area ruangan tersebut.
__ADS_1
****
Cafe
Suasana di area lorong kamar mandi kian memanas terlihat dari banyaknya orang-orang yang berkumpul dan mengerumuni Elsa dan juga Aslin. Aslin benar-benar terkejut akan setiap perkataan yang keluar dari mulut Elsa, Aslin bahkan sungguh tak menyangka jika dibalik senyuman dan tingkah Elsa yang layaknya seperti seorang saudara menyimpan sebuah rasa sakit yang sama sekali tidak pernah Aslin bayangkan sebelumnya.
"Bagaimana bisa aku sama sekali tidak menyadarinya? Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu jika Elsa sangat tertekan selama ini." ucap Aslin dalam hati berkali-kali, membuat Elsa yang melihat raut wajah polos milik Aslin semakin kesal karena di sini malah ia yang terlihat begitu kejam kepada Aslin.
Di tengah keramaian yang menyelimuti keduanya, Ansel yang sedari tadi bersembunyi lantas langsung keluar dan menghampiri Aslin. Di bantunya Aslin untuk bangkit berdiri dari posisinya, membuat Elsa lantas menjadi terkejut begitu melihat kehadiran Ansel saat ini.
"Tidak ada yang pernah ingin menjadi nomer dua di dunia ini, namun untuk menjadi nomer satu membutuhkan sebuah usaha dan dedikasi yang tinggi bukan main-main ataupun hanya terima nasib saja. Jika kamu menyalahkan Aslin atas segala hal yang menimpa mu, cobalah untuk introspeksi diri.. Apakah memang Aslin yang bersalah atas segala hal yang menimpa mu? Atau kau yang hanya menjadikan Aslin sebuah alasan atas segala hal dan juga keburukan yang terjadi kepadamu!" ucap Ansel dengan nada yang penuh penekanan kemudian menggenggam tangan Aslin dengan erat dan mengajaknya berlalu pergi dari sana.
Elsa yang melihat Ansel begitu membela Elsa hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat. Ada sebuah perasaan amarah yang begitu berkobar di hatinya ketika melihat Ansel lebih membela Aslin daripada dirinya. Padahal jelas-jelas Aslin lah penyebab segala hal yang menimpa dirinya.
Satu persatu pelanggan yang sedari tadi berkumpul untuk melihat keduanya perlahan-lahan mulai bubar dan kembali ke meja mereka masing-masing. Entah apa yang ada di pikiran Ansel saat ini hingga malah membela Aslin mati-matian seperti itu padahal yang mengenalnya lebih dulu adalah dirinya.
"Kau benar-benar menyebalkan As! Lihat saja apa yang akan kau dapatkan dari semua hal yang telah kau ambil dariku!" ucap Elsa sambil mengeratkan kepalan tangannya menatap ke arah punggung Aslin dan juga Ansel.
__ADS_1
Bersambung