
Di tepi Danau yang terletak di pinggiran Ibukota terlihat Aslin tengah duduk termenung di kap mobil dengan pakaian serba hitam. Pagi ini berita kematian Rani benar-benar mengejutkannya, membuat Aslin dan juga Ansel langsung menuju ke arah Rumah sakit begitu mendapat kabar tentang kematian Rani pagi itu.
Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya, Aslin dan juga Ansel bahkan baru pulang dari melayat dan langsung mampir sebentar ke tempat ini untuk menyegarkan sedikit pikiran keduanya dari kepenatan yang melanda mereka.
Dari arah tak jauh dimana Aslin berada, Ansel nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aslin dan langsung ikut bersandar di kap mobil. Diberikannya satu kaleng soda yang baru saja ia beli kepada Aslin, membuat Aslin langsung meneguknya begitu saja hingga tandas karena memang sebelumnya Ansel sudah membuka kaleng tersebut untuknya.
Pikiran Aslin saat ini benar-benar melayang memikirkan segala perkataan Ansel yang mengatakan jika pelaku pembunuhan itu adalah Elsa. Entah mengapa ada sedikit ruang di hati kecilnya yang memberontak menerima kenyataan tersebut, namun di sisi lainnya seakan membenarkan fakta tersebut.
Aslin kembali menghela napasnya begitu panjang kemudian menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang menelisik.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada kalian saat itu? Aku bahkan tidak pernah bisa membayangkan jika ternyata kita semua saling berkaitan dan tanpa sadar melakukan sebuah perjalanan waktu yang ternyata malah membuka jalan kita menuju ambang kematian." ucap Aslin dengan raut wajah yang penuh penyesalan.
"Tak perlu menyesali yang sudah terjadi, aku yakin kita bisa melewati ini semua. Percayalah akan ada jalan bagi kita untuk keluar dari permasalahan ini." ucap Ansel yang seakan berusaha untuk menenangkan Aslin saat itu.
Mendengar hal tersebut Aslin memang cukup lega, namun sama sekali tak mengurangi rasa khawatir dalam dirinya. Membuat Aslin kemudian kembali menatap ke arah Ansel dengan tatapan yang intens seakan menunggu kelanjutan jawaban dari pertanyaannya.
"Lalu apa yang terjadi sebenarnya An? Katakan kepadaku yang sejujurnya!" ucap Aslin lagi yang lantas membuat Ansel menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar perkataan Aslin barusan.
"Yang terjadi sebenarnya beberapa tahun yang lalu adalah..."
.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa tahun yang lalu di salah satu universitas terbesar di Ibukota. Ansel yang baru saja datang ke kampus lantas terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana Kelasnya berada.
Dengan langkah kaki yang perlahan Ansel mulai membawa langkah kakinya memasuki area ruang kelasnya dan mengambil duduk sesuai dengan tempat yang biasanya ia duduki. Ada sedikit perasaan terkejut ketika ia baru saja mendudukkan pantatnya di kursi dan melihat ada sebuah bingkisan kotak kecil di atas meja, yang tentu saja langsung membuat Ansel mengedarkan pandangannya ke arah sekitar seakan mencoba mencari tahu siapa yang telah memberinya kotak hadiah tersebut.
"Lagi?" ucap Ansel kemudian sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar namun sayangnya Ansel sama sekali tidak melihat siapapun di sana.
Ansel yang penasaran akan isi dari kotak tersebut lantas mulai membukanya. Ada sedikit perasaan terkejut ketika Ansel membukanya dan yang ada di dalamnya adalah sebuah isi cutter yang sudah berkarat. Membuat Ansel yang melihat hal tersebut tentu saja langsung berdecak dengan kesal sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian membuang kotak kecil tersebut bersama dengan isinya.
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat dan setiap harinya Ansel selalu mendapatkan kotak yang sama namun dengan isi berbeda setiap harinya dan Ansel mulai lelah dengan semua ini.
Ansel yang kembali mendapatkan kotak kecil tersebut tentu saja mulai kesal. Ditatapnya isi cutter yang berkarat tersebut dengan tetapan yang menelisik, sampai kemudian Rani terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Ansel berada saat ini dan membuyarkan segala lamunannya.
"Apa ada sesuatu?" tanya Rani dengan raut wajah yang penasaran. "Ah kotak itu.." pekik Rani kemudian yang langsung membuat Ansel mengernyit begitu mendengarnya.
"Apa kau tahu tentang pemilik kotak ini? Entah mengapa selalu ada kotak ini setiap harinya di meja ku." ucap Ansel dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu....," ucap Rani kemudian sambil mengeluarkan ponsel miliknya dari tas tenteng yang ia pakai kala itu.
Tanpa menunggu waktu lama lagi Rani kemudian langsung memperlihatkan kepada Ansel sebuah video berdurasi pendek namun berganti-ganti dan cukup banyak, yang langsung membuat Ansel mengernyit ketika melihat hal tersebut. Bagaimana Ansel tidak terkejut? Dari sekian banyaknya video yang terdapat dalam ponsel milik Rani, Ansel selalu melihat Elsa masuk dan meletakkan kotak yang ia temukan tepat di atas mejanya dalam waktu setiap hari tanpa absen sedikitpun.
"Apa-apaan dia?" ucap Ansel yang terkejut akan hal tersebut.
"Sudah ku bilang tempo hari jika dia itu tidak benar, hanya kau saya yang menganggapnya salah paham dan malah membela dia waktu itu, jika sudah begini kau baru menyadarinya?" ucap Rani dengan nada yang datar namun berhasil membuat raut wajah Ansel berubah sekita.
"Jika memang begitu, lalu kau dapat dari mana vidio tersebut? Mengapa kau bisa mempunyai vidio tersebut sedetail itu?" ucap Ansel kemudian yang langsung membuat Rani tersenyum dengan sinis.
"Video ini sudah menyebar dengan luas di forum kampus, apa kau tidak tahu? Aku bahkan mendapatkannya dari sana." ucap Rani kemudian sambil memperlihatkan kembali kepada Ansel.
"Apa katamu?" pekik Ansel yang terkejut akan hal tersebut.
Setelah video tersebut menyebar di forum kampus, semua mahasiswa di universitas tersebut lantas langsung heboh dan gempar. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa Elsa adalah seorang psiko yang terlalu mencintai Ansel, hingga melakukan hal-hal yang seperti itu. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Elsa ingin melenyapkan nyawa Ansel, makanya terus mengirimkan paket dengan isi yang sama dalam waktu yang intens.
Karena video tersebut yang terlalu menyebar dengan luas dan menimbulkan spekulasi yang beragam. Pihak kampus lantas memutuskan untuk memanggil seseorang yang bersangkutan dalam video tersebut dan membuat keputusan yang tepat agar mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tepat setelah vidio itu menyebar dengan luas, Elsa terpaksa harus dikeluarkan dari kampus tersebut karena dinilai telah mencoreng nama baik kampus dan juga bertindak impulsif yang mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kampus.
***
Sedangkan Aslin yang mendengar seluruh kisah dari Ansel barusan, tentu saja terkejut bukan main. Aslin memang tahu jika Elsa tidak lagi melanjutkan studinya, namun Aslin benar-benar tidak tahu jika alasan dibalik Elsa berhenti dari studinya adalah karena sebuah hal yang sama sekali tidak masuk akal di pikirannya.
__ADS_1
"Apa kau yakin pelakunya adalah Elsa?" ucap Aslin kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung.