Throwback

Throwback
Harga yang harus di bayar


__ADS_3

"Kaki Pria itu..." ucap Aslin yang terkejut dengan pemandangan yang ia lihat saat ini.


Aslin benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat, kaki Ansel yang semula cacat atau tidak bisa digunakan sama sekali mendadak setelah dua minggu mereka melakukan perjalanan waktu kembali ke masa satu tahun yang lalu, kaki Ansel sembuh seperti sedia kala tanpa luka ataupun tanpa cacat sama sekali, membuat Aslin yang melihat hal itu tentu saja terkejut dengan seketika.


"Ba..bagaimana bisa?" ucap Aslin tanpa sadar yang lantas membuat beberapa orang langsung menoleh dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Aslin barusan.


Tidak hanya Aslin semua orang yang ada di sana ikut terkejut ketika baru menyadari bahwa terdapat perubahan besar yang terjadi pada Ansel. Seorang Pria paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Aston lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ansel yang kemudian membuat Ansel mendongak menatap ke arah Aston dengan seketika.


"Keputusan yang tepat nak, aku yakin kamu tidak akan menyesal kembali ke masa ini..." ucap Aston sambil menepuk pundak Ansel beberapa kali membuat Ansel lantas tersenyum dengan tipis menanggapi perkataan dari Aston barusan.


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai keramik di ruangan tersebut, lantas langsung menghentikan beberapa percakapan orang-orang dan juga dengungan yang berasal dari sebagian orang yang ada di ruangan tersebut. Semua orang kembali ke tempat duduknya masing-masing ketika mengetahui ada seseorang yang datang dan sudah dipastikan bahwa itu adalah Amara. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Amara ketika mengetahui semua orang sudah berkumpul di ruangan tersebut kecuali satu orang yang tidak bisa hadir karena memang telah pergi untuk selamanya.

__ADS_1


"Terima kasih karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk berkumpul di tempat ini, sangat di sayangkan bahwa dari kesepuluh orang satu orang harus gugur karena sebuah insiden kecelakaan di taman kota dua minggu yang lalu." ucap Amara kemudian mulai membuka suaranya.


Mendengar perkataan dari Amara barusan tentu saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut seketika kecuali Aslin yang memang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri segala hal yang menimpa Arman ketika itu. Semua orang nampak berbisik-bisik sambil menatap ke arah bangku kosong yang tidak ada seorangpun duduk di sana, mereka bahkan baru menyadari bahwa ada satu orang yang belum datang di ruangan tersebut yang ternyata orang itu sudah gugur atau meninggal dunia.


Aslin yang memang sudah penasaran akan hal ini sedari dua minggu yang lalu, lantas berdiri hendak menanyakan sesuatu kepada Amara yang berkaitan dengan kejadian ini.


"Apakah semua yang terjadi pada Arman adalah akibat dari perjalanan waktu yang kita tempuh?" tanya Aslin kemudian.


Mendengar pertanyaan tersebut semua orang lantas langsung menatap ke arah Amara seakan menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Amara. Sedangkan Amara yang mendapat pertanyaan tersebut hanya tersenyum dengan tipis dan menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang penuh arti, membuat Aslin yang mendapat tatapan tersebut tentu saja langsung bertanya-tanya maksud dari tatapan Amara kepadanya.


Semua orang yang mendengar jawaban dari Amara barusan tentu saja lagi-lagi dibuat terkejut, sebelumnya mereka sama sekali tidak dijelaskan tentang balasan ataupun hal yang harus mereka bayar atas perjalanan waktu yang mereka tempuh. Jika saja mereka tahu semuanya harus ada harga yang harus dibayarkan mereka tentu saja tidak akan langsung mengiyakan ajakan dari Amara tersebut.


Arkan yang mendengar perkataan santai dari Amara tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya, keinginannya kembali ke masa lalu hanyalah agar ia dan sang istri tidak jadi bercerai. Jika mendadak ia malah tewas ketika baru saja memperbaiki rumah tangganya, bukankah semua usahanya untuk kembali ke masa lalu hanyalah sia-sia saja?

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Kau bahkan tidak mengatakan apapun tentang harga yang harus kami bayar, apa kau sengaja mempermainkan kami?" teriak Arkan dengan nada yang kesal seakan tidak terima akan jawaban yang diberikan oleh Amara barusan.


Amara lagi-lagi tersenyum dengan tipis ketika mendapat pertanyaan dari Arkan barusan seakan-akan sesantai itu tanpa beban sama sekali. Beberapa orang yang melihat raut wajah Amara yang sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah akan segala hal yang terjadi, lantas mulai bangkit dari tempat duduknya masing-masing dan menatap Amara dengan tatapan yang kesal.


"Ada apa dengan raut wajah kalian semua? Bukankah kalian sudah menikmati segala hal dengan kembali ke masa satu tahun yang lalu. Kamu Aslin, bukankah kamu sudah berhasil menyelamatkan sahabat mu? Sedangkan kamu Andi, bukankah uang dari hasil lotre yang kamu dapatkan cukup banyak? Kamu Fatia, bukankah kau berhasil menyelamatkan Ibu mu lewat hal ini. Tidak hanya mereka bertiga kalian semua berhasil melakukan segala hal yang sudah seharunya kalian rubah dari dahulu. Perbedaan jelas terlihat dan itu bisa kita lihat melalui Ansel. Lalu mengapa kalian semua marah ketika saya mengatakan ada harga yang harus kalian bayar? Apakah menurut kalian semua yang kalian lakukan adalah gratis? Bahkan toilet umum pun kalian masih harus membayar untuk biaya bersih-bersih. Lalu apa bedanya dengan ini?" ucap Amara panjang lebar menjelaskan segalanya.


Mendengar jawaban dari Amara barusan lantas membuat semua orang langsung terduduk kembali di tempatnya masing-masing. Tidak ada satu orang pun dari mereka yang berani protes kembali, mereka semua nampak terduduk dengan lesu, mereka sama sekali tidak memikirkan segala halnya terlebih dahulu yang ada dalam pikiran mereka hanyalah, bagaimana cara merubah nasib mereka masing-masing? Beberapa orang nampak menghela nafasnya dengan kasar beberapa kali, bahkan ada yang sampai mengusap rambutnya dengan kasar karena saking kesalnya dan tidak bisa melakukan apapun selain tetap melanjutkan permainan ini.


Amara yang melihat raut wajah lesu beberapa orang di sana hanya tersenyum dengan tipis, meski ia tidak menduga bahwa segalanya akan terjadi secepat ini namun terlepas dari apapun yang terjadi akan selalu ada konsekuensi dari setiap hal yang kita lakukan. Jadi jangan pernah menyesali sesuatu karena penyesalan selalu terletak di paling belakang tanpa bisa kita mengetahuinya terlebih dahulu.


"Saya rasa pertemuan kita sampai di sini, sampai jumpa di pertemuan kita selanjutnya. Selamat melanjutkan permainan." ucap Amara memberikan salam perpisahan kepada beberapa orang yang ada di sana, yang tentu saja mengundang tatapan kekesalan di wajah masing-masing orang.


"Sialan!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2