Throwback

Throwback
Sebuah paket


__ADS_3

Keesokan harinya..


Di salah satu Cafe yang terletak di Ibukota terlihat Rani, Fadlan, Aslin dan juga Ansel nampak merundingkan sesuatu hal yang sempat tertunda karena sebuah masalah yang terjadi kepada Aslin dan juga Elsa kemarin. Ansel sengaja memilih tempat dan waktu yang berbeda dengan tempat janjian mereka bertemu kemarin karena ingin menghindari Elsa, takutnya jika kembali ke tempat yang sama maka akan terjadi sesuatu lagi dengan Aslin nantinya.


Raut wajah keempatnya nampak begitu tegang karena dari ke sepuluh orang yang melakukan perjalanan waktu hanya mereka berempat yang tersisa. Lain halnya dengan Aston yang ternyata termasuk dalang di balik terjadinya perjalanan waktu mereka.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ucap Fadlan kemudian.


Mendapat pertanyaan tersebut membuat semua orang langsung terdiam seketika, entah apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah segala hal terjadi pada mereka berempat. Membuat Ansel, Aslin, Rani dan juga Fadlan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana cara mereka mengatasinya.


"Sepertinya segala hal yang kita lakukan akan terasa sia-sia jika kita tidak mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Jika mereka semua mati karena suatu kesalahan atau bahkan mati karena terbunuh, harusnya ada salah satu aktor yang berada di balik tewasnya mereka semua dan tugas kita adalah mencari keberadaan pembunuh tersebut sebelum kita yang menjadi incaran mereka selanjutnya." ucap Aslin kemudian yang lantas membuat semua orang mulai memikirkan perkataan Aslin barusan.


"Aku rasa Aslin benar, lagipula jika kita hanya berlari saja itu tidak akan menjamin kita aman. Namun jika kita dapat mengetahui siapa musuh kita sebenarnya, barulah kita bisa menyusun strategi dan melakukan serangan balik kepada musuh kita." ucap Ansel yang seakan mengiyakan perkataan Aslin barusan.


"Aku juga setuju akan hal tersebut, namun yang jadi pertanyaannya.. Bagaimana kita bisa mengetahui pembunuh tersebut jika kita bahkan tidak pernah mengetahui wajah aslinya." ucap Fadlan kemudian yang lantas membuat semua kembali menganggukkan kepalanya.


"Aku rasa kita butuh satu rencana yang matang yang setidaknya bisa membuat kita mengetahui wajah pembunuh tersebut, baru setelah itu kita akan melakukan eksekusi selanjutnya dan menyusun rencana yang bisa membantu kita terlepas dari jerat pembunuh itu." ucap Rani kemudian memberikan ide yang lantas langsung membuat ketiganya menatap ke arah Rani dengan seketika.


"Kamu benar, bagaimana jika kita mulai menyusun rencana? Lakukan dengan bersama-sama dan saling bekerja sama agar kejadian seperti Andi tidak lagi terulang untuk yang kedua kalinya." ucap Ansel yang di balas ketiganya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Baik Ansel, Aslin, Fadlan dan juga Rani lantas melanjutkan obrolan mereka dengan beberapa rencana yang mungkin akan bisa mereka gunakan untuk menangkap penjahat tersebut. Entah cara ini akan berhasil atau tidak namun tidak ada salahnya bagi mereka berempat untuk mencobanya.


**


Disaat keempatnya tengah sibuk menyusun rencana, tanpa mereka sadari dari arah luar Cafe terlihat Elsa menatap ke arah keempatnya dengan tatapan yang begitu tajam. Elsa yang tadi keluar untuk membeli beberapa bahan yang telah habis di Cafenya, malah melihat pemandangan yang menyebalkan tepat di jalanan yang ia lalui. Jika tahu Elsa akan melihat pemandangan begitu memuakkan, tentu saja Elsa tidak akan memutuskan untuk melintasi daerah ini.


Melihat Aslin yang begitu akrab dengan ketiganya lantas tersenyum dengan begitu tipis. Elsa benar-benar tidak menyangka jika Ansel yang dulu membelanya kini malah berbalik dan lebih memilih berkumpul dengan Rani, mantan salah satu pembulinya dulu ketika di universitas. Meski penampilan Rani sudah berubah namun Elsa tak pernah melupakan sosok Rani sedikit pun. Baginya Rani tetaplah sama dan tidak pernah berubah.


"Cih sekumpulan manusia-manusia bodoh dan juga lemah. Baiklah As jika memang kamu lebih memilih bersama dengan mereka maka aku akan mengabulkannya untuk mu. Disaat aku begitu terluka akan segala tingkah laku yang telah kamu lakukan kepadaku, bukannya minta maaf yang kamu lakukan malah sebaliknya. Kau benar-benar sesuatu As!" ucap Elsa dengan tatapan yang tajam sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan pemandangan yang sama sekali tidak pernah ingin ia lihat meski tanpa di sengaja sekalipun.


***


Terlihat keduanya yang baru saja masuk ke dalam mobil dan mendudukkan diri mereka dengan perlahan. Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Aslin saat itu, yang lantas membuat Ansel langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Apakah ada sesuatu?" tanya Ansel dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku tidak tahu, tapi entah mengapa aku kepikiran dnegan Elsa saat ini. Apa seharusnya aku meminta maaf dan kembali membujuknya? Aku yakin jika aku kembali datang dan meminta maaf Elsa akan memaafkan ku An, bukankah begitu?" ucap Aslin dengan manik mata yang berkaca-kaca.


Melihat raut wajah Aslin yang seperti ini tentu saja membuat Ansel menjadi tidak tega. Entah mengapa Ansel merasa jika apapun yang dilakukan oleh Aslin tidak akan pernah bisa membuat Elsa luluh. Ansel mengetahui dengan pasti akan hal itu karena baru menyadari jika Elsa adalah sosok gadis di masa lalunya yang sama sekali tidak pernah ingin Ansel temui lagi di masa sekarang.

__ADS_1


"Hentikan ini As, jangan terus bersikap seperti ini karena itu akan berakhir dengan sia-sia." ucap Ansel dengan raut wajah yang penuh ketegasan, membuat Aslin lantas menatap ke arah Ansel dengan tatapan yang bingung dan juga bertanya-tanya akan sikap Ansel kepadanya saat ini.


"Ada apa dengan mu sebenarnya An? Kamu bahkan sama sekali tidak mengenal Elsa tapi kamu seakan begitu membencinya, apa yang kamu sembunyikan dari ku sebenarnya?" ucap Aslin dengan raut wajah yang penasaran.


"Ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui dan aku akan memberitahunya ketika kita sampai di Apartemen nanti." ucap Ansel kemudian sambil memasang sabuk pengamannya kemudian melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan parkiran Cafe.


Membuat Aslin yang mendengar perkataan dari Ansel barusan hanya bisa menatap dengan raut wajah yang bertanya-tanya, namun sayangnya tidak bisa menanyakannya secara langsung pada Ansel.


***


Apartment


Ansel dan juga Aslin yang baru saja keluar dari lift, lantas terlihat melangkahkan kakinya menyusuri area lorong dengan suasana penuh keheningan. Tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi diantara keduanya karena baik Ansel maupun Aslin sama-sama hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Sampai kemudian ketika keduanya sampai di unit Apartment milik Ansel, langkah kaki keduanya lantas terhenti ketika melihat sebuah paket dengan tulisan namanya tertera dengan jelas di sana.


"Untuk ku? Dari siapa?" tanya Aslin bertanya-tanya akan paket tersebut.


"Aaaa"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2