Throwback

Throwback
Sebuah rekaman vidio


__ADS_3

Ruang UGD


Di salah satu ranjang pasien terlihat Aslin tengah duduk sambil termenung menatap lurus ke arah tirai yang menutupi area ranjang pasiennya saat itu. Pikiran Aslin saat ini benar-benar melayang membayangkan segala hal yang baru saja ia lalui hingga sampai ke tempat ini.


Kini semuanya bahkan sudah mulai terbuka, sosok Elsa gang ia selamatkan dari ambang kematian sebagai bentuk dari sebuah persahabatan. Nyatanya adalah sosok seorang pembunuh berantai yang telah menghantuinya dan juga Ansel selama ini.


Entah Aslin harus terkejut atau bahkan khawatir ketika mengetahui akan fakta tersebut, namun yang jelas sebuah kekosongan kembali terlintas dengan jelas di dalam hatinya saat ini. Aslin menghela napasnya dengan panjang sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar. Saat ini bahkan berbagai pertanyaan mendadak timbul dan berputar di kepalanya tanpa bisa ia cegah sama sekali.


"Apakah aku menyesal karena telah menyelamatkannya dari ambang kematian saat itu? Aku bahkan benar-benar tidak tahu apa perasaan ku sebenarnya saat ini. Namun setelah aku memikirkannya sekalipun, anehnya aku sama sekali merasa tak menyesal menyelamatkan nyawa Elsa saat itu. Apakah aku berdosa karena hal tersebut? Karena diriku beberapa orang tak bersalah bahkan harus meninggal dengan tragis beberapa waktu yang lalu. Apakah aku benar-benar telah berdosa?" ucap Aslin dengan nada yang lirih dan terdengar begitu frustasi.


***


"Apa yang ia lakukan sebenarnya?" ucap Ansel dengan raut wajah yang kebingungan begitu mendapati hal tersebut.


Setelah menyuntikkan sebuah cairan ke dalam infus anak kecil tersebut, Aston nampak tersenyum dengan simpul kemudian memegang pipi anak kecil itu dengan lembut. Setelah itu berlalu pergi dari sana, membuat Ansel yang sedari tadi berada di ambang pintu, melihat Aston hendak pergi tentu saja langsung melangkahkan kakinya pergi sana dan melipir ke arah sudut tembok untuk bersembunyi.


Ditatapnya Aston yang saat itu tengah berlalu pergi dari area ruangan tersebut dengan tetapan yang mengernyit. Sampai kemudian ketika ia melihat beberapa dokter dan juga perawat nampak melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke arah kamar perawatan gadis kecil tersebut. Membuat Ansel lantas kehilangan fokus dan malah menatap ke arah pintu kamar perawatan gadis kecil tersebut.


Ansel yang melihat beberapa perawat masuk ke dalam ruangan tersebut, lantas langsung mulai mengambil langkah kakinya dan berhenti tepat di depan pintu ruang perawatan gadis kecil itu. Dari sebuah kaca kecil yang terdapat di area pintu tersebut, Ansel melihat beberapa perawat dan juga dokter itu sedang berusaha untuk menolong kembali nyawa gadis kecil tersebut.


"Siapa sebenarnya gadis kecil itu? Harusnya aku tadi menghentikannya. Mengapa aku malah sibuk merekamnya tanpa berusaha menghentikan Aston, jika sesuatu terjadi kepada gadis kecil itu aku pasti akan sangat menyesal." ucap Ansel sambil mulai mengambil langkah kaki perlahan berlalu pergi dari ruang perawatan gadis kecil tersebut.


***

__ADS_1


Ruang UGD


Setelah mendapati tingkah laku Aston dan berhasil merekamnya, Ansel lantas mulai melangkahkan kakinya kembali menuju ke arah ruang UGD. Di mana saat ini Aslin tengah menunggunya. Ketika langkah kakinya melangkah semakin cepat di sana, tanpa sengaja ia malah menabrak seseorang karena tidak terlalu fokus menatap ke arah jalanan.


Bugh...


"Maafkan aku.. Aku benar-benar tidak sengaja." ucap Ansel sambil berusaha bangkit hendak meminta maaf dengan seseorang yang baru saja ia tabrak itu.


"Ansel/Amara!" pekik keduanya secara bersamaan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Ansel dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku minta maaf, aku sedang tidak ada waktu saat ini. Putriku tengah dalam kondisi yang kritis, aku benar-benar minta maaf..." ucap Amara kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Ansel begitu saja, membuat Ansel lantas menatapnya dengan tatapan yang bingung dan juga mengernyit akan tingkah laku Amara yang seperti terburu-buru itu.


Ansel yang melihat kepergian Amara barusan, tentu saja langsung terdiam sambil menatap ke arah kepergian wanita tersebut. Ansel terdiam sejenak seakan mencoba mencerna situasi yang saat ini mendadak menghampiri dirinya. Entah mengapa Ansel seakan merasa ada yang sesuatu yang salah saat ini. Hingga kemudian ketika ingatannya terhenti kepada sosok Aston yang seperti menyuntikkan sebuah cairan ke dalam infus milik seorang gadis kecil tersebut, lantas langsung membuat Ansel terkejut dengan seketika begitu menyadari akan hal ini.


***


Ruangan Cempaka


Ansel yang begitu penasaran akan semua hal yang saat ini berputar di kepalanya, lantas Langsung kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Ruangan Cempaka. Di mana tadi ia melihat segala kejadiannya di sana, langkah kakinya lantas terhenti dengan seketika begitu ia sampai di dekat ruangan tersebut dan terdengar tangisan yang begitu mengemukakan telinganya.


Mendapati hal tersebut membuat Ansel yang begitu penasaran akan suara tangisan tersebut, lantas langsung mencoba untuk melihat apakah firasatnya benar atau hanya sebuah praduga semata.

__ADS_1


Ketika sampai tepat di ambang pintu, manik mata Ansel langsung membulat dengan seketika. Segala hal yang baru saja berputar di kepalanya, nyatanya benar-benar terjadi saat ini. Ansel bahkan benar-benar menyesal karena tidak sempat menyelamatkan putri Amara saat itu. Jika Ansel tahu bahwa Aston mencelakakan putri dari Amara, tentu saja ia akan langsung berusaha untuk menyelamatkannya.


"Kau benar-benar sudah bodoh Ans!" ucap Ansel dengan beribu penyesalannya.


.


.


.


.


Amara yang mendapati kenyataan bahwa Putrinya baru saja telah meninggal, lantas mulai melangkahkan kakinya secara gontai keluar dari ruang perawatan tersebut. Ada sedikit perasaan terkejut ketika mendapati Ansel saat ini tengah duduk di ruang tunggu, seakan seperti tengah menunggunya saat ini.


Sambil menghela napasnya dengan panjang Amara mulai mengambil posisi duduk di sebelah Ansel saat itu, membuat Ansel lantas langsung menoleh ke arah samping ketika menyadari akan kehadiran seseorang di sebelahnya saat ini.


"Apa kamu sudah lama menunggu di sini?" tanya Amara kemudian memulai pembicaraan.


"Tidak terlalu, namun cukup untuk melihat segalanya yang terjadi tepat di depan mata ku." ucap Ansel yang lantas membuat helaan napas terdengar jelas berhembus kasar dari mulut Amara saat itu.


Sepertinya Amara mengira jika yang dimaksud oleh Ansel adalah kematian Putrinya baru saja. Amara bahkan hanya bereaksi biasa tanpa curiga ada sesuatu yang lain saat ini. Membuat Ansel yang melihat ekspresi raut wajah Amara, lantas langsung memberikannya ponsel miliknya yang tentu saja membuat Amara mengernyit dengan seketika.


"Ada apa ini An?" tanya Amara dengan raut wajah yang penasaran.

__ADS_1


"Lihatlah rekaman vidio tersebut, aku yakin pandangan mu akan langsung berubah!"


Bersambung


__ADS_2