Throwback

Throwback
Terasa aneh


__ADS_3

Pagi harinya


Ansel yang mendengar suara bunyi alarm dari ponselnya lantas terlihat mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan. Dipijatnya pelipisnya yang saat ini terasa berdenyut karena kurang tidur. Karena permasalahan yang di timbulkan Amar semalam, pada akhirnya Ansel baru bisa tidur pada pukul 5 pagi sampai saat ini. Itulah sebabnya kepalanya terasa begitu berdenyut karena hanya mendapat waktu tidur beberapa jam saja.


Ansel yang mendengar suara alarm berbunyi pagi ini, lantas langsung mengambil ponsel miliknya untuk melihat pemberitahuan apa di ponselnya hingga membuat alarm berbunyi di pagi ini.


Ada sedikit perasaan terkejut ketika Ansel menatap ke arah layar ponsel dan melihat pemberitahuan yang memang sengaja Ansel pasang ketika ia sampai di masa satu tahun yang lalu. Sebuah pemberitahuan yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari dimana kecelakaan yang membuat kakinya menjadi lumpuh terjadi. Melihat pemberitahuan itu Ansel lantas terdiam sejenak, pikirannya benar-benar melayang membayangkan setiap kejadian yang ia lalui setahun yang lalu.


"Apa ada sesuatu An?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Ansel terkejut seketika disaat mendengar suara Aslin dengan tiba-tiba.


Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas dari mulut Ansel begitu pertanyaan tersebut terlontar dati mulut Aslin, membuat Aslin yang melihat ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Ansel lantas menjadi bingung dan bertanya-tanya.


"Hari ini adalah hari di mana kecelakaan itu terjadi." ucap Ansel dengan raut wajah yang sendu.


Aslin yang mendengar jawaban dari Ansel barusan tentu saja langsung mengernyit dengan bingung. Sampai pada akhirnya Aslin yang semula tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Ansel barusan begitu melihat raut wajah Ansel yang sendu menatap ke arah kakinya, lantas membuat Aslin mulai mengerti. Dimana yang dimaksud Ansel adalah hari dimana kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh sebagian.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" ucap Aslin kemudian bertanya karena Ansel hanya diam dan terlihat tak bersemangat.


"Entahlah aku juga tidak tahu." ucap Ansel kemudian dengan raut wajah yang bimbang.


Melihat Ansel yang seperti itu lantas membuat Aslin melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Ansel berada kemudian menepuk pundak pria itu cukup keras, membuat Ansel yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja langsung menatap bingung ke arah Aslin.


"Apa yang kamu risaukan? Bukankah kamu sudah mengetahui alurnya? Yang perlu kamu lakukan adalah merubah alur tersebut selagi kamu bisa, tak perlu bersedih seperti itu!" ucap Aslin dengan nada yang santai membuat Ansel lagi-lagi menjadi terdiam ketika mendengar jawaban dari Ansel barusan.

__ADS_1


"Lalu jika hasilnya tetap sama bagaimana?" ucap Ansel sambil mengusap kakinya dengan perlahan seakan takut bahwa kejadian tersebut akan kembali terulang.


Melihat ekspresi wajah Ansel yang seperti itu lantas membuat Aslin langsung menarik tangan Ansel dan mengajaknya untuk bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu tidak akan tahu jika tidak mencobanya, mari lakukan yang terbaik selagi kamu bisa!" ucap Aslin sambil menarik tangan Ansel dengan sekuat tenaga.


"Tapi Asl..." ucap Ansel hendak menolak karena takut jika hari ini akan berakhir dengan sama di waktu masa satu tahun yang lalu.


"Sudahlah, bukankah kau datang untuk membuat perubahan? Jadi ayo lakukan dengan benar!" ucap Aslin dengan semangat 45 sambil terus menggeret tubuh Ansel agar mulai bergerak sekarang.


***


Di sebuah pusat pertokoan yang terletak di Ibukota, terlihat mobil yang dikendarai oleh Ansel berhenti di parkiran. Aslin yang merasakan mobil tersebut sudah berhenti di area pertokoan lantas mulai menatap dengan tatapan yang menelisik.


"Tunggu sebentar, jadi kamu mengalami kecelakaan di sini?" ucap Aslin bertanya-tanya sambil terus menatap ke arah sekitaran.


"Di sebelah mananya? Bukankah di sini tidak ada jalan besar? Lalu bagaimana kamu kecelakaan? Apakah ada mobil yang nyasar hingga tak sengaja menabrak kamu?" ucap Aslin mencoba untuk mereka adegan bagaimana kecelakaan Ansel terjadi.


Ansel yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Aslin barusan lantas langsung menggeleng dengan keras. Semua rekaan yang dikatakan oleh Aslin salah dan tidak pernah terjadi. Melihat Ansel hanya menggeleng tanpa mengiyakan pertanyaannya, membuat Aslin lantas mengernyit menatap dengan bingung ke arah Ansel.


"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" tanya Alena kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Ansel menghela napasnya dengan panjang kemudian menunjuk ke arah salah satu pusat perbelanjaan tak jauh dari posisinya berada, membuat Aslin langsung mengikuti arah tunjuk Ansel.

__ADS_1


"Di depan sana? Memangnya apa yang terjadi?" ucap Aslin yang kebingungan karena yang di tunjuk Ansel hanyalah sebuah pertokoan biasa dimana tidak ada mobil atau kendaraan besar yang bisa berlalu lalang di sana.


"Hari itu weekend dan aku yang berencana untuk membeli beberapa perlengkapan harus mendapatkan kemalangan yang tidak pernah aku duga. Sebuah papan reklame itu menimpa tepat di bagian kaki ku hingga membuat beberapa saraf di area kaki ke bawah kehilangan fungsinya." ucap Ansel mulai menjelaskan.


Mendengar penjelasan dari Ansel barusan lantas membuat Aslin menatap ke arah tunjuk Ansel, yang terlihat menunjuk ke arah sebuah papan reklame iklan dengan ukuran yang cukup besar. Tanpa melihat kejadiannya secara langsung Aslin yakin siapapun yang berada di bawahnya pasti akan tewas di tempat begitu terkena papan reklame tersebut. Hanya saja mengapa hanya di bagian kaki saja? Bukankah itu sedikit terasa aneh? Jika memang papan tersebut mengalami kelonggaran mur dan jatuh ke bawah, bukankah harusnya mengenai area kepala atau bahkan tubuh si korban? Mengapa malah kaki?


Aslin yang mendengar penjelasan tersebut lantas mulai menerka-nerka posisi jatuh Ansel dan anehnya tetap saja posisi jatuh Ansel benar-benar terasa aneh baginya.


"Jam berapa tepatnya kecelakaan itu terjadi?" ucap Aslin kemudian bertanya sambil terus menatap ke arah papan reklame tersebut.


"Harusnya 5 menit lagi dari sekarang." ucap Ansel sambil mengingat-ingat kejadian tersebut.


"Baiklah jika begitu mari kita tunggu 5 menit lagi." ucap Aslin kembali.


***


Lima menit kemudian


Setelah menunggu beberapa waktu sesuai dengan instruksi dari Ansel barusan, nyatanya hingga detik ini tidak ada apapun yang terjadi. Membuat Aslin dan juga Ansel lantas saling pandang antara satu sama lain karena memang tidak ada yang terjadi, bahkan papan reklame di atas masih terlihat kokoh.


Ansel yang juga terkejut akan apa yang terjadi kemudian langsung melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan mendongak ke arah atas seperti sedang memastikan mengapa papan tersebut tidak jatuh ke bawah kali ini.


Aslin yang melihat Ansel keluar dari mobil dan berlarian ke arah papan reklame tersebut, lantas ikut keluar dari dalam mobil. Ada sedikit perasaan terkejut ketika melihat tepat di atas papan reklame ada seseorang berpakaian serba hitam tengah berusaha memotong pengait dari papan reklame tersebut.

__ADS_1


"Awas An..." teriak Aslin.


Bersambung


__ADS_2