
"Pak Aston!" ucap Aslin dan juga Ansel di dalam hati secara bersamaan.
Baik Ansel maupun Aslin yang yakin dengan jelas bahwa itu adalah Aston, seseorang yang mereka anggap telah meninggal beberapa waktu yang lalu lantas terkejut dengan seketika. Aslin yang melihat Amara mulai berbalik badan kemudian mulai menarik tangan Ansel agar bersembunyi di area dekat lemari, membuat Ansel hanya bisa menunduk mengikuti arah tarikan Aslin saat ini.
"Bukankah dia pak Aston?" tanya Aslin dengan nada yang berbisik seakan mencoba untuk memastikan tebakannya benar.
Ansel yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas terlihat menganggukkan kepalanya secara perlahan kemudian melirik ke arah sekitar untuk mengintip sekaligus mencuri dengar percakapan Aston dan juga Amara.
"Kau benar dan aku yakin masih banyak kejutan lainnya yang kita tidak ketahui, aku harap secepatnya hal itu akan terungkap." ucap Ansel dengan nada yang berbisik.
Keduanya kemudian terlihat fokus menatap ke arah Amara dan juga Aston yang saat ini tengah terlibat pembicaraan yang begitu serius. Membuat Aslin dan juga Ansel mencoba untuk membuka telinga mereka dnegan lebar berusaha mendengar percakapan keduanya.
"Untuk apa lagi kamu menemui ku? Bukankah kamu tahu sendiri jika hari ini adalah janji temu aku dengan beberapa orang yang tersisa, bagaimana jika mereka melihat mu?" ucap Amara kemudian mulai memancing pembicaraan.
Amara sengaja melakukan hal tersebut seakan mencoba untuk memberitahukan kepada Ansel dan juga Aslin namun dengan cara yang lain.
"Kau tahu sendiri jika aku tidak akan diketahui kecuali kau yang mengatakannya secara langsung kepada mereka. Lagi pula mereka hanya lah sebuah boneka yang selalu kita gunakan setiap tahunnya, lalu untuk apa kau begitu mengkhawatirkan mereka semua? Apa kau tengah merencanakan balas dendam kepada ku saat ini?" ucap Aston dengan nada yang terdengar dingin.
__ADS_1
"Kau selalu mengatakan tentang balas dendam, tapi biar aku tekankan sekali lagi jika aku sama sekali tidak ingin balas dendam kepadamu melainkan berhenti dalam melakukan hal ini. Sudah cukup kita melakukan ini setiap tahunnya, biarkan aku hidup bahagia dengan putri ku." ucap Amara dengan nada yang memelas.
Mendengar perkataan dari Amara barusan tentu saja membuat Aston malah semakin marah karenanya, Aston kemudian bangkit dari tempat duduknya dan langsung mencengkram dagu milik Amara dengan erat, seakan tak suka sekaligus marah akan perkataan Amara barusan. Ditatapnya manik mata Amara dengan tatapan yang tajam, membuat Amara lantas langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendapati tatapan tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Amara berusaha melepas cengkraman tangan Aston di dagunya.
"Jangan pernah berharap untuk mencapai kebebasan, apa kau ingin melihat kematian Putri mu?" Jika kau masih ingin melihat Putri mu hingga kini sebaiknya kau terus melangkah dan jangan berhenti sebelum aku menyuruh mu untuk berhenti!" ucap Aston sambil menghempaskan dagu Amara begitu saja ke arah samping.
Membuat Amara langsung terdiam seketika tanpa bisa menjawabnya sama sekali. Amara yang berhasil memancing Aston untuk membuka segala rahasia tanpa harus dirinya yang membuka secara langsung rahasia tersebut, lantas tersenyum dengan tipis. Amara melirik ke arah depan seakan mencoba untuk memastikan jika Aslin dan juga Ansel mendengar segala percakapannya dengan Aston barusan.
***
Malam harinya
Di Apartemen milik Ansel terlihat Aslin dan juga Ansel tengah duduk sambil termenung dengan pemikiran mereka masing-masing. Mereka benar-benar tidak habis pikir akan sesuatu yang mereka dapatkan ketika menyusup ke dalam Mansion milik Amara tadi pagi. Baik Ansel maupun Aslin sama sekali tidak mengira jika Aston yang selama ini mereka anggap sudah meninggal dan menjadi korban selanjutnya, malah ternyata masih hidup dan merupakan dalang dibalik semua hal yang terjadi kepada mereka. Aslin bahkan tidak menyangka sama sekali jika Aston, seorang pria yang terlihat penyayang dan begitu rendah hati malah menjadi tokoh utama Antagonis yang sama sekali tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Aslin nampak melirik sekilas ke arah Ansel yang saat ini tengah duduk termenung merenungi segala informasi yang mereka dapatkan tadi. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Ansel, membuat Aslin lantas mulai membuka mulutnya karena gemas akan sikap Ansel yang terus-terusan diam sedari tadi.
__ADS_1
"Lalu apa sekarang? Apa kamu ingin memberitahu yang lainnya?" ucap Aslin kemudian.
"Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan saat ini, aku hanya terkejut akan kenyataan ketika mendapati pak Aston ternyata masih hidup. Aku bahkan sudah merasa bersalah akan kematian pak Aston kala itu, namun nyatanya ia malah menjadi dalang utama dalam segala hal yang terjadi kepada kita." ucap Ansel dengan raut wajah yang sendu.
"Jika pak Aston adalah dalang di balik segalanya, apakah pak Aston adalah elang dalam rantai makanan yang di gambar oleh Amara waktu itu?" ucap Aslin kemudian yang lantas membuat Ansel langsung menatap ke arahnya.
Ansel terdiam sejenak entah mengapa setelah tahu jika Aston adalah dalang dari segalanya, tetap saja Ansel merasa jika elang dalam gambar rantai makanan yang di gambar oleh Amara saat itu bukanlah Aston. Namun Ansel tidak tahu siapa elang dalam rantai makanan tersebut, sebelum Ansel dapat memastikannya Ansel rasa semua orang bisa menjadi kemungkinannya.
"Aku rasa bukan Asl karena pak Aston ikut bersama dengan kita kembali ke masa satu tahun yang lalu, jika ia adalah elang.. Bukankah tidak ada bedanya antara ia ikut atau tidak dalam perjalanan waktu saat itu." ucap Ansel mulai menjelaskan.
Mendengar perkataan dari Ansel barusan membuat Aslin lantas menatap ke arah gambar rantai makanan tersebut dengan tatapan yang intens, entah mengapa semakin segalanya terbuka dengan jelas semakin Aslin bingung siapa elang di balik rantai makanan yang di gambar oleh Amara saat itu.
"Jika memang begitu mari mulai kita urut dari bawah, jika padi adalah pak Arman, ulat adalah Arkan, tikus adalah Fatia, dan belalang adalah Fatma. Yang tersisa saat ini hanyalah kodok, burung pipit, ular, dua komponen tambahan dan juga burung elang. Entah siapa yang akan menduduki posisi terakhir nantinya, aku harap kita berlima akan selamat termasuk dengan Andi yang sudah tercatat sebagai korban selanjutnya." ucap Aslin sambil menatap ke arah gambar rantai makanan tersebut dnegan tatapan yang sendu.
"Yang jelas secepatnya kita harus mencari tahu siapa elang di antara kita semua, agar kita bisa menghentikan siklus rantai makanan yang akan terus terulang sebelum kita dinyatakan tewas dalam permainan." ucap Ansel dengan tatapan lurus ke arah depan yang di balas Aslin dengan anggukan kepala.
Bersambung
__ADS_1