Throwback

Throwback
Apa yang ia lakukan?


__ADS_3

"Lepaskan tangan mu sekarang juga!" ucap Ansel kemudian ketika melihat pemandangan yang saat ini terjadi di depan matanya.


Mendengar sebuah suara yang mendadak terdengar di telinganya saat itu, lantas langsung membuatnya dengan spontan melepas tangannya yang sedari tadi mencengkram dengan erat tangan Aslin.


Aslin yang melihat ada celah untuk dia pergi dan melarikan diri pada akhirnya langsung bergerak mendekat ke arah di mana Ansel berada saat ini, membuat Elsa yang mendapati hal tersebut hanya menatap kepergian Aslin tanpa bisa mencegahnya. Entah mengapa Elsa sedikit tak berdaya ketika melihat Ansel datang dan menghentikannya dengan seketika.


"Apa kau baik-baik saja As?" ucap Ansel dengan raut wajah yang penuh khawatir ketika melihat Aslin mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.


"Aku baik-baik saja, sebaiknya kita segera pergi dari sini dia benar-benar sudah gila!" ucap Aslin sambil melirik ke arah Elsa yang saat ini tengah menatap mereka dengan tatapan yang aneh.


"Ayo kita pergi sekarang! Jangan biarkan dia membuat kita menjadi lemah." ajak Ansel kemudian sambil menggenggam erat tangan Aslin tepat di depan mata Elsa saat itu.


Aslin yang seakan setuju dengan opsi yang diberikan oleh Ansel barusan, lantas langsung mengikuti ke mana ansel membawanya pergi dari sana sambil sesekali melirik ke arah Elsa yang saat ini tengah menatap keduanya dengan tatapan yang tajam. Aslin benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan saat ini. Setelah ia mengetahui segalanya dan mengetahui motif Elsa yang sesungguhnya, membuat Aslin hanya bisa menghela napasnya dengan panjang karena tidak menyangka jika Elsa lah dalang dibalik semua hal yang terjadi kepada mereka.


"Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepadamu selama ini El, jika aku tahu semua yang kamu alami tentu aku tidak akan mendorongmu semakin masuk ke dalam jurang kesendirian. Aku benar-benar menyesal karena telah membiarkanmu sendiri selama ini." ucap Aslin dalam hati sambil melirik ke arah Elsa yang tetap berada di ambang pintu bagian belakang rumahnya menatap ke arah kepergian keduanya saat itu.


***


Rumah sakit

__ADS_1


Setelah berhasil membawa Aslin pergi dari rumah kontrakannya tersebut, Ansel yang melihat luka di area kepala bagian belakang Aslin langsung membawanya ke rumah sakit detik itu juga.


Sesampainya di sana Aslin lantas terlihat langsung mendapat perawatan dari Dokter dan juga perawat jaga yang bertugas malam itu.


"Beruntung lukanya tidak terlalu dalam dan menyebabkan cedera serius di area kepala. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, setelah mengurus administrasi kalian sudah boleh pulang." ucap Dokter tersebut dengan ramah sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" ucap Ansel kemudian setelah kepergian dokter tersebut dari ruang UGD.


"Ya, seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja." ucap Aslin namun dengan raut wajah yang begitu lesu saat ini, membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Ansel begitu mendapati hal tersebut.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, aku harap kamu bisa menemukan jalan keluar dari kegundahan yang saat ini melanda hatimu. Apapun yang kamu ambil jalannya, aku tidak akan menghakimi mu. Aku tahu ini sangat berat mengingat Elsa adalah sahabatmu dari kecil, kalian berdua bahkan tumbuh bersama dan bermain bersama." ucap Ansel kemudian yang lantas semakin membuat Aslin gundah karenanya.


"Kamu tenangkan lah dulu dirimu, aku akan pergi untuk mengurus administrasinya setelah itu kita bisa pulang dan beristirahat." ucap Ansel yang dibalas Aslin dengan anggukan kepala.


"Terima kasih banyak.." ucap Aslin kemudian.


"Tak perlu sungkan." ucap Ansel kembali sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


***

__ADS_1


Setelah menyelesaikan administrasi milik Aslin, Ansel nampak mulai membawa langkah kakinya kembali menuju ke arah ruang UGD. Hanya saja belum sempat ia menuju ke arah sana, pandangan matanya menangkap sebuah sosok yang tak asing di ingatannya. Melihat hal tersebut membuat langkah kaki Ansel lantas langsung terhenti seketika begitu mendapati sosok tersebut sekelebat mata.


"Bukankah itu Aston? Untuk apa ia di sini?" ucap Ansel dengan raut wajah yang kebingungan.


Ansel yang sangat yakin jika itu adalah Aston, lantas langsung mulai membawa langkah kakinya untuk mencari keberadaan Aston. Jika ia tidak salah lihat Aston seperti menuju ke arah lorong sebelah kiri di mana posisinya berada saat ini, membuat Ansel yang yakin akan hal itu lantas langsung membawa langkah kakinya menuju ke arah sana siapa tahu ia masih bisa mengejar langkah kaki Aston.


Dengan langkah kaki yang bergerak perlahan tapi pasti, Ansel mulai mencoba untuk menyamai langkah kaki Aston dan mengejarnya jika memang ia tidak salah lihat sebelumnya. Sampai kemudian langkah kakinya kembali terhenti ketika ia berhasil mengejar Aston yang terlihat hendak memasuki sebuah ruang perawatan seseorang.


Ansel yang melihat Aston mulai masuk ke sebuah ruang perawatan seseorang, lantas langsung mempercepat langkah kakinya untuk melihat ruang perawatan siapa yang saat ini dimasuki oleh Aston.


"Ruang Cempaka? Siapa yang sedang di rawat di ruangan ini sebenarnya?" ucap Ansel ketika membaca sebuah tulisan yang terletak di dekat pintu ruang perawatan tersebut.


Ansel yang mulai penasaran akan siapa yang sedang dirawat di sana, lantas mulai perlahan mengintip dari balik kaca kecil yang terdapat di pintu tersebut. Sebuah pemandangan nampak terlihat di mana Aston tengah berbicara sendiri dengan seorang anak kecil yang sedang tertidur dengan menggunakan beberapa alat bantu pernapasan dan juga alat lainnya seperti tengah menunjang kehidupannya. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Ansel langsung mengernyit dengan seketika.


Entah mengapa gerak gerik Aston begitu terlihat mencurigakan, Ansel bahkan beberapa kali mendapati Aston seperti tengah tertawa sendiri. Ansel yang mulai curiga akan hal tersebut kemudian mulai mengambil ponselnya dan merekam semua tingkah laku Aston. Di bukanya sedikit pintu ruangan tersebut agar Ansel bisa mendapatkan gambar yang lebih jelas di sana.


Hingga kemudian tak berapa lama Ansel yang memang sudah mencurigai Aston sebelumnya, lantas mendapati Aston mulai menyuntikkan sesuatu kepada selang infus milik anak kecil tersebut yang tak berapa lama membuatnya mulai mengalami kejang-kejang.


"Apa yang ia lakukan sebenarnya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2