Throwback

Throwback
Aku membenci mu Aslin


__ADS_3

Taman


Setelah kejadian yang tidak terduga disaat mereka hendak membahas perihal kematian Andi. Pada akhirnya Ansel memutuskan untuk mengakhiri segala diskusi meski belum memulainya sama sekali.


Dan saat ini disalah satu bangku taman yang terletak di bahu jalan, terlihat Aslin tengah duduk termenung sambil menatap kosong ke arah depan. Pikiran Aslin saat ini benar-benar kacau dan juga penuh, membuatnya tidak tahu lagi harus berbuat apa disaat-saat seperti ini. Sedangkan Ansel yang melihat Aslin saat ini hanya duduk dengan termenung sambil melamun ke arah depan, lantas membuat Ansel langsung mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah dimana Aslin berada dan mengambil posisi duduk di sebelahnya.


"Minumlah, aku tahu dengan hanya meminum air mungkin tidak akan mengurangi rasa bersalah mu, namun setidaknya hal tersebut bisa menenangkan dirimu.." ucap Ansel sambil memberikan Aslin botol air mineral dingin.


Mendengar perkataan dari Ansel barusan, lantas membuat Aslin hanya menerima botol air mineral tersebut kemudian meminumnya secara perlahan tanpa protes sama sekali. Setelah itu menghela napasnya dengan panjang, membuat Ansel yang melihat Aslin hanya diam saja. Lantas langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang intens, seakan bertanya apa yang membuat Aslin begitu merasa terpukul akan kata-kata Elsa tadi.


"Aku minta maaf karena telah merusak segalanya." ucap Aslin dengan senyuman yang di paksakan.


"Apakah dia adalah teman yang kamu katakan sebelumnya?" tanya Ansel kemudian yang lantas membuat Aslin langsung menoleh ke arahnya.


"Em.. Ya, bukankah aku tampak begitu bodoh? Setelah aku pergi jauh untuk menyelamatkannya. Dan kini ketika semuanya sudah berhasil, bukannya menikmati hasil dari jerih payah ku yang aku lakukan malah bertengkar dengannya. Benar-benar menyebalkan!" ucap Aslin dengan raut wajah yang sendu.


"Tak perlu merasa bersalah, terkadang semua hal tidak sesuai dengan ekspetasi kita, jadi kita harus selalu bersiap dengan apapun yang akan kita terima ke depannya." ucap Ansel yang lantas membuat Aslin tersenyum ketika mendengarnya.

__ADS_1


"Aku tahu akan hal itu, hanya saja jujur aku sama sekali tidak pernah menyadari segala hal yang Elsa rasakan selama ini dan aku menyesal atas segala hal yang menimpa Elsa. Jika aku tahu apa yang Elsa rasakan mungkin aku akan memperlakukannya lebih baik lagi. Bukankah aku nampak begitu egois?" ucap Aslin dengan tersenyum kecut mengatakan segala unek-uneknya.


"Tidak ada yang akan mengetahui isi hati masing-masing, mereka berada dalam jiwa setiap manusia. Jika kamu mengatakan menyesal karena tidak menyadari tentang isi hatinya, maka kamu pasti akan terus berada dalam jurang keterpurukan karena kamu tidak akan pernah bisa mengetahui isi hati setiap orang, kecuali ya jika kamu mempunyai kelebihan bisa membaca isi hati seseorang atau bahkan menjadi seorang cenayang, bukankah begitu?" ucap Ansel dengan nada yang terdengar datar, namun benar-benar membuat Aslin melongo ketika mendengarnya.


Mendengar perkataan Ansel barusan, Aslin yang semula sudah terhanyut ke dalam setiap kata manis yang keluar dari mulut Ansel barusan. Mendadak langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika Ansel malah menyelipkan komedi di akhir kalimatnya. Saking kesalnya Aslin bahkan sampai menepuk pundak Ansel cukup keras, membuat Ansel lantas terkejut akan tindakan impulsif yang barusan dilakukan oleh Aslin kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan ha?" ucap Ansel sambil mengusap pundaknya selama beberapa kali karena terasa sakit akibat pukulan dari Aslin yang tiba-tiba barusan.


"Kau benar-benar menyebalkan! Apa kau tahu itu?" ucap Aslin sambil memasang raut wajah yang cemberut, membuat tawa kecil lantas terdengar di telinga Aslin.


Entah mengapa mendengar kata-kata Ansel barusan benar-benar membuat hatinya lebih tenang. Ansel dan juga Aslin bahkan baru mengenal beberapa waktu lalu dan tidak saling mengetahui seluk beluk masing-masing, namun entah mengapa Aslin selalu saja merasa tenang jika mendengar perkataan dan berada di samping Ansel seperti ini, membuat Aslin terkadang lupa jika ia dan juga Ansel bukanlah siapa-siapa. Keduanya terikat karena suatu permasalahan dan jika semuanya telah selesai, baik Aslin maupun Ansel pasti akan kembali ke kehidupan mereka masing-masing.


"Terima kasih banyak An... Aku akui kata-katamu itu benar-benar membuat ku tenang." ucap Aslin sambil tersenyum simpul.


"Tentu saja, bukankah aku luar biasa?" ucap Ansel dengan percaya diri.


"Benar-benar perasan!" ucap Aslin sambil memutar bola matanya dengan jengah.

__ADS_1


***


Sementara itu di rumah kontrakannya, terlihat Elsa tengah duduk sambil termenung di samping ranjang tempat tidurnya. Elsa benar-benar merutuki kehidupannya yang selalu saja merasa kesepian dan juga sendiri tanpa ada seorangpun yang berada di sampingnya ataupun menjadi pendamping hidupnya.


Elsa mengusap rambutnya dengan kasar seakan merasa frustasi akan kehidupannya. Segala hal yang ada di hidupnya selalu saja mengalami kegagalan, sedangkan apapun yang dilakukan oleh Aslin selalu saja mencapai keberhasilan dan Elsa membenci semua itu.


Sudah cukup Elsa mengalah dan menjadi bayang-bayang dari Aslin, Elsa sudah benar-benar lelah akan segala hal yang tak berjalan semestinya.


Elsa bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya dengan bergegas ke arah almari pakaiannya. Diacak-acak nya bagian dalam almari dengan sembarangan karena mencari sesuatu hal. Sebuah buku diary lama terlihat berada di genggaman tangan Elsa saat ini, membuat Elsa langsung membukanya dengan kasar tepat di halaman tengah buku diary tersebut.


"Aku bahkan menyimpannya dengan begitu rapi di dalam almari ku tapi kau.. Kau malah seenaknya mengukir nama wanita lain di hatimu. Apa kau tidak memikirkan ku?" ucap Elsa dengan nada setengah berteriak kemudian melempar buku diary tersebut ketika melihat nama Ansel tertera begitu jelas pada buku diary miliknya.


Elsa benar-benar merasa kesal akan dunia yang begitu kejam kepadanya. Apa yang terjadi kepadanya Elsa sama sekali tidak bisa menerima akan hal tersebut, membuat Elsa kembali bangkit dari posisinya dan langsung melangkahkan kakinya ke arah ranjang miliknya. Tanpa aba-aba Elsa mengacak-acak kasurnya dengan kasar dan melempar guling miliknya ke sembarang arah.


"Aku membenci mu Aslin! Aku benar-benar membenci dirimu Arggggg..." ucap Elsa dengan nada yang meninggi dan juga kesetanan sambil melempar beberapa barang miliknya secara sembarangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2