Throwback

Throwback
Tetap akan terjadi


__ADS_3

Ruangan UGD


Dokter yang mengenakan masker tersebut lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana ranjang pasien dimana Rani berada. Seulas senyuman nampak terlihat terbit dari wajah Dokter tersebut yang tertutup dengan masker ketika langkah kakinya semakin dekat ke arah Rani yang tengah berbaring di sana, dimana terlihat Rani tengah membuka matanya namun tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menatap ke area sekeliling saat itu.


Rani yang baru tersadar dari komanya, awalnya hanya terdiam sambil menatap gerakan Dokter tersebut yang semakin mendekat ke arah dimana ia berada. Sampai kemudian ketika Dokter tersebut membuka masker di wajahnya, Rani lantas terkejut ketika ternyata Dokter tersebut adalah seseorang yang sangat ia kenali.


Rani yang tahu siapa orang tersebut lantas berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dari sana, namun anehnya tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak dan mengeluarkan suara apapun. Membuat ranjang pasiennya hanya bergerak sedikit saja seperti orang yang kejang dengan mata yang melotot.


"Ssttt jangan berisik kamu bisa membangunkan semua orang, aku datang hanya untuk menjenguk." ucap Dokter gadungan tersebut.


"E.....l....s.....a....." ucap Rani dengan pengucapan yang sama sekali tidak jelas ,namun berhasil membuat Dokter gadungan tersebut atau yang tak lain adalah Elsa nampak tersenyum dengan simpul.


"Katakan lagi Ran! Aku suka mendengar suara tersendat mu itu..." ucap Elsa yang seakan menyukai keadaan Rani saat ini.


Rani benar-benar terkejut akan kedatangan Elsa di sini. Rani bahkan masih terkejut akan sebuah fakta yang ia dapat jika ternyata Elsa adalah dalang di balik semua peristiwa ini.


"Bagaimana bisa Elsa ada di sini? Siapapun tolong aku..." ucap Rani dalam hati sambil melirik ke area sekitar dan mencari pertolongan, namun sayangnya yang ada di sana hanyalah ia dan juga Elsa saja.


"Kau tahu? Mengapa aku melakukan ini padamu? Jawabannya karena orang angkuh seperti mu harus mendapat balasan yang setimpal, kelakuan mu ketika di kampus dulu benar-benar membuat ku sampai di keluarkan dari kampus saat itu. Kau pikir sesuatu yang mengerikan sama sekali tidak bisa ku lakukan ha? Tenanglah... Tenang... Pasien yang aku bunuh tidak hanya kau seorang, jadi akan aku pastikan jalan mu naik ke atas akan sangat mudah dan tidak sakit, bagaimana Ran? Apakah aku nampak sangat baik hati." ucap Elsa dengan nada yang begitu kesal.

__ADS_1


Rani yang mendengar perkataan dari Elsa tentu hanya bisa menggeleng sambil meneteskan air mata di sudut matanya. Tidak ada yang bisa Rani lakukan saat ini, apa yang ia lakukan di masa lalu memanglah sangat keterlaluan namun ia tidak ingin semuanya berakhir seperti ini.


"Ku mohon jangan lakukan ini El, aku benar-benar minta maaf..." ucap Rani dalam hati sambil kembali meneteskan air matanya.


Elsa yang melihat Rani menangis sama sekali tidak perduli dan langsung merogoh saku jasnya mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam sana.


"Kau lihat ini, dengan satu suntikan ini aku akan mengantar mu naik ke atas dengan cepat. Katakan selamat datang pada malaikat maut mu baby..." ucap Elsa dengan senyum yang mengembang sambil menyuntikkannya ke dalam infus milik Rani saat itu.


"Sampai jumpa di atas sana, namun sepertinya kita tidak akan bertemu lagi karena jalan kita berbeda hihihi." ucap Elsa dengan tawa kecil di akhir kalimatnya.


Setelah mengatakan hal tersebut Elsa kembali memasang masker di wajahnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Rani di sana. Tak lama setelah kepergian Elsa dari sana sesuatu nampak terjadi kepada Rani, detak jantungnya mendadak menjadi tak stabil di sertai dengan kejang dalam waktu yang cukup lama. Suara monitor yang memantau kerja jantung Rani mulai berbunyi dengan kencang. Membuat beberapa Dokter jaga nampak berlarian menuju ke arah kamar Rani ketika mendengar kode blue berasal dari kamarnya.


Tak lama kemudian dari arah pintu nampak beberapa Dokter dan perawat masuk ke dalam UGD untuk memberikan pertolongan kepada Rani dengan melakukan CPR dan mengembalikkan detak jantung Rani. Hanya saja setelah beberapa menit melakukan CPR tak ada satu pun reaksi yang di tunjukkan oleh Rani, membuat Dokter tersebut mulai menghentikan gerakkannya dan menatap ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Waktu kematian hari Senin tanggal 11 Juni 2023 pukul 04.30 pagi, segera kabari pihak keluarga jika pasien sudah meninggal dunia." ucap seorang Dokter yang melakukan penanganan kepada Rani.


Rani telah pergi untuk selamanya dengan membawa sebuah rahasia dimana ternyata Elsa adalah pembunuh yang selama ini mereka cari tahu. Tidak ada yang akan menyangka jika Elsa yang terlihat begitu polos, nyatanya merupakan seorang psiko yang telah membunuh beberapa orang dengan kejam tanpa merasa bersalah sama sekali.


***

__ADS_1


Area gudang belakang Rumah sakit.


Tak tak tak


Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik saat itu, lantas membuat keheningan yang terjadi di sana kian terasa. Elsa yang baru saja berhasil menghabisi Rani nampak bernyanyi dengan kecil sambil berusaha membuka jas Dokter yang ia gunakan saat ini. Rani melempar jas tersebut tepat ke sebuah tong sampah yang berada di area gudang belakang baru setelah itu masker yang sudah ia gunakan sedari tadi.


Sambil mengebas-kebaskan tangannya Elsa nampak tersenyum dengan simpul dan detik berikutnya tertawa dengan raut wajah yang begitu bahagia, hingga ia bahkan sampai meneteskan air matanya sedikit.


"Satu persatu orang telah terbang ke atas, kini yang tersisa hanya tinggal Fadlan, Ansel dan juga sahabat ku Aslin. Aku bahkan tak pernah mengira jika Aslin akan meregang nyawa di tangan ku sendiri, hanya saja sayangnya dia lah yang memutuskan hal tersebut tanpa aku minta. Karena tinggal tiga orang.. Bagaimana jika kita buat permainan ini semakin menyenangkan?" ucap Elsa dengan senyuman yang menyeringai menatap lurus ke arah depan sebelum pada akhirnya kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana.


***


Kediaman Amara


Dari arah pintu masuk terlihat Amara mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya. Dengan langkah kaki yang perlahan Amara mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah meja kerjanya dan mengambil duduk di sana dengan perasaan yang gelisah. Ditatapnya sebuah kalender yang terpajang dengan rapi di meja kerjanya, membuat helaan napas terdengar berhembus dengan kasar begitu Amara melihat ke arah kalender tersebut.


"Mulai hari ini segalanya akan dimulai, apa yang sudah di gariskan pasti akan tetap terjadi walau kamu merubah alur ceritanya sekalipun." ucap Amara dengan nada yang datar sambil menatap ke arah kalender tersebut dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2