
"Elsa tak menyukainya, apa kamu puas?" ucap Aslin pada akhirnya.
Mendengar alasan Aslin barusan tentu saja membuat Ansel mengernyit dengan tatapan yang bingung, Ansel sendiri bahkan tidak tahu siapa Elsa namun Aslin malah membawa-bawa nama Elsa sebagai alasannya.
"Aku bahkan tidak mengenalnya, jadi mari kesampingkan hal itu dan pikirkan hal lainnya yang lebih penting." ucap Ansel kemudian membuat Aslin langsung terkejut seketika disaat mendengar jawaban dari Ansel barusan.
"Apa kamu sungguh tidak mengenal Elsa?" ucap Aslin dengan raut wajah yang bingung.
"Iya, aku sama sekali tidak mengenalnya, apakah aku harus mengetahuinya sekarang? Ayolah jangan mengalihkan pembicaraan." ucap Ansel dengan raut wajah yang mulai kesal.
Aslin yang terdiam di tempatnya bahkan benar-benar terkejut jika Ansel sama sekali tidak mengenali sosok Elsa. Padahal jelas-jelas ketika pertengkaran antara Elsa dan juga dirinya terjadi malam itu, Aslin bahkan mengira bahwa Ansel adalah seseorang yang sangat spesial bagi Elsa, namun nyatanya Ansel sama sekali tidak mengenal Elsa. Membuat Aslin langsung terdiam dengan segala pemikiran yang saat ini tengah berputar di kepalanya.
"Aku malas berdebat dengan mu sebaiknya kita akhir saja perdebatan ini, aku harap kamu bisa memikirkannya secara baik-baik." ucap Ansel pada akhirnya mengakhiri perdebatan keduanya.
Setelah mengatakan hal tersebut Ansel kemudian kembali melajukan mobilnya menuju ke Apartemennya, sedangkan Aslin hanya bisa terdiam sambil merenungi segalanya.
"Jika Elsa dan Ansel tidak saling mengenal itu artinya kemungkinan terbesarnya Elsa hanya tidak suka aku memiliki seorang pasangan dan meninggalkannya, hanya itu kemungkinan terbaiknya dan aku harap memanglah sebuah kebenaranya." ucap Aslin dalam hati mencoba untuk menerka-nerka segalanya.
***
Keesokan harinya
__ADS_1
Hari ini adalah tepat satu bulan setelah janji temu yang Amara buat kala itu, seperti biasanya satu persatu peserta yang mengikuti perjalanan waktu saat itu lantas mulai di jemput di tempat semula seperti sebelumnya. Hari itu mobil yang membawa Aslin melaju dengan kecepatan yang sedang membelah jalanan menuju ke arah kediaman Amara.
Aslin terlihat menatap ke arah jendela memikirkan segala hal yang saat ini tengah berputar di kepalanya, helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya. Saat ini bebannya bukan hanya terletak pada kejadian yang ia alami, namun juga bertambah dengan renggangnya hubungan diantara Aslin dan juga Elsa.
"Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki hubungan ku dengan Elsa? Mengapa rasanya sulit sekali?" ucap Aslin dalam hati sambil terus menatap ke arah kaca jendela mobil tersebut.
***
Mansion Amara
Satu persatu mobil yang membawa beberapa orang yang tersisa lantas terlihat mulai berhenti di halaman depan kediaman Amara. Andi, Fadlan dan juga Rani terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Ansel dan juga Aslin berada. Raut wajah kelimanya nampak begitu sendu dan juga aneh membuat suasana pertemuan kelimanya kian terasa canggung.
Semua orang nampak terdiam, apa yang dikatakan oleh Fadlan adalah sebuah kebenarannya. Tapi nyatanya semua hal sudah terjadi dan tidak akan bisa terulang kembali. Apa yang mereka semua perbuat adalah sebuah kesalahan yang mungkin sulit untuk mereka tebus dengan hanya sebuah kata menyesal.
"Aku tahu semua pasti terkejut akan apa yang terjadi kepada kita belakangan ini, namun kita harus terus maju dan berusaha untuk mencegah segalanya. Mari kita terus berkomunikasi agar tahu keadaan kita antara satu sama lain. Aku yakin dengan seperti itu kita bisa mengurangi resiko tersebut walau mungkin peluangnya hanya sedikit saja tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba hal tersebut." ucap Ansel kemudian yang lantas membuat mereka semua menganggukkan kepala mereka hampir secara bersamaan.
"Aku setuju" ucap Rani di susul yang lainnya.
Setelah sepakat akan saran dari Ansel barusan, satu persatu dari mereka mulai memindai nomor whatsApp mereka untuk saling berhubungan. Tidak hanya itu mereka bahkan saling memasang GPS dan saling men-download sebuah aplikasi yang dapat mengetahui di mana letak keberadaan antara satu dengan yang lainnya. Mereka tahu hal ini mungkin tidak lah dapat menanggulangi secara keseluruhan, namun mereka akan mencoba mengurangi sedikit angka kematian dari mereka yang tersisa.
Disaat semua orang tengah sibuk menyusun rencana untuk saling menyelamatkan, seorang bodyguard nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah kelimanya dan langsung menghentikan percakapan mereka dengan seketika saat itu.
__ADS_1
"Kalian semua sudah di tunggu, segeralah masuk ke dalam." ucap bodyguard tersebut.
Mendengar hal itu lantas membuat satu persatu dari mereka mulai meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam mansion. Raut wajah mereka benar-benar terlihat tidak enak ketika langkah kaki mereka mulai terlihat menyusuri area mansion milik Amara.
Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Amara ketika melihat satu persatu dari mereka yang tersisa nampak menduduki kursi yang tersedia di ruangan tersebut, di mana yang semula terisi penuh kini menjadi lebih kosong karena beberapa dari mereka sudah tewas dan juga mengalami insiden yang tak pernah mereka inginkan sama sekali.
"Selamat datang kembali, bagaimana kabar kalian? Apakah semuanya berjalan dengan baik?" ucap Amara kemudian menyapa beberapa orang di sana.
Hanya saja bukan senyuman ceria yang Amara dapatkan sebagai balasan melainkan raut wajah yang sendu dari masing-masing orang kala itu. Amara yang mengetahui dengan jelas apa yang membuat wajah semua orang begitu sendu, lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
"Apa pertanyaan dari mu itu masih harus kami jawab? Kau bahkan lebih mengetahui segalanya di banding kami, jadi jangan coba-coba menipu kami dengan senyuman palsu mu itu." ucap Andi dengan raut wajah yang begitu kesal ketika melihat senyuman di wajah Amara saat itu.
"Aku hanya lah seorang perantara, bukankah tidak ada paksaan agar kalian mengikuti ku bukan? Lalu bagian mananya yang membuat kalian begitu marah?" ucap Amara kemudian dengan raut wajah yang begitu santai membuat emosi semua orang kian membara saat itu.
"Kau benar-benar kelewatan! Apa nyawa seseorang adalah sebuah mainan untuk mu?" ucap Andi lagi dengan nada yang meninggi.
Namun sayangnya jawaban dari pertanyaan Andi barusan hanyalah sebuah senyuman tanpa perkataan sama sekali membuat situasinya semakin menegangkan. Andi berdecak dengan kesal ketika mendapati hal tersebut, sampai kemudian sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Fadlan lantas mengejutkan yang lainnya.
"Jika memang kamu tidak ingin memberi jawaban akan hal itu, jika begitu katakan siapa korban selanjutnya diantara kami berlima?" ucap Fadlan kemudian.
Bersambung
__ADS_1