Throwback

Throwback
Apa yang bisa ia lakukan


__ADS_3

"Apa yang sedang kakak lakukan sebenarnya ha?" pekik Ansel dengan nada yang emosi.


Amar yang melihat kehadiran Ansel dengan tiba-tiba tentu saja langsung terkejut. Sambil berusaha bangkit dari posisinya Amar kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Ansel berada, seakan berusaha untuk menjelaskan sesuatu sebelum pada akhirnya Ansel benar-benar marah akan apa yang sudah ia lakukan kepada Aslin baru saja.


"Ini salah paham An, dia yang menggoda Kakak! Kamu percaya kepada Kakak bukan? Wanita ini penuh dengan tipu muslihat." ucap Amar mencoba untuk mulai memanipulasi cerita berharap dengan begitu Ansel akan percaya kepadanya.


Ansel yang mendengar penjelasan dari Amar barusan tentu saja terkejut dengan seketika. Ditatapnya Aslin yang saat ini nampak bangkit secara perlahan dengan tatapan yang kosong ke arah depan, membuat Ansel lantas semakin bimbang akan siapa yang berkata benar dan siapa yang berkata salah kali ini.


Aslin yang tahu bahwa Ansel tengah bimbang saat ini, lantas tak ingin memperpanjang masalah dan hanya diam tanpa menanggapi tuduhan dari Amar padanya.


"Mengapa Aslin hanya diam? Tidakkah ia berusaha untuk membela diri?" ucap Ansel dalam hati bertanya-tanya.


Melihat kediaman Aslin barusan lantas membuat Ansel yakin bahwa telah terjadi sesuatu selama ia pergi. Ansel yang tahu betul sifat dan watak kakaknya lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Amar berada.


Seulas senyum lantas terbit dari wajah Amar ketika melihat Ansel melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana ia berada karena mengira bahwa Ansel mempercayai segala perkataannya barusan yang mengatakan bahwa Aslin telah menggodanya.


"Aku tahu kamu pasti percaya kepadaku kita kan..." ucap Amar dengan nada yang terdengar percaya diri namun terpotong seketika disaat ia malah mendapatkan sebuah pukulan keras di pipinya.


Bugh...


Ansel benar-benar melayangkan pukulan kepada Amar hingga membuatnya terhuyung beberapa langkah karena tidak siap akan serangan secara mendadak dari Ansel barusan. Sedangkan Amar yang mendapat pukulan tersebut tentu saja langsung terkejut seketika, Amar bahkan tidak menyangka bahwa ia malah mendapat sebuah pukulan telak dari Ansel barusan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan ha? Mengapa kau malah memukul ku?" ucap Amar dengan nada yang kesal membuat Ansel yang melihat Amar begitu marah kepadanya lantas tersenyum dengan tipis.


"Jangan pikir aku akan percaya kepada Kakak begitu saja, hanya orang bodoh yang selalu terjatuh ke dalam jurang yang sama lagi dan lagi. Jika Kakak mengatakan bahwa Aslin lah yang menggoda Kakak, mengapa tidak kita lihat saja pada rekaman kamera pengawas? Bukankah dengan begitu semuanya akan lebih jelas? Bagaimana? Apa Kakak berminat?" ucap Ansel dengan nada yang mengintimidasi.


Mendengar perkataan dari Ansel barusan lantas membuat Amar terdiam seketika. Amar bahkan sampai tidak menyadari tentang adanya kamera pengawas di lingkungan Apartment ini, jika memang Amar mengetahuinya dari awal mungkin ia akan lebih bertindak hati-hati dan memikirkan segalanya sebelum memutuskan untuk bertindak.


"Sialan!" ucap Amar dalam hati dengan raut wajah yang berubah tidak enak.


Sedangkan Ansel yang melihat perubahan raut wajah dari Amar barusan tentu saja langsung tersenyum dengan sinis. Ansel benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ansel yakin Aslin tidak akan melakukan sesuatu sehina itu. Lagi pula kedatangan Amar pagi-pagi buta begini di Apartemennya sudah terasa aneh, jika Amar memanglah Pria baik-baik ia pasti akan lebih memikirkan situasi Apartment yang akan ia kunjungi, ketimbang datang sesuka hatinya dan mengganggu ketenangan si pemilik Apartment.


"Bagaimana kak?" ucap Ansel sekali lagi menawarkan kepada Amar untuk melihat rekaman kamera pengawas karena memang Amar belum memberikan jawaban apapun kepada Ansel tentang kejadian ini.


"Sepertinya tidak perlu, situasi saat ini benar-benar tidak kondusif lebih baik Kakak pulang saja... Lain kali Kakak akan mengunjungimu lagi." ucap Amar kemudian pada akhirnya memutuskan untuk pulang daripada melanjutkan perkara ini hingga sampai melihat rekaman kamera pengawas.


"Apa Kakak yakin?" ucap Ansel kembali bertanya sekali lagi kepada Amar.


"Iya tentu, sebaiknya Kakak pulang dulu..." ucap Amar kemudian sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Apartment Ansel begitu saja dengan raut wajah yang tidak mengenakan.


Melihat kepergian Amar dari sana lantas membuat Ansel tertawa dengan terkekeh, sedangkan Aslin yang melihat Ansel malah tertawa seperti itu lantas menatap ke arah Ansel dengan tatapan yang bertanya-tanya akan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Ansel barusan.


"Apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Ansel dengan raut wajah yang penasaran begitu melihat raut wajah Aslin barusan.

__ADS_1


"Mengapa kamu tertawa?" tanya Aslin kemudian bertanya-tanya.


"Tidak ada, tapi kmu tenang saja aku percaya kepadamu... Dia memang Kakak ku tapi aku juga kenal bagaimana karakternya. Aku minta maaf ya karena ia tadi sudah melecehkan mu, apa kamu baik-baik saja? Apa aku harus memanggil dokter untuk mu?" tanya Ansel kemudian kali ini dengan raut wajah yang khawatir menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang menelisik mencoba mencari tahu apakah Aslin terluka atau tidak.


"Tidak perlu, aku beruntung karena kamu datang tepat disaat Kakak mu hampir mencumbu diriku." ucap Aslin dnegan nada yang sendu.


"Apa kamu yakin? Kalau kamu mau aku bisa..." ucap Ansel yang merasa tidak enak kepada Aslin karena apa yang terjadi kepadanya merupakan bentuk dari kesalahannya juga.


"Sudah tidak perlu... Aku sungguh baik-baik saja." ucap Aslin kembali memotong pembicaraan Ansel barusan.


****


Di salah satu rumah yang terletak di Ibukota, terlihat Amar tengah terduduk sambil menatap kosong ke arah dinding bercat putih di ruangannya. Amar benar-benar merasa telah di permalukan oleh Ansel. Bukankah seharusnya keluarga itu saling melindungi? Bagaimana bisa Ansel malah membela Aslin yang notabennya adalah orang luar?


Amar yang terlanjur kesal akan perkataan dan juga perilaku Ansel kepadanya lantas mulai berdecak dengan kesal. Bagaimana pun juga Ansel harusnya tetap berdiri bersama dengannya apapun yang terjadi.


"Benar-benar Ansel sialan! Lihat saja kau..." ucap Amar dengan nada yang meninggi sambil menendang meja di sebelahnya dengan keras.


Amar yang terlanjur kesal akan perlakuan Ansel padanya lantas terlihat bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah jendela ruangan tersebut dengan tatapan yang tajam.


"Benar-benar sombong... Aku ingin lihat apa yang bisa dilakukan oleh anak itu ketika kedua kakinya tak lagi bisa menginjak tanah ataupun berlari!" ucap Amar kemudian dengan nada penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah depan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2