Throwback

Throwback
Pak Aston!


__ADS_3

"Jika memang kamu tidak ingin memberi jawaban akan hal itu, jika begitu katakan siapa korban selanjutnya diantara kami berlima?" ucap Fadlan kemudian.


Mendengar pertanyaan dari Fadlan barusan lantas membuat Amara kembali tersenyum, ditatapnya satu persatu dari lima orang yang tersisa di ruangan tersebut. Membuat Amara kemudian perlahan-lahan mulai menunjuk ke arah di mana Andi berada saat ini, semua orang yang melihat arah tunjuk Amara saat ini tentu saja terkejut bukan main ketika Amara ditanya jawaban yang ia lakukan hanya menunjuk ke arah Andi yang berarti bahwa korban selanjutnya adalah Andi.


Andi yang ditunjuk dengan tiba-tiba tentu saja langsung gelagapan bukan main, bagaimana bisa mendadak ia jadi korban selanjutnya? Disaat Andi berhasil memenangkan lotre dengan nominal yang besar.


"Bagaimana bisa kau menunjuk ku ha? Apa kau sudah gila?" ucap Andi dengan nada yang kesal.


Andi yang tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika ia mengetahui korban selanjutnya adalah dirinya, membuat Andi begitu emosi dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Amara berada hendak melabrak wanita itu. Andi benar-benar tidak terima akan jawaban dari Amara yang mengatakan bahwa ia adalah korban selanjutnya.


"Kau benar-benar wanita pembawa sial, kemari kau!" ucap Andi dengan nada yang berteriak sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Amara berada saat ini.


Hanya saja ketika langkah kaki Andi hampir mencapai ke tempat di mana Amara berada saat ini, dua orang Bodyguard nampak menghentikan langkah kakinya dan memegangi kedua tangannya dengan erat membuat Andi tidak bisa lagi bergerak ataupun mendekat ke arah di mana Amara berada.


"Lepaskan aku.. Lepaskan aku... Biarkan aku menghukum wanita itu!" ucap Andi dengan nada yang berteriak sambil berusaha melepas cengkraman tangan kedu Bodyguard tersebut.


Semua orang yang melihat kejadian di hadapannya saat itu benar-benar hanya bisa terdiam tanpa bisa bertindak ataupun mencegah Andi. Mereka jelas tahu bagaimana perasaan Andi saat ini, membuat mereka tidak berani untuk memisah ataupun menghentikan Andi untuk melayangkan protes kepada Amara.


Disaat semua orang tengah terdiam dan tengah fokus akan segala hal yang terjadi kepada Andi, lain halnya dengan Ansel yang mencoba memberikan kode kepada Aslin untuk mulai bergerak sekarang. Aslin yang mengerti akan kode tersebut lantas perlahan-lahan mulai mengikuti arahan Ansel dan bergerak melipir ke arah samping untuk bisa masuk ke dalam ruangan inti Mansion milik Amara.


Beberapa bodyguard yang menahan Andi kemudian terlihat mulai mendorong tubuh Andi untuk keluar dari sana begitu pula Fadlan dan juga Rani. Pertemuan kali ini ditutup dengan kericuhan tanpa pembahasan seperti sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


Bruk


Suara pintu utama yang ditutup dengan keras oleh beberapa Bodyguard lantas mengejutkan Rani, Fadlan dan juga Andi yang sudah berhasil diusir keluar dari area Mansion Amara. Ketiganya nampak berwajah begitu kesal ketika mendapati bahwa ketiganya diusir begitu saja dari dalam Mansion tersebut.


Fadlan yang menyadari ada yang kurang dari mereka kemudian mulai menatap ke arah sekitar dan mencari tahu apa yang hilang pada rombongan ini.


"Kemana Ansel dan juga Aslin?" tanya Fadlan kemudian ketika ia menyadari jika dua orang tersebut menghilang.


"Sepertinya aku tadi melihat mereka berdua menyusup ke dalam." ucap Rani yang lantas membuat Fadlan dan juga Andi menoleh ke arah Rani begitu mendengar jawaban tersebut.


Ketiganya kemudian nampak terdiam apalagi Andi, terlihat jelas gurat wajah kesedihan serta amarah bercampur menjadi satu yang membuatnya sama sekali tidak enak di pandang.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Rani kemudian.


Andi yang mendengar jawaban dari Fadlan barusan tentu saja tidak terima, bagaimana mungkin di saat Andi mengetahui jika dia adalah korban selanjutnya, Fadlan malah menyuruhnya pulang dan menunggu kabar dari Ansel dan juga Aslin. Bukankah hal itu sungguh-sungguh menyebalkan? Andi yang tidak terima akan perkataan dari Fadlan barusan, lantas langsung menarik tangan Fadlan membuat langkah kaki Fadlan langsung terhenti seketika.


"Apa kau sudah gila? Aku bahkan sebentar lagi akan mati, tapi kau malah sesantai itu!" ucap Andi dengan nada yang kesal.


"Berpikirlah lebih rasional lagi, apa dengan mengedepankan amarah bisa menyelesaikan segala masalah? Tentu saja jawabannya tidak, kau pikir setiap harinya aku tidak dihantui dengan rasa ketakutan? Aku pun sama sepertimu jadi cobalah untuk berpikir dengan kepala dingin." ucap Fadlan kemudian sambil menatap tajam ke arah Andi, membuat Andi langsung terdiam dengan seketika.


"Memang kau pikir kau itu siapa? Bocah kemarin sore mengajariku akan sebuah kata rasional, jangan bercanda!" ucap Andi dengan nada yang penuh penekanan seakan tidak terima akan perkataan Fadlan barusan.

__ADS_1


"Oh ya? Jika seperti itu maka jangan dengarkan perkataan bocah kemarin sore ini!" ucap Fadlan sambil mendorong sedikit tubuh Andi hingga mundur beberapa centi dari tempatnya.


Rani yang melihat keduanya mulai bertengkar lantas mengusap raut wajahnya dengan kasar kemudian maju untuk menghentikan keduanya. Rani berusaha melerai pertengkaran mereka berdua, meski agak sulit namun pada akhirnya Rani berhasil memisah keduanya.


"Apa-apaan kalian berdua! Saat ini bukan saatnya untuk bertengkar yang harus kita lakukan adalah mencari cara untuk menghentikan semua ini!" pekik Rani dengan raut wajah yang begitu kesal menatap ke arah Fadlan dan juga Andi secara bergantian.


Di saat ketiganya dalam keadaan hening tepat setelah Rani meneriaki keduanya, seorang Bodyguard nampak datang dan mendekat ke arah mereka.


"Sudah saatnya kalian pergi." ucapnya kemudian meninggalkan ketiganya begitu saja.


***


Sementara itu di area tengah ruangan terlihat Amara tengah melangkahkan kakinya menuju ke ruang santai yang ada di sebelah Mansion. Sambil terus melangkahkan kakinya nampak Amara sesekali melirik ke arah belakang atau melihat dari beberapa perabotan seakan seperti mengetahui jika dirinya sedang diikuti saat ini.


Iya, itu adalah Ansel dan juga Aslin keduanya terlihat melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap mengikuti kemanapun Amara pergi saat itu tanpa sadar jika Amara menyadari kehadiran keduanya sedari tadi.


Amara terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang bersantai, sampai kemudian ketika Amara melihat punggung seorang Pria paruh baya tengah duduk di sana lantas membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Amara saat itu.


"Apa kamu sudah menunggu terlalu lama?" ucap Amara kemudian yang lantas membuat Pria itu langsung menoleh dengan seketika begitu mendengar pertanyaan dari Amara barusan.


"Pak Aston!" ucap Aslin dan juga Ansel di dalam hati secara bersamaan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2