Throwback

Throwback
Kegilaan Elsa


__ADS_3

"Iya aku memang benar-benar gila, untuk itu coba saja hindari kegilaan ku saat ini! Jika sampai kau gagal maka kau akan berakhir dan hanya tinggal nama, bagaimana? Apakah kamu sudah siap untuk ikut terjun ke dalam permainan ini." ucap Elsa dengan senyuman yang simpul.


"Kau jangan gila El, kita bicarakan semuanya secara baik-baik. Bukankah kita berdua adalah sahabat? Aku benar-benar merindukan saat-saat yang dulu dimana kita berdua tertawa bersama." ucap Aslin kemudian dengan raut wajah yang memohon.


"Tentu saja, aku bahkan benar-benar gila saat ini! Elsa yang dulu telah mati, yang ada saat ini hanyalah Elsa yang bisa melakukan apapun untuk merebut kebahagiannya kembali." ucap Elsa dengan senyuman yang mengembang menatap ke arah Aslin.


Raut wajah Elsa saat ini benar-benar terlihat sangat mengerikan, membuat Aslin yang melihat hal itu lantas langsung melangkahkan kakinya mundur secara perlahan ke arah belakang. Ia tahu yang saat ini ada di hadapannya bukan lagi Elsa yang dulu, melainkan Elsa si pembunuh berantai yang sudah ia cari keberadaannya sejak kematian pertama kali ketika mereka kembali ke masa satu tahun yang lalu.


"Ada apa As? Apa kamu sekarang takut? Kemarilah... Bukankah kamu ingin mendekat ke arahku? Lalu apa yang membuatmu melangkahkan kaki mundur sedari tadi?" ucap Elsa dengan tawa yang mengembang memenuhi rumah kontrakan Aslin saat itu.


"Jangan menggila Els, mari kita lakukan semuanya dari awal dan serahkan dirimu segera.. Aku yakin hukumanmu akan lebih ringan jika kamu menyerahkan dirimu secara sukarela ke Kantor Polisi terdekat." ucap Aslin kemudian sambil menatap dengan tatapan yang serius ke arah Elsa saat ini.


Mendengar hal tersebut Elsa bukannya tersentuh malah berdecak dengan malas. Elsa benar-benar kesal ketika mendengar Aslin lagi-lagi ceramah tentang segala hal yang dilakukan olehnya. Hingga kemudian membuatnya jenuh dan juga kesal, Elsa yang mulai kesal dan juga malas mendengar segala perkataan yang keluar dari mulut Aslin saat itu. Lantas langsung mengambil langkah kaki yang bergegas menuju ke arah Aslin sambil mengambil sebuah vas yang terletak di meja ruang tamu saat itu, membuat Aslin terus saja mengambil langkah kaki mundur begitu mengetahui apa yang tengah Elsa pegang saat ini.


"Berhenti Els... Jangan lakukan ini, aku sungguh tahu jika kamu orang yang baik.. Ayo Els masih ada kesempatan untuk kamu bertobat dan memperbaiki segalanya." ucap Aslin kemudian dengan nada yang lebih lembut berharap Elsa menjadi sadar setelah mendengar perkataannya.

__ADS_1


"Cih, jangan sok ceramah di hadapanku! Kemari kau biar aku habisi dalam sekali pukulan." ucap Elsa dengan nada yang memperingati, membuat Aslin langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar perkataan dari Elsa barusan.


Setelah mengatakan hal tersebut Elsa nampak melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah di mana Aslin berada. Sedangkan Aslin yang melihat langkah kaki Elsa semakin mendekat ke arahnya, tentu saja langsung bergerak dan berlari menghindari Elsa detik itu juga.


Elsa benar-benar terlihat kesetanan saat ini, entah ia gila atau apa yang jelas Elsa terus melangkahkan kakinya dengan setengah berlari menuju ke arah di mana Aslin sekarang, yang saat ini tengah sibuk mencari tempat teraman untuk bebas dari kejaran Elsa.


"Mau ke mana kamu? Mengapa kamu berlari dengan begitu cepat? Hahaha..." ucap Elsa dengan tawa yang menggema di akhir perkataannya.


"Sial harus pergi ke mana aku sekarang?" ucap Aslin kemudian sambil menatap ke arah sekitar.


Ruangan rumah kontrakannya yang sempit, benar-benar membatasi langkah kaki Aslin untuk berlalu pergi dan mencari tempat teraman di sana. Aslin mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari celah untuk ia agar bisa kabur dari kejaran Elsa saat itu.


Bruk


Suara Aslin yang terjatuh di lantai benar-benar terdengar sangat nyaring, sebuah darah segar mendadak terlihat menetes di bagian kepalanya. Membuat kepala bagian belakangnya sedikit terasa basah, pandangan Aslin mendadak menjadi buram. Namun Aslin mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya agar bisa terus berlari dan menghindar dari kejaran Elsa saat ini.

__ADS_1


Elsa yang melihat Aslin terjatuh tentu saja langsung mempercepat langkah kakinya dan mengambil posisi berjongkok sambil menjambak rambut Aslin tepat di bagian yang terluka karena lemparan vas tersebut. Hal itu benar-benar membuat rasa nyeri langsung terasa menyebar di seluruh kepalanya. Rasa sakit itu benar-benar membuat Aslin langsung meringis dengan seketika.


"Apakah terasa sakit As? Ah kasihan sekali.. Kau tahu? Inilah rasa sakit yang aku rasakan selama ini, kau beruntung karena dapat mengetahui secara langsung sumber dari rasa sakit yang kamu rasakan saat ini. Tapi aku? Aku bahkan sama sekali tidak mengetahui di mana letak rasa sakit yang aku rasakan. Bukankah aku begitu menyedihkan as?" ucap Elsa dengan nada yang terdengar gila di telinga Aslin saat itu.


Namun sayangnya rasa sakit yang Aslin rasakan saat ini, benar-benar membuatnya hilang fokus dan tidak terlalu mendengar perkataan dari Elsa barusan. Membuat Aslin hanya bisa merasakan rasa sakit yang menjalar di area kepalanya saat ini.


Aslin yang mulai tidak bisa menahan rasa sakit di area kepalanya, lantas terlihat meraba sekitaran dengan gerakan yang perlahan. Sebuah serpihan yang entah itu apa, Aslin sendiri tidak tahu benda tersebut. Lantas langsung membuatnya menggenggam serpihan tersebut dan mengarahkannya ke arah samping sehingga membuat kaki Elsa yang berada tepat di sampingnya saat itu langsung tertancap dengan serpihan tersebut.


"Aaaaa" pekik Elsa yang tak menyadari akan serangan yang baru saja di berikan oleh Aslin secara mendadak.


"Kau benar-benar benalu! Akan ku bunuh kau!" pekik Elsa sambil menahan rasa sakit di area kakinya saat itu.


***


Sementara itu di sebuah jalanan yang masih terletak di Ibukota, terlihat Ansel tengah melajukan mobilnya secara perlahan melintasi jalanan Ibukota. Setelah mengantarkan Aslin sebelumnya, ketika perjalanan hendak kembali ke Apartemen. Entah mengapa perasaan Ansel mendadak menjadi tidak enak dan selalu kepikiran dengan Aslin, membuatnya memutuskan untuk memutar balik laju mobilnya dan kembali menuju ke kediaman Aslin untuk melihat keadaan Aslin saat ini.

__ADS_1


"Semoga saja perasaan ku tidaklah menjadi kenyataan." ucap Ansel sambil mempercepat laju mobilnya membelah jalanan Ibukota malam itu.


Bersambung


__ADS_2