
Di sebuah kos-kosan yang masih terletak di Ibukota, terlihat mobil yang di kendarai oleh Ansel berhenti tepat di bahu jalan.
"Apa kamu yakin tidak ingin aku temani?" ucap Ansel tepat ketika mobil yang ia kendarai berhenti di sana.
"Tidak perlu, lagi pula Elsa belum mengenal dirimu aku yakin akan semakin rumit jika kamu ikut kesana, kamu pergilah ke Mansion Amara dan kabari aku berita apa yang kamu dapat dari sana." ucap Aslin kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Ansel.
"Kamu hati-hati.." ucap Ansel kemudian.
"Kamu juga" jawab Aslin.
Setelah mengatakan hal tersebut Aslin kemudian mulai melangkahkan kakinya turun dari mobil. Ditatapnya mobil Ansel yang saat ini sudah melaju meninggalkan daerah tersebut. Helaan napas kini bahkan terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Aslin, membuat Aslin langsung mengusap raut wajahnya dengan kasar.
"Semuanya pasti akan segera berakhir, aku yakin itu." ucap Aslin kemudian pada diri sendiri dengan nada penuh keyakinan akan adanya hari itu.
***
Di area depan kos-kosan Reno, Aslin yang melihat Elsa tengah berada di sudut kosan tersebut dengan posisi berjongkok, lantas langsung berlarian mendekat ke arah dimana Elsa berada. Dipeluknya tubuh Elsa dengan erat kala itu karena Aslin yakin Elsa tengah tidak baik-baik saja saat ini.
"Tenang ya Els.. Semua akan baik-baik saja, kamu yang tenang..." ucap Aslin sambil menepuk pundak Elsa beberapa kali seakan berusaha untuk menenangkannya.
**
Taman
__ADS_1
Keheningan terjadi di antara keduanya, membuat Aslin yang merasakan hal tersebut lantas langsung menyodorkan sebotol air mineral kepada Elsa. Melihat hal tersebut Elsa lantas menerima botol air mineral tersebut kemudian meminumnya secara perlahan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah sedikit lebih tenang sekarang?" tanya Aslin kemudian sambil melirik sekilas ke arah Elsa.
Elsa yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang menelisik cukup lama.
"Semua ini karena kematian Arkan dan istrinya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mendadak ketika aku dan Reno sedang makan di kosannya beberapa polisi datang dan menangkap Reno begitu saja. Aku juga bingung apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka hanya mengatakan beberapa hal tentang tuduhan pembunuhan terhadap Arkan. Aku.. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa." ucap Elsa mulai menjelaskan segalanya kepada Aslin.
Aslin yang mendengar penjelasan dari Aslin hanya bisa terdiam sambil berusaha menenangkan Elsa, bagaimana pun juga hal ini bahkan sudah bisa Aslin prediksi sebelumnya tepat setelah kematian Arkan dan juga Istrinya beberapa hari yang lalu. Hanya saja Aslin tak tega untuk mengatakannya kepada Elsa karena takut hanya menjadi beban bagi Elsa jika Aslin mengatakan hal tersebut.
"Tenang ya Els kamu pasti bisa menghadapinya, disaat-saat seperti ini kamu harus lebih berpikir dengan jernih. Hanya dengan menangis saja tidak akan bisa menyelesaikan segalanya." ucap Aslin kemudian sambil mengusap pundak Elsa beberapa kali.
Mendengar perkataan Aslin barusan lantas membuat Elsa terdiam seketika, kemudian mengusap air matanya dengan kasar. Ditatapnya raut wajah Aslin selama beberapa detik seakan bertanya-tanya cara apa yang bisa ia gunakan untuk menyelesaikan permasalahannya kali ini, membuat Aslin lantas langsung tersenyum begitu mengetahui akan arah dari pemikiran Elsa saat ini.
"Kamu jangan menangis ya Els, aku ada beberapa kenalan seorang pengacara dan aku yakin mereka bisa membantu Reno menyelesaikan kasus ini." ucap Aslin dengan tersenyum teduh, membuat Elsa lantas langsung menatapnya dengan tatapan yang berbinar seakan bahagia ketika mendengar perkataan Aslin barusan.
"Aku yakin bisa asalkan Reno mengatakan dengan jujur semua alibinya, aku yakin Reno pasti bebas." ucap Aslin dengan nada yang yakin, membuat Elsa lantas tersenyum karena merasa tenang setelah mendengar perkataan dari Aslin barusan.
***
Sementara itu di area depan Mansion milik Amara, terlihat mobil milik Ansel berhenti tepat di bahu jalan kediaman Amara. Tidak ada pilihan lain selain Ansel yang harus masuk ke dalam dengan cara mengendap-endap, jika Ansel masuk dari pintu depan tentu saja Amara tidak akan menyambutnya dengan baik mengingat apa yang telah terjadi belakangan ini.
Dengan gerakan yang perlahan Ansel mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobilnya dan bergerak menuju ke arah pagar di area sebelah utara di mana tempatnya masuk waktu itu.
__ADS_1
"Sepertinya memang ini jalan satu-satunya untuk bertemu dengan Amara!" ucap Ansel sambil mulai memanjat pagar kediaman Amara.
Bugh...
Suara Ansel yang jatuh ke semak-semak lantas membuatnya terdiam di tempatnya beberapa saat, Ansel terlihat mulai memantau keadaan sekitar begitu berhasil masuk ke dalam kediaman Amara saat itu. Ansel yang sudah memastikan bahwa semuanya aman, lantas terlihat bangkit dari tempatnya sambil mulai melangkahkan kakinya secara perlahan masuk ke dalam kediaman Amara.
"Apa kamu sudah membuatkan kopi untuk ku? Malam ini benar-benar akan panjang dan membuat ku mengantuk jika aku tidak mendapatkan secangkir kopi malam ini." ucap sebuah suara yang lantas langsung menghentikan langkah kaki Ansel dengan seketika.
Ansel yang mendengar suara tersebut lantas berhenti di antara dua pilar penyangga rumah tersebut.
"Baiklah-baiklah aku akan pergi..." ucap salah seorang lagi sambil berbalik arah untuk membuatkan pesanan yang diminta rekannya tadi.
Ansel yang melihat salah seorang dari mereka berbalik badan, lantas mulai mengambil posisi menyudut agar tidak terlihat oleh pria tersebut.
Sampai ketika kedua Pria itu tidak lagi terlihat di sana lantas membuat Ansel mulai bergerak dengan cepat agar tidak kembali berhadapan dengan beberapa pengawal yang tadi ia temui.
Dengan langkah kaki yang perlahan Ansel mulai masuk ke dalam area mansion untuk mencari keberadaan Amara di sana. Ruangan yang begitu luas benar-benar membuat Ansel bingung harus mengambil langkah di sebelah mana untuk mencari keberadaan Amara di mansion tersebut.
"Sepertinya di ruangan tersebut, semoga saja aku tidak salah memasuki ruangan." ucap Ansel mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa ruangan terebut adalah ruangan yang benar.
Ansel terlihat menatap ke arah kanan dan kiri memastikan keadaan di sekitarnya aman saat ini, hingga kemudian Ansel terlihat mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan tersebut dan langsung memutar handel pintu ruangan tersebut.
Bruk...
__ADS_1
"Siapa kau!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Ansel terhenti di tempatnya ketika ia baru saja menutup pintu ruangan tersebut.
Bersambung