Throwback

Throwback
Elsa tidak menyukainya


__ADS_3

Di area taman


Setelah menelpon Tika untuk menghampirinya, Elsa saat ini terlihat duduk terbengong di sebuah bangku taman yang terletak di bahu jalan. Tika yang melihat Elsa hanya termenung seorang diri lantas mempercepat langkah kakinya dan mengambil duduk tepat di sebelah Elsa.


"Apa yang terjadi El? Bagaimana bisa?" ucap Tika dengan raut wajah yang penasaran.


Mendengar sebuah suara menyapanya lantas membuat Elsa langsung memeluk tubuh Tika dengan erat. Elsa tidak tahu lagi harus bercerita kepada siapa saat ini. Aslin yang sedari dulu selalu menjadi tempat terbaiknya untuk bercerita kini malah membuat hati Elsa terluka dan membuatnya enggan untuk berbicara dengan Aslin saat ini, membuat Elsa pada akhirnya memilih untuk menelpon Tika yang memang notabennya ia tahu akan permasalahan yang Elsa hadapi sekarang.


Selama beberapa menit berpelukan Elsa nampak mulai melepaskan pelukannya kepada Tika secara perlahan, kemudian menatap ke arah manik mata Tika cukup lama.


"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Ketika aku sampai di sana rumah Fatma sudah ramai dengan orang, disaat aku tanya mereka mengatakan jika Fatma sudah meninggal. Aku harus bagaimana Tik? Bagaimana jika mereka malah mengira aku telah membunuhnya karena permasalahan sebelumnya?" ucap Elsa dengan raut wajah yang sendu.


"Jangan khawatir El, kamu tidak melakukan apapun. Masalah ini sungguh berbeda dengan Reno saat itu." ucap Tika mencoba untuk menenangkan Elsa.


"Apa maksud mu?" ucap Elsa dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut dari Elsa lantas membuat Tika langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya kepada Elsa.


"Lihatlah ini, ini adalah postingan terakhir sebelum Fatma meninggal. Di sini terlihat sekali ia menyuarakan isi hatinya yang mengatakan bahwa ia merasa bersalah karena telah menjadi wanita simpanan Argantara. Dia bahkan juga mengatakan bahwa saat ini ia telah mengandung anak dari Argantara, ini adalah masalah diantara mereka berdua El, sama sekali tidak ada kaitannya dengan mu. Kamu tak perlu takut El, aku akan selalu ada untuk mu." ucap Tika kembali menjelaskan segalanya dan mengatakan bahwa Elsa tak perlu khawatir akan sesuatu yang tidak penting.


"Benarkah itu Tik?" tanya Elsa seakan mencoba untuk mempertanyakan perkataan Tika kembali.


"Tentu saja El" ucap Tika dengan senyuman yang simpul.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Elsa kemudian sedikit merasa lebih lega karena ia tidak akan menjadi tersangka atas kematian Fatma.


****

__ADS_1


Kantor Ansel tepatnya setelah pulang kerja


Aslin yang baru saja keluar dari gedung perkantorannya, lantas langsung terlihat mempercepat langkah kakinya menyebrang jalan agar bisa segera bertemu dengan Ansel.


"Semoga saja Ansel tidak lembur malam ini." ucap Aslin sambil menghentikan langkah kakinya tepat di depan gedung perkantoran tempat Ansel bekerja.


.


.


.


Beberapa menit kemudian


Terlihat Ansel tengah melangkahkan kakinya keluar dari lobi gedung perkantorannya. Ansel yang melihat Aslin tengah menunggu di depan tentu saja langsung mempercepat langkah kakinya menghampiri Aslin.


"Aku tidak sempat, apa kamu sudah melihat beritanya? Fatma di temukan tewas di kediamannya semalam." ucap Aslin kemudian langsung pada intinya karena memang hal inilah yang sedari tadi membuatnya begitu gelisah.


"Kita bicara di dalam mobil saja, ayo Asl..." ajak Ansel kemudian yang lantas di balas Aslin dengan anggukan kepala.


****


Setelah melajukan mobilnya selama beberapa meter Ansel terlihat menepikan mobilnya memasuki sebuah rest area dan parkir di sana. Dilepasnya sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya kemudian menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang intens.


"Aku tahu dan aku juga terkejut akan hal itu." ucap Ansel dengan raut wajah yang sendu.


"Ini sudah tidak benar An, satu persatu dari kita mulai menemui ajalnya dengan tragis. Di mulai dari Arman, Arkan dan juga istrinya, pak Aston, Fatia meskipun ia tidak meninggal dan hanya menggantikan mu saja dan sekarang bu Fatma. Bukankah ini semakin gila An? Saat ini bahkan yang tersisa hanya kamu, aku, pak Andi, Fadlan dan juga Rani. Entah apa yang akan terjadi kepada kita selanjutnya." ucap Aslin dengan nada yang terdengar frustasi.

__ADS_1


Ansel benar-benar tahu apa yang dibicarakan oleh Aslin barusan, membuatnya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ansel bahkan benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, namun ia juga tidak bisa mencegahnya ataupun berbuat sesuatu untuk hal tersebut.


Aslin dan juga Ansel terdiam di tempatnya masing-masing seakan sibuk mencari jalan keluar dari permasalahan keduanya. Tidak ada yang tahu siapa korban selanjutnya, membuat keduanya semakin khawatir akan hal ini. Aslin tertunduk diam di kursinya membuat Ansel yang melihat hal tersebut lantas kembali menghela napasnya dengan panjang.


"Sebaiknya untuk sementara ini kamu tinggal dulu di Apartment bersama ku untuk selanjutnya biar kita pikirkan jalan keluarnya." ucap Ansel yang langsung membuat Aslin dengan spontan menoleh ke arah Ansel dengan tatapan yang mengernyit.


"Bagaimana bisa aku tinggal bersama dengan mu? Terlalu banyak hal yang tidak mungkin An." ucap Aslin kemudian.


"Apanya yang tidak bisa? Lagi pula kita tidak melakukan apapun, bukan? Jadi kamu jangan terlalu memperumit keadaan untuk sementara ini sepertinya hanya itu jalan terbaik saat ini." ucap Ansel mencoba untuk membuat Aslin mengerti akan kondisinya.


"Kau tidak mengerti posisiku An, cobalah untuk mengerti jika aku tidak bisa tinggal bersama denganmu." ucap Aslin kemudian dengan nada yang mulai sedikit meninggi.


"Apanya yang tidak aku mengerti? Apa kamu mau memperumit keadaan kita?" ucap Ansel sekali lagi.


Aslin terdiam tidak lagi bisa menjawab perkataan dari Ansel barusan, Aslin juga ingin semuanya menjadi lebih baik. Hanya saja ketika bayangan bagaimana Elsa marah kepadanya karena mengetahui ia diantar pulang oleh Ansel malam itu. Membuat Aslin lantas menjadi bingung dan tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa kepada Ansel, jika Elsa tidak menyukai kedekatan yang terjalin di antara keduanya meskipun hubungan antara Ansel dan Aslin hanyalah sebatas rekan yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan masalah mereka.


Ansel yang tak kunjung mendengar jawaban dari Aslin, lantas menatap Aslin dengan tatapan yang menelisik sekaligus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga Aslin menolak dengan keras saran darinya.


"Aslin..." panggil Ansel dengan nada yang memanjang membuat Aslin langsung tersadar dari lamunannya.


"Cobalah untuk memahami posisi ku saat ini, jika..." ucap Aslin terhenti seketika seakan tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana kepada Ansel agar ia mengerti.


"Jika apa? Bisakah kamu untuk tidak menjelaskannya secara setengah-setengah?" ucap ansel kemudian dengan nada yang mulai kesal.


"Elsa tak menyukainya, apa kamu puas?" ucap Aslin pada akhirnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2