Throwback

Throwback
Sesuatu yang mencurigakan


__ADS_3

"Ada tiga kursi yang kosong di sana? Tidakkah kamu merasa ada yang aneh?" ucap Aslin kemudian.


"Tiga? Bukankah yang gugur hanya dua orang?" ucap Ansel yang seakan terkejut dengan tiga kursi kosong di antara beberapa orang yang tengah sibuk berbincang saat ini.


Keduanya terdiam di tempatnya selama beberapa menit seakan seperti tengah memikirkan siapa salah satu diantara mereka yang gugur selain Arkan dan juga Arman. Disaat keduanya tengah sibuk berpikir dengan keras ketika sebuah jawaban terlintas tepat di benak keduanya, lantas membuat Ansel dan juga Aslin saling pandang antara satu sama lain seakan seperti tengah memikirkan orang yang sama saat ini.


"Pak Aston!" pekik keduanya secara bersamaan membuat beberapa orang yang mendengar perkataan dari Ansel dan juga Aslin barusan dengan spontan menoleh ke arah keduanya dengan tatapan yang bertanya-tanya.


***


Suasana di ruangan tersebut benar-benar sangat hening, tidak ada satupun dari mereka semua yang memulai pembicaraan di ruangan tersebut, pikiran mereka melayang masing-masing membayangkan kematian yang akan datang menghampiri mereka. Raut wajah bahagia serta tawa yang mereka tunjukkan semula ketika mereka datang dan bisa merasakan perubahan ketika mereka kembali ke masa satu tahun yang lalu, lantas berubah menjadi sebuah hal yang mengerikan. Mereka bahkan tidak menyangka bahwa kematian tersebut akan datang menghampiri mereka ketika mereka mengulang kembali waktu tepat ke masa satu tahun yang lalu.


"Apa kau sama sekali tidak ingin mengatakan apapun kepada kami? Ayolah ini semua atas idemu... Tidakkah kamu ingin bertanggung jawab akan semua hal yang terjadi kepada kami saat ini?" ucap Fadlan yang terlihat begitu emosi ketika mengetahui tiga orang telah gugur dalam perjalanan waktu ini.


"Semua sudah menjadi pilihan dan tanggung jawab kalian semua masing-masing, saya tidak pernah menyarankan untuk kalian agar ikut kembali ke masa saat ini. Yang saya lakukan hanya memberikan penawaran tapi tidak pernah memaksa agar kalian mengikutinya, saya sudah mengatakan kepada kalian berulang kali bahwa akan ada harga yang dibayar dalam setiap perjalanan yang kita lakukan. Namun kalian yang gelap mata sama sekali tidak memikirkan perkataan saya." ucap Amara dengan nada yang setenang mungkin membuat beberapa orang di sana menjadi sangat frustasi.


Tujuh orang yang tersisa di sana mulai merasakan ketakutan, satu persatu dari mereka lantas mati dengan cara yang mengenaskan. Tidak ada yang tahu siapa selanjutnya yang akan meninggal dan melanjutkan garis kematian ini, membuat semua orang mulai merasakan kekhawatiran dalam diri mereka masing-masing.


Disaat perasaan takut dan juga khawatir Ansel mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari petunjuk agar ia bisa terbebas dari hal gila yang ia alami. Pekerjaannya di dunia game membuatnya yakin bahwa setiap masalah pasti ada kunci yang bisa membimbingnya menemukan jalan keluar dan Ansel mencoba mencari hal itu.


Pandangan Ansel terhenti pada sebuah ruangan kaca yang berada tak jauh dari ruangan untuk tempat berkumpul kali ini. Ada terbesit rasa penasaran dalam dirinya ketika melihat sebuah ruangan kaca di dalam rumah, bukankah itu sedikit mencurigakan?

__ADS_1


"Saya rasa pertemuan kali ini cukup sampai di sini, pertemuan selanjutnya akan kita lakukan satu bulan kemudian. Selamat berjuang dan saya harap akan bertemu kalian di sini satu bulan kemudian." ucap Amara sambil melangkahkan kakinya bergegas pergi dari sana.


Beberapa orang yang melihat kepergian Amara tentu saja kesal bukan main, Fadlan nampak bangkit dari tempat duduknya dan berusaha untuk mengejar Amara, namun beberapa pengawal lantas berusaha untuk menghadang langkah kakinya. Membuat gerakannya menjadi terbatas.


Andi, Fatma, Fatia dan juga Rani yang melihat Fadlan kesulitan karena dihadang oleh beberapa bodyguard lantas langsung bangkit dari tempat duduknya berusaha untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Hanya saja pintu kaca yang tiba-tiba menghadang dan membuat pembatas di antara ruangan tersebut dengan ruangan yang telah dilalui Amara, lantas membuat mereka kesulitan untuk mengejar langkah kaki Amara.


"Apa-apaan kalian? Biarkan kami masuk..." ucap Rani dengan nada setengah berteriak.


"Sebaiknya kalian semua pulang dan kembali lagi ke sini tepat satu bulan kemudian." ucap salah satu bodyguard yang lantas membuat semua orang geram karenanya.


Sedangkan Ansel dan juga Aslin yang tidak mengikuti langkah kaki beberapa orang di sana hanya terlihat saling pandang antara satu sama lain ketika beberapa orang terlihat sibuk mengajukan protes.


"Ada sesuatu yang tidak beres." ucap Ansel sambil menunjuk ke arah dalam dengan ekor matanya.


"Pasti ada jalan dan aku sedang berusaha untuk memikirkannya." ucap Ansel sambil terus menatap lurus ke arah ruangan kaca yang sudah mencuri perhatiannya sedari tadi.


"Iya semoga saja..." ucap Aslin seakan ikut mendoakan perkataan Ansel barusan.


***


Di sebuah Apartment milik Ansel, dari arah pintu masuk terlihat Aslin dan juga Ansel melangkahkan kakinya memasuki area Apartment milik Ansel. Setelah beberapa kali selalu berdiskusi di jembatan gantung kali ini keduanya memutuskan untuk mendiskusikan segalanya di Apartment Ansel.

__ADS_1


Ada sedikit perasaan canggung dalam diri Aslin ketika ia memasuki Apartment seorang Pria, terlebih lagi Pria yang baru saja ia kenal tanpa disengaja.


"Masuklah ke dalam... Maaf agak berantakan..." ucap Ansel sambil memunguti selendang yang terlihat berserakan di sofa.


Mendengar perkataan Ansel barusan lantas membuat Aslin langsung menunduk tanda menghormati Ansel sebagai tuan rumah, kemudian mulai melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke arah ruang tamu dan mendudukkan pantatnya di sofa ruang tamu. Melihat Aslin sudah mengambil posisi duduk membuat Ansel lantas menatap ke arah Aslin sejenak.


"Kamu ingin minum apa?" tanya Ansel kemudian.


"Apapun bisa ku minum asalkan tidak merepotkan mu." ucap Aslin dengan ragu-ragu.


Mendengar perkataan Aslin barusan lantas membuat Ansel tersenyum tipis kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk mengambil minuman.


"Aku sudah memesankan makanan untuk kita, aku yakin beberapa menit lagi akan sampai." ucap Ansel sambil terus melangkahkan kakinya ke dapur.


"Baiklah, tak perlu repot-repot..." ucap Aslin tidak enak karena perlakuan Ansel yang begitu baik.


"Santai saja" jawab Ansel.


Disaat Ansel tengah sibuk mengambil minuman, Aslin terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan mulai melihat-lihat isi Apartment Ansel. Terlihat begitu bersih dan juga rapi untuk ukuran seorang pria dan hal itu membuat Aslin kagum kepada sosok Ansel. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah foto wisuda yang lantas mengundang banyak pertanyaan muncul di kepala Aslin saat ini.


"Dia..."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2