
Satu jam kemudian
Garis polisi terlihat terpasang tepat di sekitar area tempat pembuangan sampah. Di sudut sebelah utara terlihat Ansel tengah menjelaskan segala detailnya kepada pihak kepolisian, sedangkan Aslin nampak duduk menanti Ansel menyelesaikan laporan tersebut.
Aslin menghela napasnya dengan panjang, penyesalan tentu saja ada di dalam hatinya ketika ia menyadari bahwa dirinya dan juga Ansel tidak dapat menyelamatkan nyawa Andi. Entah apa yang terjadi kepada Andi saat itu, namun baik Ansel dan juga Aslin bahkan sudah berusaha mati-matian untuk bisa menyelamatkan Andi dari jurang kematian.
Aslin mengacak-acak rambutnya dengan kesal kemudian mendongak menatap ke arah depan dimana beberapa warga saat ini nampak mengerumuni area tersebut karena penasaran akan penemuan mayat di lingkungan mereka.
Hanya saja ketika tatapan mata Aslin tepat lurus ke arah depan, samar-samar Aslin seperti melihat seseorang yang tak asing di ingatannya tengah berdiri berjajar di sudut paling belakang dari beberapa warga, membuat Aslin yang melihat hal tersebut lantas langsung bangkit dari tempat duduknya seakan mencoba mempertajam penglihatannya.
"Bukankah itu Elsa? Untuk apa Elsa di sini? Aku sungguh tidak salah lihat, bukan?" ucap Aslin sambil mencoba mempertajam matanya menatap ke arah depan berusaha memastikan apakah yang ia lihat benar-benar Elsa atau bukan.
Aslin yang penasaran akan sosok tersebut tentu saja lantas terus menatap ke arahnya, seulas senyuman yang tipis terlihat samar-samar oleh Aslin kala itu membuat ia lantas tersentak seketika. Aslin yang semakin di buat penasaran akan sosok yang mirip Elsa tersebut berniat untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya. Hanya saja sebuah tarikan tangan dari seseorang kemudian menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Apa yang terjadi?" tanya sebuah suara yang berasal dari Ansel.
"Aku tadi melihat Elsa di..." ucap Aslin sambil menunjuk ke arah kerumunan namun anehnya sosok yang mirip Elsa malah tidak ada di sana.
Aslin yang kehilangan sosok tersebut tentu saja langsung kebingungan sambil celingukan ke kanan dan ke kiri mencari keberadaannya, hal tersebut tentu saja membuat Ansel bertanya-tanya akan apa yang sedang di cari oleh Aslin saat ini.
"Apa ada sesuatu As?" tanya Ansel dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Aslin, membuat Aslin langsung menoleh ke arahnya.
"Tidak apa-apa mungkin hanya halusinasi ku saja, oh ya bagaimana laporannya? Apa kamu sudah selesai?" ucap Aslin kemudian mulai mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Semua sudah selesai dan pihak kepolisian berjanji akan mengusut kasus ini sampai tuntas." ucap Ansel kemudian.
"Syukurlah jika begitu." ucap Aslin dengan perasaan yang sedikit lebih lega. "Em apakah kamu mengatakan kepada mereka tentang perjalanan waktu yang kita lalui?" ucap Aslin kembali namun kali ini dengan nada yang sedikit berbisik takut terdengar oleh orang lain.
"Tentu saja tidak, aku rasa meski aku menceritakannya sekalipun aku yakin mereka tidak akan percaya dan malah menganggap ku gila." ucap Ansel yang lantas membuat Aslin manggung-manggut ketika mendengarnya.
"Kamu ada benarnya juga." ucap Aslin kemudian.
"Sebaiknya sekarang kita pulang dan untuk kamu lebih baik tinggallah di Apartment ku beberapa waktu sampai situasinya mereda dan kita terbebas dari lingkaran kematian ini." ucap Ansel yang lantas membuat Aslin terdiam seketika.
"Apa kamu tidak setuju akan opsi dari ku? Mengapa kamu diam saja?" tanya Ansel kemudian dengan raut wajah yang bertanya-tanya.
"Bukan seperti itu aku setuju karena mungkin itu adalah yang terbaik untuk saat ini, aku hanya tidak fokus saja karena memikirkan sesuatu." ucap Aslin kemudian sambil mengusap area tengkuknya.
"Apa kamu sungguh baik-baik saja?" tanya Ansel sekali lagi karena baginya tingkah Aslin sangatlah aneh.
"Kamu benar, ayo kita pulang sekarang." ucap Ansel kemudian yang di balas Aslin dengan anggukan kepala.
Pada akhirnya baik Ansel dan juga Aslin lantas memutuskan untuk beranjak pulang dari sana dan mengistirahatkan sejenak pikiran mereka di rumah.
Sementara itu tanpa keduanya sadari di sudut salah satu gang, sosok bertudung hitam nampak memperhatikan setiap gerak-gerik Aslin dan juga Ansel. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah sosok bertudung hitam tersebut ketika melihat kedekatan keduanya yang nampak semakin akrab.
"Well well well sepertinya permainan kali ini akan semakin seru saja, aku bahkan tidak menyangka jika hubungan di antara kalian bisa sedekat itu? Benar-benar memuakkan!" ucap sosok bertudung hitam tersebut dengan senyuman yang sinis menghiasi wajahnya di tengah gelapnya jalanan tersebut.
__ADS_1
***
Cafe
Keesokan harinya
Di salah meja di area sudut Cafe terlihat Aslin dan juga Ansel tengah duduk dan menanti seseorang di meja tersebut. Sambil menunggu kedatangan seseorang yang mereka tunggu Ansel terlihat tengah menikmati coffee yang ia pesan, sedangkan Aslin sibuk mengamati keadaan sekitar seakan tengah mencari keberadaan Elsa di sana.
Aslin benar-benar sengaja memilih Cafe ini untuk ketemuan sekaligus memancing Elsa agar mau berbicara dengannya. Setelah kejadian malam itu di mana Elsa mendapati Ansel mengantarnya pulang waktu itu, hubungannya dan juga Elsa benar-benar semakin menjauh. Elsa tidak pernah bisa di hubungi dan sulit sekali di temui. Hal itu lah yang membuat Aslin memutuskan untuk memilih Cafe ini sebagai tempat berdiskusi sekaligus untuk menemui Elsa.
"Aku harap kamu tidak salah paham ketika mendapati aku tengah duduk bersama dengan Ansel di sini Els, aku benar-benar tidak bisa terus-terusan perang dingin bersama mu." ucap Aslin dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencari keberadaan Elsa di sekitaran sana.
Sampai kemudian tak berapa lama dari arah pintu masuk terlihat Rani dan juga Fadlan baru saja datang dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya.
"Aku minta maaf karena terlambat, jalanannya macet parah." ucap Rani sambil mengambil duduk di sebelah Aslin begitu pula dengan Fadlan.
"Tidak apa santai saja kami juga belum lama sampai." jawab Ansel kemudian sedangkan Aslin masih sibuk mencari keberadaan Elsa di sekitaran sana.
Hingga pada akhirnya pandangan Aslin terhenti pada sosok Elsa yang saat ini tengah menatap dengan tajam ke arahnya. Melihat hal tersebut membuat Aslin langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Aku minta maaf, tapi aku harus ke toilet sekarang!" ucap Aslin sambil berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban apapun dari ketiganya.
Kepergian Aslin barusan benar-benar mengundang tanda tanya bagi Ansel. Aslin tidak akan seheboh itu jika hanya sekedar pergi untuk menyelesaikan panggilan alamnya, membuat Ansel lantas menaruh curiga kepada Aslin saat ini.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang tidak beres." ucap Ansel sambil menatap kepergian Aslin yang menuju ke arah sudut Cafe.
Bersambung