Throwback

Throwback
Bukan lagi Elsa yang dahulu


__ADS_3

Kamar


Di dalam kamarnya terlihat Aslin tengah duduk termenung di sana. Setelah dari melayat, Aslin memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Pikiran Aslin saat ini benar-benar melayang membayangkan segala hal yang sama sekali tidak pernah bisa ia bayangkan atau pikirkan sebelumnya.


Perkataan Ansel yang mengatakan dengan sedetail mungkin segala hal yang terjadi, baik di universitas maupun ketika segala hal terbongkar mengenai Elsa. Membuat kepala Aslin saat ini benar-benar berdenyut, entah mengapa Aslin tetap saja tidak bisa menerima kenyataan jika Elsa adalah pembunuh yang selama ini sosoknya mereka cari.


Sambil menghela napasnya dengan panjang, Aslin kemudian terlihat mengusap raut wajahnya dengan kasar kemudian kembali menatap ke arah depan dengan tatapan yang kosong.


"Apa yang terjadi dengan Elsa sebenarnya? Elsa yang ku kenal bukanlah sosok seorang pembunuh, mengapa mereka semua mengatakan hal yang sebaliknya? Apa yang terjadi kepadamu Els?" ucap Aslin dengan nada yang terdengar begitu frustasi saat itu.


Ditatapnya ponsel miliknya yang saat ini terlihat tidak menyala, sudah lama sekali Aslin tidak menghubungi Elsa membuat Aslin begitu merindukan sosok sahabat masa kecilnya itu.


Dengan perasaan yang ragu Aslin kemudian mulai mengambil ponselnya dengan perlahan dan mendial nomor Elsa di sana, entah apakah Elsa akan mengangkat panggilan teleponnya atau tidak, yang jelas tidak ada salahnya bukan jika Aslin mencoba hal tersebut.


"Angkat Els.. Ku mohon..." ucap Aslin dalam hati sambil terus berusaha untuk menghubungi Elsa saat ini.


Aslin yang benar-benar merindukan sosok sahabatnya itu, lantas terus berusaha untuk menghubunginya. Namun tak lama setelah percobaan ke berapa kalinya sebuah deringan ponsel yang Aslin ingat dengan betul suara nada dering tersebut, lantas membuatnya langsung menatap ke arah sekitar dengan tatapan yang menelisik. Entah mengapa Aslin merasa ada sesuatu yang tidak beres saat ini. Aslin bahkan merasa jika saat ini Elsa sedang berada di sini.

__ADS_1


Aslin yang mendengar dengan jelas deringan ponsel tersebut, lantas langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Entah mengapa Aslin benar-benar yakin jika suara deringan ponsel tersebut adalah milik Elsa, bagaimanapun juga Aslin masih benar-benar mengingat dengan jelas di kepalanya. Membuat Aslin lantas langsung keluar dari kamarnya dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Elsa di sekitar rumah kontrakannya.


"El... Elsa... Aku tahu itu kamu, keluarlah El.. Kita bicarakan segala halnya bersama-sama... Ayo El keluarlah sekarang.... Elsa...El..." ucap Aslin sambil terus melangkahkan langkah kakinya menyusuri area rumah kontrakannya saat itu.


Aslin yang tak kunjung menemukan keberadaan Elsa dimanapun juga, lantas mukai menatap dengan tatapan yang menelisik ke area rumah kontrakannya. Sampai kemudian pandangan Aslin terhenti pada sudut area di mana terdapat televisi kecil di sebelah ruang tamu. Seorang wanita yang sangat Aslin kenali terlihat tengah duduk bersantai di sana sambil mengangkat telepon genggam miliknya dengan erat, seakan sama sekali tak menghiraukan panggilan Aslin sedari tadi yang terus menyuarakan namanya.


"Els apa itu kau? Elsa..." ucap Aslin sambil membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana sosok wanita tersebut berada.


Mendengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya, membuat sosok wanita itu perlahan-lahan mulai bangkit dari tempat duduknya dan berbalik badan menatap ke arah di mana Aslin berada saat ini. Ada sedikit raut wajah keterkejutan yang terlihat dari wajah Aslin ketika melihat sosok Elsa yang saat ini nampak begitu berubah dari Elsa yang ia kenal sebelumnya.


"Apa kamu benar-benar Elsa?" ucap Aslin kemudian ketika melihat ada perubahan besar dalam diri Elsa saat itu.


"Iya tentu saja aku tetaplah Elsa, namun sayangnya bukan Elsa sahabatmu melainkan Elsa yang mulai hari dimana kau membawa Ansel bersama mu adalah seorang musuh bagi dirimu!" ucap Elsa dengan nada yang menyeringai menatap ke arah Aslin saat ini.


"Mengapa kau selalu saja tidak percaya kepadaku El? Antara aku dan juga Ansel sama sekali tidak ada hubungan apapun. Percayalah kepadaku, aku berani bersumpah jika aku dan Ansel sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun." ucap Aslin mencoba untuk kembali menjelaskan kepada Elsa bahwa semua yang ia lihat hanyalah sebuah kesalahpahaman belakang.


"Cih jangan coba-coba bermain kata-kata denganku karena hal itu tidak akan pernah mempan terhadap diriku. Aku melihat apa yang aku lihat dan aku membalas apa yang aku terima, bukankah begitu Aslin?" ucap Elsa sambil mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah Aslin dengan tatapan yang intens.

__ADS_1


Aslin yang mendengar perkataan Elsa barusan yang sama sekali tidak ingin menerima sanggahannya, lantas hanya menghela napasnya dengan panjang. Dipijatnya pelipisnya dengan perlahan saat ini yang terasa begitu berdenyut, entah bagaimana lagi Aslin harus menjelaskan segalanya kepada Elsa agar Elsa percaya akan kata-katanya, namun sayangnya sebaik apapun Aslin menjelaskan namun tetap saja Elsa tidak mempercayai segala perkataannya.


Aslin melangkahkan kakinya mendekat dan mencoba untuk menggenggam tangan Elsa.


"Kita perbaiki segalanya ya Els? Akui semua kesalahan mu dan kita lakukan segala hal yang terbaik. Kita mulai semuanya dari awal..." ucap Aslin mencoba untuk membujuk Elsa agar mau mengakhiri segala halnya saat ini.


Mendengar hal tersebut membuat Elsa langsung tersenyum dengan tipis kemudian menepis tangan Aslin begitu saja, membuat Aslin menjadi terkejut ketika melihat hal tersebut.


"Jangan dekati aku karena tujuan ku kemari adalah untuk melenyapkan mu!" ucap Aslin dengan tatapan yang tajam membuat Aslin langsung mengernyit dengan seketika.


"Apa maksud dari perkataanmu barusan Els? Apa kamu sedang bercanda?" ucap Aslin kemudian dengan raut wajah yang terkejut.


"Jangan terlalu bodoh As, kedatanganku ke sini untuk menjemput nyawamu. Apapun yang terjadi kau harus lenyap di tanganku malam ini juga." ucap Elsa dengan tatapan yang tajam, membuat Aslin lantas langsung mengambil langkah kaki mundur beberapa kali untuk menghindari Elsa saat ini.


"Kau benar-benar sudah tidak waras El!" pekik Aslin kemudian sambil berusaha untuk berlalu pergi dari sana dan meninggalkan Pandu di sana seorang di sana.


"Iya aku memang benar-benar gila, untuk itu coba saja hindari kegilaan ku saat ini! Jika sampai kau gagal maka kau akan berakhir dan hanya tinggal nama, bagaimana? Apakah kamu sudah siap untuk ikut terjun ke dalam permainan ini." ucap Elsa dengan senyuman yang simpul.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2