Throwback

Throwback
Sangat berharga


__ADS_3

"Bagaimana jika dalang dari segala hal yang terjadi kepada putrimu adalah Aston? Tidak pernahkah kau berfikir seperti itu? Bukankah segalanya yang berkaitan dengan Aston nampak mencurigakan bagimu?" ucap Ansel kemudian yang lantas mengejutkan Amara dengan seketika.


"Jangan bercanda! Aston bahkan yang telah menyelamatkan putriku, bagaimana bisa tiba-tiba ia menjadi dalang dibalik semua hal yang terjadi kepadaku maupun kepada dirimu." ucap Amara yang tidak terima akan perkataan dari Ansel barusan.


"Aku tidak pernah memaksamu untuk mempercayai segala hal yang kukatakan, aku hanya mengatakan jika seandainya Aston adalah dalang dari segala hal yang terjadi, apa yang akan kau lakukan? Hanya itu, kau tidak perlu marah akan perkataanku jika kau percaya Aston tidak melakukannya." ucap Ansel ketika mendapati Amara yang begitu marah ketika mendengar spekulasi dari Ansel barusan.


Amara yang baru menyadari jika dia begitu marah ketika mendengar Ansel yang terus menuduh Aston tentang putrinya, lantas mulai menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Sebaiknya kita segera pergi ke rumah Aslin sebelum semuanya terlambat." ucap Amara kemudian sebelum pada akhirnya kembali melajukan mobilnya membelah jalanan Ibukota menuju ke Rumah Aslin.


**


Kediaman Aslin


"Kau benar-benar benalu! Akan ku bunuh kau!" pekik Elsa sambil menahan rasa sakit di area kakinya saat itu.


Sedangkan Aslin yang mendengar hal itu sama sekali tidak menggubrisnya dan langsung berusaha mendorong tubuh Elsa dari atasnya. Aslin nampak mulai bangkit secara perlahan sambil mencoba untuk memfokuskan pandangan matanya yang sedikit mengabur saat itu. Dengan langkah kaki yang perlahan Aslin terus menyusuri area rumahnya sendiri untuk mencari jalan keluar dan pergi dari sana.


"Aku harus pergi dari sini, aku harus segera pergi sebelum Elsa kembali menemukanku." ucap Aslin dengan langkah kaki yang tertatih mencari jalan keluar dari sana.


Di saat Aslin bingung hendak keluar melalui jalan yang mana, Aslin lantas teringat akan pintu keluar bagian belakang yang Asli belum kunci saat itu. Membuat langkah kaki Asli langsung berbelok dan menuju ke arah pintu belakang.


"Dimana kamu As... Cepat kemari.. Arggg!" teriak Elsa dengan nada yang meninggi.

__ADS_1


Aslin yang mendengar suara teriakan Elsa barusan, tentu saja langsung meneruskan langkah kakinya tanpa menggubris atau menunggu kedatangan Elsa saat ini. Kali ini Aslin harus benar-benar pergi darinya, Elsa yang saat ini bukan lagi Elsa yang dulu, entah ke mana perginya Elsa yang dahulu namun Aslin benar-benar tidak tahu apa yang membuat Elsa begitu berubah dan menjadi kesetanan seperti ini.


.


.


.


Aslin yang berhasil mencapai ke area pintu belakang tentu saja langsung mempercepat langkah kakinya, meski kepalanya saat ini terasa sangat berdenyut namun Aslin tetap mempercepat langkah kakinya sebisa mungkin dan berusaha untuk menggapai pintu area belakang.


Criettt


Sebuah suara dari area pintu belakang yang terbuka dengan lebar, lantas langsung membuat seulas senyum terlihat dengan jelas dari wajahnya. Aslin benar-benar bersyukur karena ia belum sempat untuk mengunci pintu belakang atau dia tidak akan pernah bisa keluar dari area kediaman rumahnya. Asli yang melihat pintu terbuka dengan lebar tentu saja langsung berusaha hendak melangkahkan kakinya keluar dari sana, hanya saja sebuah tarikan tangan yang berasal dari area dalam rumahnya lantas langsung menghentikan gerakan tangannya saat itu juga.


"Mau ke mana kau? Kau pikir bisa kabur dari seorang Elsa? Tentu saja tidak As hahaha..." ucap Elsa dengan tawa yang menggema membuat Aslin lantas langsung berdecak dengan kesal begitu mendapati Elsa sudah berhasil mengejarnya saat ini.


"Tidak akan pernah kulakukan sampai kapanpun juga!" ucap Elsa dengan nada penuh penekanan.


Aslin yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung kesal, ia kemudian berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Elsa yang begitu kuat saat ini. Asli mencoba untuk mendorong, memukul atau bahkan menggigit namun sayangnya Elsa yang seakan seperti kebal sama sekali tidak terpengaruh akan apa yang dilakukan Aslin kepadanya.


Elsa menarik tangan Aslin untuk masuk ke dalam dan melanjutkan perbuatannya yang ingin membunuhnya saat itu juga, namun Aslin yang berpegangan dengan erat di pintu bagian belakang lantas membuat gerakan Elsa terhenti dengan seketika.


"Lepaskan pegangan tanganmu saat ini juga!" pekik Elsa yang lantas membuat Aslin langsung menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


"Meski aku dan dirimu adalah sahabat, namun aku tidak akan pernah mau menyerahkan kehidupanku kepadamu." ucap Aslin dengan nada penuh penekanan.


Namun Elsa yang mendengar hal itu bukannya tersentuh atau apa, ia malah tertawa dan terus menarik Aslin agar melepaskan pegangan tangannya saat itu juga.


"Baiklah jika itu memang keinginan mu!" ucap Elsa sambil tersenyum dengan tipis menatap lurus ke arah Aslin saat itu.


**


Halaman rumah kontrakan Aslin


Mobil yang dikendarai oleh Amara saat itu berhenti tepat di halaman rumah kontrakan milik Aslin, Ansel yang tidak ingin membuang-buang waktunya lantas langsung berlarian keluar dari dalam mobil dan menuju ke arah pintu utama rumah kontrakan milik Aslin saat itu.


Diketuknya pintu rumah kontrakan milik Aslin secara berulang kali, namun sayangnya tidak ada jawaban apapun dari Aslin membuat Ansel semakin merasa khawatir akan keadaan Aslin saat ini. Ansel bahkan merutuki kebodohannya yang malah membiarkan Aslin untuk tinggal sendiri malam ini, harusnya saat itu Ansel berhasil membujuk Aslin agar tetap tinggal bersama di Apartemen miliknya.


"As buka pintunya, ini aku Ansel... Aslin..." ucap Ansel berulang kali sambil terus menggedor pintu rumah kontrakan milik Aslin saat itu.


"Aku rasa Aslin tidak akan membuka pintu untuk kita, sebaiknya kita lewat area belakang saja siapa tahu kita bisa masuk melalui pintu belakang rumah ini." ucap Amara kemudian yang langsung membuat Ansel menghentikan gerakannya dengan seketika.


"Kau ada benarnya juga." ucap Ansel kemudian sambil mulai meninggalkan pintu depan dan berjalan menuju ke arah pintu belakang area rumah tersebut.


Dengan langkah kaki yang bergegas Ansel dan juga Amara lantas terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu area belakang rumah kontrakan milik Aslin.


Pikiran Ansel saat ini benar-benar melayang dan juga membayangkan segala hal negatif yang mungkin bisa saja terjadi kepada Aslin. Ansel akan sangat menyalahkan dirinya sendiri, jika sampai terjadi sesuatu hal kepada Aslin saat ini. Sebuah perasaan yang begitu menyelimuti hatinya benar-benar membuat Ansel merasakan sebuah perasaan yang sama sekali tak pernah Ansel rasakan selama ini. Entah itu cinta atau hanya sebuah rasa persahabatan yang jelas Aslin begitu berharga baginya.

__ADS_1


"Lepaskan tangan mu sekarang juga!" ucap Ansel kemudian ketika melihat pemandangan yang saat ini terjadi di depan matanya.


Bersambung


__ADS_2