
Aslin yang melihat Elsa tengah berada tak jauh dari posisinya berada saat ini, lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah dimana Elsa berada saat ini sebelum nantinya Elsa akan berlalu pergi dan meninggalkannya.
"Tunggu sebentar El... Elsa! Ku mohon berhenti.." panggil Aslin sambil berusaha untuk menggaet tangan Elsa agar menghentikan langkah kakinya.
Elsa yang terus mendengar panggilan itu pada akhirnya memutuskan untuk berhenti dan berbalik badan menatap ke arah Aslin saat ini. Entah mengapa melihat raut wajah Aslin yang sok polos itu benar-benar membuatnya sangat kesal.
Ditatapnya Aslin dengan tatapan yang malas cukup lama, membuat Aslin yang mengerti akan tatapan tersebut langsung melangkahkan kakinya lebih dekat lagi ke arah Elsa.
"Els aku..." ucap Aslin hendak menjelaskan namun terlebih dahulu di potong oleh Elsa.
"Aku apa? Apa kamu ingin mengatakan jika kamu ada hubungan sepesial dengan Ansel? Sehingga kamu sengaja membawanya ke sini untuk kamu perkenalkan dengan ku? Kau benar-benar tidak mempunyai perasaan!" ucap Elsa dengan nada yang menyindir namun berhasil membuat Aslin melongo seketika begitu mendengar tuduhan dari Elsa barusan.
"Kamu salah paham El! Aku dan Ansel tidak ada hubungan apapun, kami bahkan datang kemari berempat untuk membahas sebuah pekerjaan. Aku mohon Els berpikirlah lebih jernih dan jangan terlalu mengedepankan emosi. Lagi pula apa yang membuat mu begitu marah kepadaku? Apa kamu menyukai Ansel?" ucap Aslin kemudian.
Aslin benar-benar tidak bisa menahannya lagi saat ini, sikap Elsa yang berubah dengan tiba-tiba begitu membingungkan dirinya. Aslin bahkan tidak tahu dimana letak kesalahannya, namun Elsa seakan terus menyudutkannya dan bertingkah jika Aslin lah tempat segala kesalahan ini terjadi.
Elsa yang memang menunggu-nunggu saat ini lantas kemudian terlihat mengambil posisi tangan bersendekap dada sambil menatap sinis ke arah Aslin. Membuat Aslin yang melihat hal tersebut semakin di buat tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Elsa sebenarnya.
__ADS_1
"Kau pura-pura bodoh atau apa? Apa kau tidak ingat ketika aku menceritakan masa kuliah ku dulu? Apa kau sungguh tidak tahu akan inisial A yang selalu terpajang di benda-benda pribadi milik ku? Kau bahkan sudah pernah membaca buku diari milikku, yang salah satunya membahas tentang sosok pria tampan di kampus yang selalu membantu ku ketika aku dalam kesulitan. Dan kau tahu apa? Pria itu adalah Ansel! Apa kau puas sekarang?" ucap Elsa pada akhirnya meluap juga.
Setidaknya Aslin harus benar-benar tahu jika ia telah melanggar batasannya sebagai seorang sahabat. Bukankah dahulu keduanya pernah berjanji untuk tidak menyukai orang yang sama? Namun saat ini Aslin malah melanggarnya dan dekat dengan Ansel tanpa sepengetahuannya.
"Mengapa kamu tidak mengatakannya? Jika begitu aku akan membantu mu untuk berkenalan dengan Ansel, kami berdua hanyalah rekan kerja El.. Tidak lebih dari itu!" ucap Aslin mulai berusaha untuk memperbaiki hubungannya ketika ia mengetahui letak permasalahannya.
"Kau jangan coba-coba untuk membujuk ku! Aku tidak akan mempercayai kata-katamu!" ucap Elsa sambil mendorong bahu Aslin karena kesal akan janji ucapan manis Aslin yang hanya berisi bualan semata.
"Aku akan benar-benar membantu mu El, percayalah kepada ku..." ucap Aslin dengan nada yang lebih lembut berusaha untuk meyakinkan Elsa agar percaya kepadanya.
Hanya saja bukannya percaya, yang dilakukan oleh Elsa malah mendorong tubuh Aslin dengan keras, membuat Aslin langsung terhuyung beberapa langkah dari posisinya.
Sedangkan Aslin yang mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Elsa tentu saja terkejut bukan main. Aslin bahkan tidak pernah melihat Elsa sampai seperti ini, membuat Aslin hanya bisa menatap tak percaya ke arah Elsa saat ini.
"Apa yang terjadi sebenarnya El? Ada apa dengan mu?" tanya Aslin dengan tatapan yang tak mengerti.
Mendengar pertanyaan tersebut tentu saja membuat Elsa semakin bertambah marah, dengan langkah kaki yang cepat Elsa melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aslin berada dan langsung menatapnya dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Kau jangan terlalu naif As, sejak kita bersama di panti asuhan kau bahkan sudah mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari teman-teman dan juga Ibu panti. Dan ketika kita tumbuh bersama kau juga selalu mendapatkan yang terbaik dan aku tidak, bahkan soal pekerjaan pun kau mendapatkan yang lebih baik dariku dan kini... Kau juga ingin mengambil seseorang yang aku sukai? Tidakkah kau terlalu serakah As?" pekik Elsa sambil mendorong tubuh Aslin hingga jatuh dalam posisi terduduk di lantai.
Beberapa orang yang mendengar suara ribut-ribut di area lorong toilet lantas mulai berkerumun karena penasaran, membuat Aslin dan juga Elsa saat ini langsung menjadi pusat perhatian di sana.
Sedangkan Aslin yang terkejut akan setiap kata yang keluar dari mulut Elsa barusan hanya bisa terbengong sambil menatap tak percaya ke arah Elsa. Tangisan Elsa yang menjadi-jadi ketika meluapkan amarahnya benar-benar membuat Aslin bisa melihat rasa sakit yang di rasakan oleh Elsa lewat sorot matanya. Aslin bahkan tidak menyadari akan hal itu, selama bersama dengannya Elsa tak pernah sedikitpun mengeluh atau bahkan memprotes sesuatu hal, namun ketika Elsa mengatakan semuanya dalam sekejap. Lantas membuat Aslin merasa menjadi orang paling kejam di dunia ini.
"Aku.. Aku..." ucap Aslin yang tidak tahu hendak mengatakan apa kepada Elsa saat ini.
"Cih rupanya kau tidak menyadarinya selama ini! Kau benar-benar munafik As!" ucap Elsa lagi menghardik Aslin yang hingga saat ini masih dalam posisi terduduk di lantai.
***
Sementara itu di sudut lorong, terlihat Ansel tengah terdiam sambil merenungi setiap kata yang keluar dari mulut Elsa saat itu. Sejak kepergian Aslin yang terburu-buru tadi, membuat Ansel yang begitu penasaran sekaligus khawatir lantas memutuskan untuk mengikuti Aslin dan bersembunyi di sana.
Pikiran Ansel melayang membayangkan setiap kejadian beberapa tahun yang lalu. Entah mengapa setelah mendengar perkataan Elsa yang mengatakan telah mengenalnya sejak dulu. Membuat Ansel menjadi penasaran akan siapa sebenarnya sosok Elsa.
"Dimana dia mengenal ku? Tidak mungkin dia..." ucap Ansel yang sedikit tersentak ketika ia mengingat suatu peristiwa yang sama sekali tidak ingin ia ingat sama sekali.
__ADS_1
Bersambung