
"Hubungi Ambulan sekarang juga An!" pekik Aslin sambil berlarian mendekat ke arah dimana Rani berada.
Kondisi Rani benar-benar terlihat sangat buruk namun Aslin dapat melihat jika Rani masih hidup saat itu. Terlihat dengan jelas bagaimana Rani berusaha untuk mengatur napasnya yang seperti tersendat-sendat saat itu. Dengan raut wajah yang panik Airin mengangkat kepala Rani dan meletakkannya tepat di pangkuannya.
"Kamu jangan terlalu banyak bicara, Ansel sudah memanggil Ambulans sebentar lagi mereka akan datang. Kamu tenang ya.. Kamu pasti selamat..." ucap Aslin sambil menahan isak tangisnya.
Melihat keadaan Rani yang bersimbah darah tentu saja membuat Aslin begitu ketakutan saat ini. Aslin bahkan tidak membayangkan jika sampai kejadian yang menimpa Rani saat ini terjadi kepada dirinya. Entah bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya, akankah ia merenggang nyawa sama seperti Rani atau selamat dari ambang kematian? Aslin benar-benar tidak tahu akan takdir hidupnya, membuatnya terlihat semakin frustasi ketika melihat keadaan Rani saat ini.
Aslin sudah tidak memikirkan lagi noda darah yang terus keluar dari dalam tubuh Rani dan membuat noda bekas pada baju dan juga tangannya. Sambil mengusap rambutnya dengan kasar, Aslin mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat dan semakin membuat Rani ketakutan saat itu.
"Rani pasti selamat.. Aku yakin Rani akan selamat." ucap Aslin mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Diantara segala pemikiran yang berkecamuk di dalam dirinya, tangan milik Rani mendadak bergerak dan mencoba untuk menggenggam tangan Aslin. Membuat Aslin yang melihat hal tersebut, lantas langsung menggenggam tangan Rani tanpa ragu.
"Aa....aku me..uhuk lihat wajahnya... Di...a datang da...dari masa lalu.. An..sel mengenalnya... Begitu..pula.. hhhh di..rimu.. Di...a wanita yang kej..am. Dia..." ucap Rani dengan nada yang tersendat namun membuat Aslin langsung terdiam seketika.
Hanya saja sebelum Rani sempat melanjutkan perkataannya, Rani menutup matanya dan membuat Aslin terkejut dengan seketika.
"Tidak.. Tidak Ran... Jangan membuat ku takut! Rani.. Rani..." panggil Aslin sambil sedikit menggoyang tubuh Rani dengan nada yang meninggi.
Suara Aslin yang meninggi tentu saja membuat Aslin yang keluar untuk menunggu Ambulans, lantas terkejut seketika dan langsung berlarian mendekat ke arah dimana Aslin berada saat ini. Dengan raut wajah yang khawatir Ansel menatap ke arah Aslin yang terlihat begitu histeris sambil memanggil nama Rani berulang kali.
"Apa yang terjadi As?" tanya Ansel kemudian.
__ADS_1
"Ra...Rani..." ucapnya dengan raut wajah yang bingung.
Mendengar hal tersebut lantas langsung membuat Ansel mengambil posisi berjongkok kemudian mencoba untuk memeriksa denyut nadi Rani dan juga napasnya. Meski denyut nadi Rani sangatlah lemah tapi Ansel yakin jika Rani masih hidup.
"Kamu tenanglah, Rani masih hidup meski denyut nadinya lemah tapi aku rasa dia masih hidup. Kamu tenanglah sebentar lagi Ambulans akan datang." ucap Ansel mencoba untuk menenangkan Aslin saat ini.
"Be...benarkah An?" tanya Aslin dengan nada yang menahan isak nya.
"Tentu kamu tak perlu takut, Rani akan baik-baik saja." ucap Ansel sambil mengusap pundak Aslin saat itu.
Entah mengapa melihat Aslin yang begitu ketakutan seperti itu, membuat sebuah perasaan tak enak menyelimuti hatinya. Ansel sendiri tidak tahu apa itu, yang jelas Ansel benar-benar tidak suka ketika melihat tangis Aslin pecah seperti ini. Baginya air mata Aslin terlalu berharga jika untuk menangisi takdir hidup yang di buat oleh manusia kejam yang selalu mengacaukan kehidupan mereka dan menghantuinya dengan kematian.
"Aku tidak akan membiarkannya menyentuh mu As..." ucap Ansel dalam hati sambil menatap ke arah Aslin yang terlihat begitu khawatir saat ini.
Rumah sakit
Di area ruang tunggu UGD terlihat Aslin dan juga Ansel tengah menanti dengan raut wajah yang khawatir, menunggu kabar dari dokter tentang keadaan Rani saat ini. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing, namun yang jelas baik Ansel maupun Asli sama-sama terdiam dalam pemikiran mereka. Diliriknya Aslin dengan tatapan yang intens kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Sebaiknya kamu kembali dan ganti pakaian mu dahulu, bajumu penuh dengan noda darah." ucap Ansel sambil mengambil langkah kakinya mendekat ke arah dimana Aslin berada saat ini.
Mendengar perkataan Ansel barusan lantas membuat Aslin menggeleng dengan keras. Aslin tentu tahu bagaimana kondisi baju dan tangannya saat ini, namun Aslin benar-benar tidak bisa merasa tenang ketika memikirkan tentang keadaan Rani saat ini.
"Nanti saja, jika harus pulang dulu ke Apartment mu itu akan memakan waktu yang lama." ucap Aslin kemudian menolak perkataan Ansel barusan.
__ADS_1
"Baiklah jika kamu tidak ingin pulang, sebaiknya kamu pergi ke kamar mandi dan mencuci tangan mu yang terkena noda darah." ucap Ansel lagi dengan nada yang lembut.
"Tapi aku..." ucap Aslin hendak kembali menolak namun suara pintu yang terbuka lantas membuat Aslin dan juga Ansel langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
Ceklek..
Seorang dokter nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada.
"Kalian berdua keluarga pasien?" tanya Dokter tersebut.
"Iya Dok." jawab Ansel dengan cepat.
"Pasien kehilangan banyak darah dan saat ini sedang berada dalam kondisi yang kritis. Cedera di kepalanya karena benturan yang kuat secara berulangkali membuatnya berada dalam keadaan koma. Kita tidak tahu sampai berapa lama ia akan mengalami keadaan seperti ini, namun akibat cedera serius yang di alaminya, mungkin akan menyebabkan sebagian atau seluruh saraf motoriknya terganggu dan tidak bisa digunakan. Kita hanya bisa menunggunya hingga tersadar dan melakukan pemeriksaan lanjutan untuknya. Saya harap kalian berdua bisa bersabar dalam menerima keadaannya." ucap Dokter tersebut menjelaskan kondisi Rani sebelum pada akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.
Baik Ansel dan juga Aslin tentu saja terkejut bukan main ketika mendengar penjelasan tersebut. Keduanya jelas tahu apa maksud dari perkataan Dokter tersebut. Meski nantinya Rani akan terbangun dari komanya, namun Rani tidak akan bisa kembali seperti sedia kala dan menjalani kehidupan yang normal.
Aslin nampak melangkahkan kakinya mundur dan luruh ke lantai. Sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar Aslin mulai menangis saat ini, membuat Ansel lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aslin berada dan mengambil posisi berjongkok di sana untuk menenangkan Aslin saat ini.
"Tenanglah As jangan seperti ini... Kuatkan dirimu!" ucap Ansel kemudian membuat Aslin langsung mendongak dengan seketika menatap ke arah manik mata Ansel saat itu.
"Apa kau tahu? Sebelum Rani menutup matanya dia mengatakan sesuatu yang membuat ku bingung. Aku..aku benar-benar tidak tahu siapa yang dia maksud saat itu." ucap Aslin dengan nada yang terisak.
"Apa yang Rani katakan?"
__ADS_1
Bersambung