
Malam itu Agung benar-benar meminta hak nya sebagai suami. Agung sudah mulai memberikan rangsangan kepada Clarissa, sedangkan Clarissa entah kenapa terasa hambar dia tidak merasakan sentuhan dari Agung dengan nikmat. Clarissa jadi membandingkan ketika berhubungan dengan Frans dan juga Kelvin. Meskipun saat dengan Kelvin dia sedang mabuk, tetapi Clarissa sempat hampir terbawa ke dalam kenikmatan yang Kelvin berikan.
Setelah cukup puas memberikan rangsangan kepada Clarissa, Agung segera memposisikan dirinya berada di atas tubuh Clarissa. Sedangkan Clarissa sedari tadi hanya memejamkan mata saja tanpa mau melihat Agung yang sedang menggagahinya.
Ketika akan melakukan penyatuan, Agung melakukannya dengan mudah. Awalnya Agung berpikir apakah mungkin Clarissa sudah tidak perawan lagi. Tetapi Agung menepis pikiran itu, dia mencoba berpikir positif. Tetapi ketika melihat ke sprei yang tidak ada bercak merahnya Agung semakin yakin jika Clarissa memang sudah tidak perawan lagi. Agung merasa dibodohi, karena dia berpikir Clarissa adalah wanita baik-baik yang bisa menjaga kehormatannya untuk suaminya. Tetapi pikiran Agung salah.
Agung segera melepaskan penyatuannya dengan wajah yang sudah memerah menahan marah. Tentu saja dia juga belum mengalami pelepasan. Bahkan alat tempurnya masih tegak berdiri tetapi dia cabut begitu saja. Sedangkan Clarissa seketika membuka matanya karena merasa penasaran kenapa Agung melepaskan penyatuan begitu saja.
Agung tersenyum sinis sembari memakai kembali pakaiannya yang semula tergeletak di lantai.
"Ternyata polos hanya diluar saja, tidak menjamin bisa menjaga kehormatannya untuk suami." gumam Agung sambil melirik Clarissa yang masih diam terpaku di atas ranjang mencerna perkataan Agung.
Kemudian tanpa berpamitan Agung segera menyambar ponsel, dompet dan kunci mobil untuk segera keluar.
Agung menghidupkan mesin mobilnya dan berniat pergi dari rumah di malam pertamanya, yang seharusnya dia habiskan dengan istrinya. Sedangkan Clarissa dia sudah selesai memakai pakaiannya dan melihat Agung dari jendela kamarnya. Clarissa melihat Agung yang pergi begitu saja.
Jujur hati Clarissa sakit diperlakukan seperti itu oleh seseorang yang menjadi suaminya beberapa jam yang lalu. Tetapi sekali lagi Clarissa tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dia yang sudah tidak suci lagi.
Akhirnya Clarissa lebih memilih membaringkan tubuhnya di ranjang dan berusaha untuk memejamkan matanya.
...----------------...
Sedangkan di dalam mobil, Agung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Agung segera menghubungi salah satu tante yang sedari tadi terus menghubunginya. Karena bagaimanapun alat tempur Agung masih berdiri tegak dan dia butuh pelampiasan.
"Hallo Sayang, kamu kemana aja sih? Tante hubungi dari tadi kenapa gak diangkat?" ucap manja Tante Vani ketika panggilan Agung tersambung.
Ya, sedari tadi yang menghubungi Agung adalah Tante Vani. Beliau adalah Tante yang haus kasih sayang sehingga menjadikan Agung sebagai pemuas ranjangnya. Bahkan rela memberikan Agung apa saja asalkan kebutuhan biologis Tante Vani selalu terpenuhi. Ketika Tante Vani ingin maka Agung harus selalu ada untuknya.
Tetapi hari ini Agung sulit dihubungi itu karena Agung sedang melaksanakan pernikahan dan tentu saja Tante Vani tidak mengetahuinya. Karena perjanjian mereka tidak ada yang saling memiliki pasangan. Tetapi Agung merahasiakannya karena secara materi dia juga membutuhkan apa saja yang Tante Vani berikan untuknya.
"Maaf Tante, Agung tadi sibuk banget. Tapi kan sekarang sudah ada buat Tante." jawab Agung.
Seperti itulah Agung jika berhadapan dengan Tante Vani, dia harus bisa berbuat selembut mungkin.
__ADS_1
"Iya deh. Trus kamu gak kangen sama Tante?" tanya Tante Vani dengan nada menggoda.
"Tentu saja kangen banget donk Tante. Makanya ini Agung uda di jalan mau ke tempat Tante." jawab Agung.
"Ahh pas banget Tante juga lagi butuh kamu Sayang. Oke Tante tunggu ya." ucap Tante Vani dengan senang.
Akhirnya panggilan pun berakhir, dan Agung segera melajukan mobilnya menuju tempat Tante Vani.
...----------------...
Beberapa bulan berlalu..
Kehidupan rumah tangga Clarissa dan Agung tidak sehat sama sekali. Mereka sering bertengkar, Clarissa tidak pernah mendapatkan hak nya secara batin meskipun hak nya secara lahir masih dicukupi oleh Agung.
Agung sudah berani terang-terangan membawa wanita-wanita yang berbeda ke dalam rumah mereka secara bergantian. Dan setiap kali Agung membawa wanita, Clarissa disuruh mengaku sebagai pembantunya dan tidak boleh mencampuri urusan Agung.
Bukan karena Clarissa takut, pernah suatu ketika Clarissa melawan tidak mengikuti perintah Agung. Ternyata dengan tega Agung memperlakukan Clarissa layaknya binatang. Clarissa pernah dikurung di gudang pengap selama tiga hari dan hanya diberi makan sepotong roti dalam sehari. Bahkan Clarissa pernah dipaksa masuk dikamar mandi dan diguyur air terus-menerus hingga membuat Clarissa sakit tetapi Agung tidak mau bertanggung jawab. Dengan terpaksa Clarissa menyembuhkan dirinya sendiri sebisa dirinya. Bahkan tubuh Clarissa sekarang tidak semenarik waktu dia usia muda. Sekarang dia terlihat kurus dan tidak terawat.
Tetapi ketika kedua orang tua Clarissa maupun Agung datang berkunjung ke rumah mereka, Agung memperlakukan Clarissa dengan sangat baik. Seolah-olah dia begitu mencintai Clarissa.
Agung sampai membuat alasan kepada Tante Vani jika dia ada urusan kerjaan di luar kota sehingga tidak bisa menemani Tante Vani di hari liburnya. Sebenarnya Tante Vani keberatan, bahkan dia sampai mau membayar 5x lipat gaji Agung jika hari libur ini mau menemani Tante Vani. Tetapi Agung tetap menolaknya karena memang dia harus menghadapi kedua orang tua nya dan juga mertuanya.
Clarissa baru saja membersihkan diri dan berpakaian, sekarang dia sedang merias diri didepan cermin. Dia melamun melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin.
"Aku sekarang kelihatan kurus gini ya? Batin ku benar-benar tersiksa." batin Clarissa.
Terdengar pintu kamar mandi yang terbuka, Agung keluar dengan hanya berbalut handuk dan segera aroma wangi sabun langsung menguar di kamar mereka. Clarissa segera tersadar dari lamunannya kemudian berpura-pura menyisir rambutnya yang panjang.
Agung berjalan cuek di belakang Clarissa dan berganti pakaian tepat dibelakang Clarissa. Karena Clarissa sudah menyiapkan pakaian Agung di atas ranjang. Clarissa hanya meliriknya saja dari pantulan cermin.
Sadar jika Clarissa memperhatikannya lewat cermin, Agung sengaja berlama-lama berganti pakaian.
"Kenapa lihatin terus? Kamu pengen ini?" tanya Agung sambil menunjuk alat tempurnya yang setengah berdiri.
__ADS_1
Clarissa hanya diam saja tidak mempedulikan perkataan Agung yang selalu terdengar pedas tersebut.
"Jangan harap kamu bisa merasakan kenikmatannya!" ucap Agung penuh penekanan, dia juga menjambak rambut panjang Clarissa sehingga membuat Clarissa terdongak ke atas.
Agung lalu melepaskannya kemudian segera berganti pakaian dengan cepat.
"Jangan lupa nanti kita harus bersandiwara seromantis mungkin. Awas kalau kamu membangkang!" ucap Agung dan segera keluar dari kamar karena dia sudah selesai berpakaian.
Tanpa terasa air mata Clarissa menetes begitu saja, dia benar-benar terluka. Tetapi segera dihapusnya karena mobil kedua orang tua mereka sudah datang.
Sebelum keluar dari kamar Clarissa menghela nafas pelan untuk menata hatinya bertemu dengan kedua orang tua dan juga mertuanya.
Agung saat itu sedang berada di belakang, dia belum mengetahui jika orang tuanya datang dan hanya Clarissa yang membukakan pintu.
"Halo Sayang.." ucap Ibunya Clarissa dan segera memeluk Clarissa karena memang sudah lama tidak bertemu.
Begitupun Clarissa dia memeluk dengan erat Ibunya seakan menumpahkan isi hatinya kepadanya. Meskipun Ibunya salah satu orang yang membuat Clarissa menikah dengan Agung, tetapi bagaimanapun Ibunya tetap Ibunya dan akan selalu menjadi tempat keluh kesah seorang anak.
"Aduh kangen banget ya sama Ibu, sampai Mama dilupakan." ucap Mamanya Agung dengan membelai punggung Clarissa dengan sayang.
"Maaf Ma." Clarissa segera melepaskan pelukannya kepada Ibunya dan beralih memeluk mertuanya, dan terlihat mata Clarissa yang berkaca-kaca menahan haru.
"Sudah-sudah kangen-kangenannya nanti lagi, kita masuk dulu aja." ucap Papanya Agung.
"Dimana suami kamu Cla?" tanya Papanya Agung sambil masuk ke dalam rumah.
Dan bersamaan dengan itu Agung muncul dari belakang dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Mama, Papa sudah datang." ucap Agung menghampiri mereka dan memeluk mereka satu persatu.
Kemudian Agung mengiring mereka menuju ruang keluarga.
...****************...
__ADS_1
Tetap semangat 💪
Like komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏