
Begitu masuk di dalam mobil, Rani segera membuka ayam geprek tersebut dan memakannya dengan nikmat. Bahkan dia tidak merasa kepedasan sama sekali padahal jelas-jelas warna merah cabai sangat banyak diatas ayam tersebut.
"Mau?" tanya Rani kepada Dito karena melihat Dito yang terus memperhatikannya.
Dito hanya menggeleng. Selain dia tidak suka dengan makanan pedas, dia juga tidak mau menghilangkan senyum di wajah Rani dengan hanya makan makanan yang diinginkannya. Apalagi ayam tersebut kecil karena memang sudah habis semua.
"Buat kalian aja." jawab Dito sambil menyerahkan botol air minum kepada Rani setelah memastikan ayam gepreknya habis.
Rani segera menerimanya dan meminumnya. Sedangkan Dito mengambil kotak bekas ayam geprek dan membuangnya di tempat sampah yang ada di pinggir jalan tersebut. Rani pun mencuci tangannya di wastafel yang biasa ada di pinggir jalan juga.
Keduanya pun kembali melajukan mobilnya perlahan.
"Ada yang diinginkan lagi?" tanya Dito, karena mumpung mereka ada diluar rumah karena jika sudah dirumah Dito akan malas jika harus keluar rumah lagi.
Rani terdiam sebentar serta terlihat memikirkan sesuatu. Kemudian dia segera menggelengkan kepalanya.
"Gak, kita pulang aja Boo." jawab Rani.
"Oke Sayang." Dito pun segera fokus dengan jalanan.
Setelah beberapa saat berjalan, tiba-tiba saja Rani melihat seseorang yang sedang berjalan di pinggir ketika Rani fokus menatap ke depan. Rani merasa mengenalnya meskipun terlihat dari belakang.
"Sayang, bukannya itu Putri?" tanya Rani sambil menunjuk.
"Mana?" tanya Dito yang juga melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rani.
Dito pun memperhatikannya dan benar saja dia juga merasa mengenalnya meskipun baru bertemu sekali saja.
"Coba berhenti dulu Boo." ucap Rani.
Tanpa menjawab Dito pun segera melakukan apa yang dikatakan oleh Rani. Dito menepikan mobilnya agak jauh di depan Putri agar Putri tidak merasa terkejut ada mobil yang tiba-tiba saja berhenti di depannya.
Sedangkan Putri seketika berhenti berjalan ketika ada mobil yang berhenti di depannya. Dia tahu jika itu bukan mobilnya Kelvin maka dari itu Putri berhenti karena takut jika saja itu adalah orang jahat yang akan mengganggunya.
Begitu mobil berhenti, Rani segera keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Putri begitupun dengan Dito. Sedangkan Pak Satpam yang sedari tadi mengikuti Putri pun juga berhenti dan terus memperhatikan siapa tahu mobil yang berhenti di depan Bos nya tersebut adalah orang jahat.
"Putri.." panggil Rani begitu jarak mereka cukup dekat.
Putri pun bisa bernafas dengan lega ternyata itu adalah Rani dan Dito yang adalah sahabat dari Kelvin.
"Mbak Rani, Mas Dito." panggil Putri begitu mereka sudah saling berhadapan.
"Kamu ngapain berjalan di sini sendirian?" tanya Rani sambil menatap ke sekeliling. "Kamu pulang kerja? Kog gak bawa mobil?" tanya Rani lagi karena merasa penasaran.
Putri terdiam sebentar dia bingung akan menjawab seperti apa kepada Rani dan Dito.
"Ehm.. Mobil ku rusak Mbak jadi jalan kaki." jawab Putri dengan ragu.
__ADS_1
Dito bisa membaca keraguan Putri dalam menjawab, dan dia bisa menebak pasti ada hubungannya dengan Kelvin tetapi Dito tidak ingin bertanya lebih dulu. Dia hanya diam saja dan membiarkan Rani yang bertanya kepada Putri. Karena Dito sendiri nanti yang akan bertanya kepada Kelvin.
"Trus kamu gak pesan taksi online aja? Gak takut memangnya jalan sendiri?" tanya Rani lagi.
"Uda Mbak, tapi belum datang-datang. Ini juga lagi nunggu sambil jalan kaki." jawab Putri lagi dengan berbohong.
Dito terus menatap Putri untuk mencari kejujurannya tetapi Putri tidak berani menatap Dito. Seakan Putri merasa bahwa Dito tahu jika dia berbohong.
"Ow gitu, ya udah kamu cancel aja trus bareng sama kita. Kita antar sampai rumah kamu." ucap Rani menawarkan.
Putri pun berpikir sebentar dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut dengan Rani dan Dito. Karena Putri berpikir bahwa pasti Kelvin tidak mungkin datang.
"Iya deh Mbak." jawab Putri.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil dan Pak Satpam pun kembali ke kantor karena sudah memastikan bahwa Bos nya dalam keadaan baik-baik saja dan bertemu dengan orang yang dikenalnya.
Dokter baru saja keluar dari ruang UGD dan Kelvin segera menghampirinya untuk bertanya tentang keadaan Clarissa.
"Bagaimana Clarissa, Dok?" tanya Kelvin.
"Pasien sudah bisa melewati masa kritisnya. Maaf sebelumnya Bapak ada hubungan apa dengan pasien?" tanya dokter tersebut karena memang pihak Rumah Sakit harus mrngetahui siapa yang menjadi penanggung jawab pasien.
"Ehm.. Saya cuma temannya Dok. Dan kebetulan tadi saya ketemu dengannya." jawab Kelvin.
Karena memang sekarang Kelvin tidak ada hubungan apa-apa dengan Clarissa tetapi Kelvin cukup merasa khawatir jika terjadi sesuatu dengannya. Apalagi yang Kelvin tahu bahwa di kota ini Clarissa tidak memiliki siapapun sehingga dia merasa bertanggung jawab atasnya.
"Baiklah. 1 jam lagi pasien sudah bisa dipindahkan ke ruangan. Bapak bisa menandatangi surat penanggung jawab terlebih dahulu di depan." ucap sang dokter.
Sedangkan di dalam mobil setelah Putri mengatakan alamat rumahnya Dito sengaja terus memancing Putri untuk berkata jujur. Karena firasat Dito sebenarnya ini semua ada hubungannya dengan Kelvin.
"Iya maaf Mbak, Mas. Sebenarnya saya janjian sama Kak Kelvin." jawab Putri lirih dan akhirnya mengakuinya.
Rani yang mendengarnya pun seketika memiringkan duduknya agar bisa melihat Putri secara langsung. Karena Putri duduk dikursi belakang.
"Maksud kamu?" tanya Rani penasaran.
Akhirnya Putri menceritakan semuanya. Dari yang semalam Kelvin mengirimnya pesan untuk tidak membawa mobil karena dia yang akan menjemputnya sampai kejadian yang baru saja mereka bertemu dengan keadaan Putri yang berjalan kaki sendirian dengan alasan sambil menunggu Kelvin jika nanti dia datang karena Kelvin sama sekali tidak bisa dihubungi.
Diam-diam Dito mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan sahabatnya tersebut. Baru semalam mereka mengobrol dan terlihat Kelvin mendengarkan perkataannya tetapi justru sekarang ternyata Kelvin tidak mendengarkannya. Entah wanita seperti apa yang diinginkan oleh Kelvin, padahal di depannya ada wanita yang sudah cukup baik dalam penilaian Dito.
"Astaga!" seru Rani sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Gimana sih Kelvin itu Boo! Uda bikin janji seenaknya tapi juga gak ditepati!" kesal Rani.
"Kamu gak tahu dimana Kelvin Boo?" tanya Rani kepada suaminya.
__ADS_1
"Ya gak tahu, kan seharian sama kamu." jawab Dito tenang, padahal sebenarnya dia juga merasa geram dengan sahabatnya itu.
"Uda biarin aja Mbak, Mas, gak apa-apa kog. Besok paling sudah bisa dihubungi." ucap Putri merasa tidak enak dengan Rani dan Dito.
"Gak apa-apa gimana? Cowok jangan gampang dikasih kesempatan seperti itu Put! Nanti dia merasa besar kepala." jawab Rani yang masih emosi.
"Uda lah Poo, kita gak usah ikut campur biar Putri sama Kelvin yang menyelesaikan masalah mereka sendiri." ucap Dito.
"Iya Mbak, biar nanti saya selesaikan sendiri." jawab Putri menambahi.
"Iya tapi kan..." ucap Rani yang akan berbicara tetapi segera ditegur oleh Dito.
"Poo!"
"Iya-iya." jawab Rani dengan cemberut dan membenarkan duduknya dengan menatap ke depan.
Dan bersamaan dengan itu mereka sudah sampai didepan rumah Putri. Setelah mengucapkan terima kasih Putri pun berpamitan kepada Rani dan Dito yang sudah mengantarnya.
Sedangkan di Rumah Sakit, setelah tanda tangan Kelvin kembali lagi ke ruang UGD dan Clarissa belum dipindahkan ke bangsal. Kemudian dia kembali duduk dikursi di depan UGD. Tiba-tiba saja dia ingat dengan janjinya kepada Putri.
"Astaga!" ucap Kelvin sambil melihat jam dipergelangan tangannya. Dan jam sudah menunjukkan larut malam.
Kelvin segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dan ternyata ponselnya sedari tadi mati entah kenapa. Kelvin segera mengaktifkannya.
"Kenapa bisa lupa gini sih." gerutu Kelvin membodohi dirinya sendiri.
Begitu ponselnya nyala disana ada banyak panggilan tidak terjawab dari Putri dan orang penyelenggara di cafe yang dia pesan. Juga ada 1 panggilan tidak terjawab juga dari Dito.
"Rani? Apa dia tahu ya?" gumam Kelvin karena tidak biasanya Dito menelponnya.
Kelvin segera menghubungi orang yang bertanggung jawab di cafe yang sudah dia pesan dan meminta maaf karena tidak ada konfirmasi apapun dari Kelvin. Dan tentu saja Kelvin harus menelan kerugian atas semua yang dia pesan. Tetapi dia tidak mempermasalahkannya.
Kelvin pun juga ingin menghubungi Putri tetapi karena memang sudah larut malam dia takut mengganggu istirahat Putri sehingga Kelvin memutuskan bahwa besok pagi saja dia akan menghubungi Putri untuk menjelaskan keadaan yang sesungguhnya.
Bersamaan dengan itu pintu ruang UGD terbuka dan beberapa perawat mendorong sebuah brankar dan Clarissa terbaring disana dengan memejamkan mata juga selang infus yang terpasang ditangannya untuk dibawa ke bangsal yang sudah disiapkan. Kelvin pun mengikuti mereka sampai ke bangsal Clarissa.
Dan sebenarnya Putri belum bisa tertidur. Setelah sampai dirumah dia segera membersihkan diri kemudian hanya berbaring saja di ranjangnya. Bahkan dia tidak merasakan lapar sama sekali karena hanya rasa kecewa yang dia rasakan atas sikap Kelvin entah apa maksud Kelvin dia tidak tahu.
Dan sedari tadi sebenarnya Putri terus mengecek bahwa pesan yang dia kirim kepada Kelvin baru saja dibaca tetapi tidak ada jawaban apapun dari Kelvin sampai sekarang. Padahal Putri hanya mau tahu apa yang terjadi dengan Kelvin, mungkin saja Kelvin sakit atau sedang sibuk.
"Memang hanya dianggap sebagai teman." gumam Putri.
"Putri, Putri jangan berharap lebih kamu." lanjutnya sambil terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Tetap semangat 💪
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏