Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Rencana Ummi


__ADS_3

"Ara, nanti pulang kerja langsung pulang ya, Nak!" ucap ummi terdengar sangat lembut di telinga Zahra.


"Apa ada acara hari ini, Ummi?" tanya Zahra penasaran.


"Nak, ada yang akan datang ke rumah kita malam ini, cepat pulang ya, Nak!"


Kata-kata Ummi Fatimah selalu terngiang-ngiang di dalam benak Zahra, padahal ada setumpuk pekerjaan di meja kerjanya yang deadline dua jam lagi.


Berkali-kali ummi juga menghubungi Zahra, beliau mengingatkan agar sang anak tidak berkeliaran sepulang dari kantor. Sungguh, kata yang membuat Zahra semakin tidak ingin pulang ke rumah.


Zahra mumet, hingga ia seolah menjunjung gunung di pundaknya.


Zahra Alia sangat yakin kalau orang tuanya akan menjodohkannya lagi dengan seseorang. Tidak sekali dua kali, bahkan hampir setiap bulan ada saja lelaki yang beliau kenalkan kepada putri kesayangannya itu.


Usia dua puluh sembilan tahun adalah usia yang sudah sangat matang untuk seorang wanita menikah, apalagi Zahra tinggal di pelosok kampung yang memang melihat seorang wanita yang belum menikah sebagai aib. Ya, usia Zahra adalah usia yang rentan mendapatkan ejekan dari lingkungan di sekitarnya, karena tidak menikah dianggap tidak laku bagi mereka. Seperti sebuah barang, wanita yang belum menikah seperti tidak bernilai dan tidak ada harganya bagi mereka.


Wajah yang cantik dan awet muda dengan karir yang cemerlang tidak menjamin seorang wanita akan menikah di usia muda, karena terkadang rutinitas pekerjaan membuat diri mereka lupa kalau usia sudah tidak lagi muda.


"Bosan ah!"


Zahra meletakkan pulpen dan tumpukan map yang berisi berkas-berkas penting. Zahra memilih meninggalkan segudang pekerjaan itu, keluar dari ruangan untuk mencari udara segar agar pikirannya kembali jernih.


"Ara, Zahra, kok bengong?"


Terdengar oleh Zahra suara yang tidak asing tengah memanggil-manggil namanya.


Alexander, lelaki dua puluh lima tahun yang sejak tiga tahun terakhir menjadi malaikat Zahra. Lelaki terbaik yang selalu ada di setiap suka dan duka Zahra. Lelaki hebat yang menjadi sandaran hati, tempat mencurahkan semua isi hati baik suka duka. Ya, lelaki yang tidak lain adalah seorang pengusaha yang berhubungan pekerjaan dengan Zahra.

__ADS_1


Lelaki tampan itu keluar dari mobil sport berwarna biru miliknya, dengan penampilan rapi dan gagah rupawan, ia seorang pengusaha muda yang sedang merintis karir di bidang fashion dengan bisnis yang saat ini sedang berkembang pesat.


"Jelek, ada apa? Kenapa wajahnya murung begitu?" ucap Alex sembari mencubit hidung Zahra yang sangat jauh dari kata mancung.


Tetesan air mata yang sedari tadi Zahra tahan akhirnya tercurahkan juga. Entah mengapa, kedatangan Alex malah membuat Zahra semakin ingin menangis sejadi-jadinya. Zahra ingin mengadu dan mencurahkan semua beban yang tengah ia tanggung kepada lelaki yang ada di depannya. Ia ingin bersandar di bahu lelaki itu dan Zahra ingin lelaki itu membantunya keluar dari masalahnya.


"Pak Bos, sepertinya Ummi akan menjodohkan ku lagi," ucap Zahra dalam isak tangisan.


"Paling nanti gagal lagi, Jelek."


Celotehan lelaki dengan tinggi 170 cm dengan kulit putih itu cukup menghibur Zahra, hingga gadis cantik itu tertawa di dalam tangisnya.


"Sudah ah, jangan cengeng, yuk jalan!"


"Aku ingin pulang," tolak Zahra lembut.


"Aku hanya ingin pulang."


"Sini, biar aku antar!"


Alex menggenggam tangan Zahra dan berniat mengantarkan gadis cantik itu pulang, tapi Zahra menolak, karena ia tidak ingin mengajak lelaki yang bukan calon suami ke rumahnya, walaupun lelaki itu adalah sahabat baik dan rekan kerjanya.


Bagi Zahra, Alex seperti seorang sahabat, teman dan malaikat yang mengayomi. Bahkan, walaupun usianya terbilang lebih muda dari Zahra, tapi kedewasaan sikapnya membuat Zahra merasa sangat nyaman untuk sekedar bercerita dengannya. Namun, tetap saja Zahra tidak ingin memperkenalkan Alex kepada keluarganya.


Tapi, Alex memiliki energi luar biasa yang membuat wanita seperti Zahra terhipnotis, ia seperti magnet yang membuat Zahra lengket dan bergantung kepadanya, bahkan hanya dengan menatap wajahnya saja hati Zahra sudah merasa teramat sangat bahagia.


"Aku pulang sendiri saja."

__ADS_1


Dengan gerakan sigap, Zahra melepaskan genggaman tangan Alex, berjalan cepat dan langsung mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan 60 km/jam.


"Ara, tunggu!" Teriakan Alex tidak Zahra hiraukan, karena gadis cantik itu harus cepat sampai di rumah agar kedua orang tuanya tidak khawatir.


"Nanti aku telepon," ucap Alex lagi.


Zahra terus melajukan kendaraannya hingga dalam tiga puluh menit sampailah ia di depan rumahnya.


Zahra langsung menuju kamar karena baju kerja yang ia kenakan terasa sangat gerah. Ia ingin segera mandi dan bersemedi di kamar untuk menghindari perbincangan dengan kedua orang tuanya, terutama ummi. Tapi, ummi tidak akan tinggal diam, dengan berbagai cara beliau akan mencari cara untuk mengobrol dengan putri sulungnya itu.


Tok ..., Tok ..., Tok ....


Terdengar oleh Zahra sang ummi mengetuk pintu kamarnya, tapi ia bersikap tidak peduli, seolah tidak mendengar.


Zahra hanya bergegas, ia segera membaringkan tubuhnya di ranjang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bahkan ia berpura-pura menutup mata seolah tidak mendengar panggilan dari orang tuanya itu, agar ia dikira tengah tertidur. Ya, sebuah kebohongan klise yang tidak masuk akal.


Untuk saat ini Zahra tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk keluarganya, ia hanya ingin mengurung dirinya di kamar dengan membawa sejuta kesedihan bersamanya.


'Maafkan, Ara, Ummi."


Ada rasa bersalah di dalam hati Zahra karena telah mengabaikan orang tuanya. Namun, ini adalah salah satu bentuk penolakan secara tidak langsung atas ketidaksukaan Zahra atas perjodohan orang tuanya.


"Zahra, Ummi tahu kamu belum tidur, Nak, apa kamu bisa keluar? Abi dan Ummi ingin berbicara," ucap ummi Farimah lembut namun terdengar sangat tegas sekali.


Bagaimanapun juga, Zahra adalah seorang anak dan ia tidak ingin menjadi anak durhaka yang tidak patuh kepada orang tua. Tapi keegoisan membuat hatinya menjadi batu, jia mengurung diri di kamar tanpa menghiraukan panggilan orang tuanya.


Sejam berlalu, ummi Fatimah akhirnya masuk ke kamar Zahra dengan rasa kecewa yang ia bawa bersamanya. Sementara Zahra, ia menjadi anak yang keras hati, ia palingkan tubuhnya menghadap ke dinding dan ia sama sekali tidak ingin melihat wajah orang tuanya.

__ADS_1


"Ara, Ummi tahu kamu belum tidur, tapi satu hal yang harus kamu kalau Ustadz Fahri adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suamimu, bukan si Alex, lelaki yang hanya memberikan harapan dan memanfaatkan mu saja!"


__ADS_2