
Ya, setiap gajian atau menerima bonus dari tempat kerja, Zahra selalu menghabiskan uangnya untuk shopping dan travelling, membeli baju, celana, rok, sepatu, tas, hingga menumpuklah pakaian itu di lemari, bahkan ada beberapa pakaian yang sama sekali belum pernah ia pakai karena stok pakaiannya masih banyak. Zahra juga hampir setiap hari nongkrong bersama teman-temannya, mencicipi makanan pinggir jalan atau sekedar duduk di cafe, menikmati makanan dan berwisata kuliner untuk memuaskan dirinya sendiri. Ya, bagi Zahra, semua uang yang ia dapatkan ingin ia nikmati karena ia hanya mencari untuk dirinya sendiri.
Sebenarnya Zahra tahu kalau sifat boros yang dimilikinya ini tidak baik, ia juga tahu kalau semua yang dikatakan oleh Alex benar adanya, tapi selama ini Zahra kesepian, ia hanya membahagiakan dan menghibur dirinya sendiri dengan memenuhi semua keinginannya dan tertawa terbahak-bahak bersama dengan teman-temannya, walaupun pada kenyataannya kebahagiaan itu hanya sementara, setelah sampai di rumah, Zahra kembali mengurung diri di kamar, menangis dan meratapi nasib hidupnya sendiri.
Usia 27 tahun, adalah usia yang sangat matang bagi seorang wanita, bahkan saking matangnya, Zahra tidak punya lagi sahabat atau teman seusia yang masih lajang di sekitar komplek tempat tinggalnya. Bahkan, Zahra menghindari bertemu dengan para tetangga dan teman-teman sekolahnya hanya demi untuk menjaga hati dan perasaannya agar tidak mendengar sesuatu yang membuat telinga itu panas terbakar.
Zahra sangat tahu, setiap manusia memiliki ujian hidup yang berbeda-beda yang dijalaninya, ada yang terlambat menikah padahal sudah kepala tiga, ada yang cepat menikah tapi tidak memiliki keturunan, ada yang menikah dan punya keturunan tapi salah seorang dari mereka diselingkuhi, ada juga keluarga yang terlihat bahagia tetapi ada KDRT di dalamnya, ada juga yang kekurangan dari segi finansial. Ya, Tuhan memberikan ujian dan cobaan sesuai dengan batas dan kemampuan hamba-Nya, sesuai dengan porsi dan kesanggupan masing-masing, dan semua itu untuk meningkatkan derajat manusia dihadapan sang penciptanya.
Sungguh, saat ini Zahra berada di titik lelah dan capek, rasanya ingin sekali menyerah karena sudah tidak sanggup lagi menjalani hidup yang berat baginya, hingga mulai bertanya-tanya kepada Tuhan, 'Ya Allah, apakah Engkau tidak mendengar doaku?' batin Zahra.
Jika setiap insan diciptakan berpasang-pasangan, lantas dimana pasangan Zahra sekarang? Dimana jodoh Zahra dan dimana tulang rusuknya itu?
Zahra percaya Tuhan tidak akan mengingkari janji-Nya, namun sebanyak apapun Zahra berdoa, sekuat apapun Zahra berusaha mencari belahan jiwa, tetap saja sampai saat ini gadis cantik itu belum bertemu dengan calon suaminya.
'Sebenarnya, apa yang salah pada diriku? Apakah tidak pantas wanita sepertiku menikah dan hidup berumah tangga?'
Ya, hampir setiap saat hati Zahra bergejolak, kepalanya terasa teramat sangat sakit seperti ingin pecah, ingin kabur dan pergi meninggalkan rumah orang tua tapi hanya memiliki uang seadanya, namun jika Zahra tidak pergi maka ia harus menerima perjodohan dan pernikahan paksa ini.
Kring ..., kring ..., kring ....
Ponsel Zahra berdering dan ia dengan bersegera langsung mengangkatnya, karena ia yakin kalau Alex yang menghubunginya. Zahra yakin kalau Alex pasti meminta maaf karena meninggalkannya dan ia juga pasti ingin menyemangati Zahra dengan menelpon.
[Halo, Mas, kamu dimana?] sapaan manja yang selalu Zahra lontarkan kepada Alex ketika lelaki itu menelpon.
__ADS_1
[Ara, apa kamu sakit?]
Terdengar oleh Zahra suara seseorang yang tidak ia kenal namun terdengar tidak asing di telinganya.
Zahra kemudian melihat layar ponsel dan mendapati nomor tidak dikenal yang menghubunginya. Ya, gadis itu langsung bisa menebak kalau panggilan ini adalah panggilan dari ustadz Fahri, tunangan yang tidak ia akui.
Sungguh, Zahra tidak ingin menyimpan nomor ponsel lelaki itu dan sungguh ia tidak ingin berkomunikasi dengan lelaki itu. Jangankan untuk bertemu atau mengobrol di telepon, sekedar membalas pesan singkatnya saja Zahra merasa enggan dan tidak sudi.
[Zahra, kamu baik-baik saja 'kan?] ucap Fahri sekali lagi dengan suara yang terdengar penuh dengan kekhawatiran yang teramat sangat kepada Zahra.
'Dasar lelaki, sok perhatian banget lo!' ucap Zahra di dalam hati sembari mematikan panggilan teleponnya.
Wajah Zahra memerah, bukan karena kasmaran atau jatuh cinta namun karena kemarahan. Zahra menjadi semakin muak dan kesal kepada lelaki yang tidak lain adalah tunangannya. Sikap ustadz Fahri yang sok peduli dan sok perhatian membuat Zahra ingin sekali mencabik-cabik mulut lelaki itu.
Kring ..., kring ..., kring ....
[Jangan menghubungiku jika tidak ingin membuatku kesal!]
Zahra akhirnya mengirimkan pesan singkat kepada lelaki itu, kemudian ia langsung mematikan layar ponselnya, karena ia tidak ingin lelaki itu mengganggunya saat ia sedang pusing dan menanggung banyak beban pikiran. Jika lelaki itu terus menghubunginya, mungkin Zahra akan mengeluarkan kata-kata mutiara yang mungkin saja akan menyakiti lelaki itu.
Huft ...
Zahra menarik nafas panjang, meletakkan tangan di dada sembari menutup mata untuk menyusun strategi terbaik.
__ADS_1
"Kemana aku akan pergi sekarang? Apakah aku kabur keluar kota saja?"
Otak Zahra memikirkan banyak hal salah satunya rencana untuk kabur keluar kota dengan uang yang tersisa.
"Alex pasti bisa membantuku."
Zahra segera meraih ponselnya dan ia langsung hubungi Alex beberapa kali namun lelaki itu tetap tidak mengangkatnya.
Hati kecil Zahra mulai berpikir, mungkinkah Alex memang sengaja meninggalkannya karena tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Ah sudahlah, mungkin Alex sedang sibuk."
Zahra langsung membanting ponselnya ke ranjang dan terjatuh tepat di posisi kakinya dengan amarah yang sangat memuncak.
Zahra kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang, menutup wajah cantiknya dengan selimut, berharap ia bisa tertidur dan hatinya berharap ketika terbangun semua ini hanyalah mimpi.
"Iiiis, bosan!"
Zahra berteriak sembari mengacak-ngacak rambutnya sampai berantakan.
Untuk sesaat Zahra berhenti dan terdiam, melihat ke arah lemari yang ada di depannya, dimana ada sebuah gunting disana.
Dengan langkah kaki berat, Zahra berjalan dengan sisa sisa tenaganya untuk mengambil gunting itu.
__ADS_1
Satu tangan kanan yang lemah dan gemetar itu memegang gunting, dan satu lagi tangan kiri memegang rambutnya yang terurai panjang dan berantakan.
Perlahan, Zahra menggunting rambutnya sendiri dengan jangkauan yang ia bisa, bahkan Zahra sampai tidak sadar diri jika ia tidak lagi memotong ujung rambutnya tapi hampir seluruh rambut itu hingga ke pangkalnya. Ya, stres mendalam membuat Zahra tidak sadar kalau rambut Zahra terpotong pendek dan ada beberapa bagian yang hampir botak.