
"Baiklah, Ummi, terima kasih banyak."
"Sampaikan salam kami kepada calon menantu kami," balas Ummi Salamah ramah dan sangat sopan.
Kini terdengar hiruk pikuk, sepertinya keluarga ustadz Fahri dan sanak saudara Zahra telah pamit ke rumah masing-masing, dan sekarang yang tertinggal adalah sebuah tanda bahwa Zahra telah bertunangan.
Tok ..., Tok ..., Tok ...
"Zahra, Ummi masuk ya, Nak!" ucap Ummi Fatimah yang masih tidak Zahra hiraukan.
Ummi duduk di ranjang di samping Zahra, nafas beliau terdengar berat seolah sedang menahan banyak beban di hati dan pikirannya.
"Ara, Ummi ingin langsung saja, Ummi tidak ingin ada perdebatan lagi antara kita. Ummi ingin kamu tahu satu hal, kalau sekarang kamu telah menjadi tunangan seseorang, kamu harus mengenakan cincin ini di jari manis mu dan satu hal yang harus kamu tahu kalau Ustadz Fahri adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suamimu."
Tanpa basa basi, ummi Fatimah menyerahkan cincin pertunangan itu di telapak tangan Zahra.
Hati Zahra bergejolak, bagaimana mungkin ia bertunangan dalam sekejap, bahkan pertunanganan ini terjadi tanpa meminta pendapatnya sedikitpun. Ia seperti tidak berhak atas dirinya sendiri.
"Ummi, Ara tidak menyukai Ustadz itu!"
"Suka tidak suka, mau tidak mau, semua telah terjadi dan ini adalah takdir dari Allah."
"Takdir yang dipaksakan maksud Ummi?"
__ADS_1
Zahra bangkit dari pembaringan, duduk sembari menatap ummi Fatimah dengan mata melotot, penuh dengan emosi dan amarah yang teramat sangat. Terjadi perdebatan luar biasa antara ibu dan anak yang membuat suasana menjadi panas.
Prak ...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zahra, hingga sebelah tangannya langsung refleks memegang pipi kirinya yang memerah karena kesakitan. Darah Zahra seperti mendidih karena emosi meledak yang teramat sangat, hingga membuat ia ingin berteriak.
"Zahra! Ummi tidak pernah mendidik mu menjadi anak durhaka."
Ummi Fatimah marah besar dengan air mata terus mengalir membasahi pipi beliau, wajah beliau penuh dengan penyesalan dan kekecewaan. Ini kali pertama sang ibu marah hingga memukul putri kesayangannya.
"Pakailah ini dan putuskan hubungan tanpa status mu dengan Alex. Jauhi lelaki cemen itu, dia tidak pantas untukmu!"
Ummi Fatimah memberikan cincin tunangan ke tangan Zahra, cincin berlian yang terlihat mewah itu terlihat sangat cantik, tapi sebagus apapun cincin itu tidak membuat Zahra ingin memakainya karena ia sangat tidak ingin bertunangan secara paksa seperti ini.
"Ummi benar-benar jahat!" ucap Zahra dalam isak tangisan.
Kini suara lembut dengan isak tangis penyesalan yang keluar dari lisan Ummi Fatimah sungguh membuat hati Zahra sangat hancur. Apalagi sang ibu meninggalkan kamar putrinya dengan air mata membuat sang putri merasa menjadi anak durhaka.
'Zahra, apakah kehidupan seperti ini yang kamu harapkan? Apakah kamu ingin melawan kedua orang tua demi keegoisan hatimu?'
Batin Zahra mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia memang sangat ingin menikah akan tetapi ia juga tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan bagaimanapun hati ini terus menolak bahwa bukan pernikahan seperti ini yang ia harapkan.
'Enam bulan? Itu artinya aku masih punya 180 hari lagi untuk mengatur strategi, ini adalah kesempatan yang bagus,' ucap Zahra di dalam hati dengan secercah harapan yang akan ia jadikan peluang.
__ADS_1
Zahra bangkit dari pembaringannya, perlahan ia hapus air mata yang terus menggenangi pipinya, ia merasa Tuhan sedang memberinya kesempatan untuk merubah takdirnya sekarang. Ya, Zahra pernah mendengar ceramah seorang ustadz kalau jodoh itu adalah takdir Allah yang bisa diusahakan dengan ikhtiar dan doa, jadi Zahra menggenggam suatu keyakinan penuh bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak, hanya dengan mengatakan, 'Kun Fayakun,' semua akan terjadi.
Zahra percaya, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Jika Tuhan memberikan ujian atau cobaan kepada seorang hamba, maka ada dua kemungkinan, yang pertama mungkin Tuhan ingin menghapus dosa-dosanya dan yang kedua adalah untuk mengangkat derajatnya. Ya, satu hal yang Zahra yakini, Tuhan pasti memberikan hikmah terbaik atas semua pelajaran hidup yang diberikan dan keyakinan ini yang Zahra pegang hingga saat ini.
'Zahra, bersemangatlah, jika memang kamu telah menghadapi jalan buntu dalam perjalanan panjang mu, maka hadapi saja!' ucap Zahra di dalam hati sembari menyemangati dirinya sendiri.
Zahra berjalan mengambil ponselnya kembali, mencoba mencari tahu, mungkin saja Alex telah menjawab pertanyaan yang ia ajukan kepada lelaki itu. Tapi tidak ada balasan apapun dari Alex, lelaki itu hanya membaca pesannya saja tanpa membalas atau bereaksi apa-apa.
Untuk sesaat, terbayang oleh Zahra tentang hal yang dikatakan oleh ummi-nya, kalau Alex bukanlah lelaki yang baik karena ia hanya ingin memanfaatkan kebaikan hati Zahra saja. Tapi, bagaimanapun juga, hati dan pikiran Zahra kembali bergejolak, mencari tahu sendiri tentang sesuatu yang tidak ia ketahui. Ya, mungkin saja perasaan itu membuat seseorang menjadi lupa kalau yang dilakukan itu sangat salah.
'Alex, kamu sebenarnya kemana? Kenapa kamu menghilang dan tidak mengangkat panggilan dariku?' ucap Zahra di dalam hati dengan sejuta tanda tanya di dalam hatinya.
Zahra juga berusaha menghubungi Alex beberapa kali, tapi semuanya sia-sia, lelaki itu bukannya mengangkat teleponnya tetapi malah menolaknya, hingga hati ini mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
Bahkan mulai muncul rasa bosan dan muak dengan perlakuan Alex kepadanya, kini pikiran Zahra tiba-tiba saja ingin membaca pesan singkat ustadz Fahri kepadanya.
[Assalamualaikum, Zahra, apa saya bisa berbicara dengan kamu?]
Rasanya Zahra tidak ingin membalas pesan lelaki itu, karena ia terlalu muak jika menyangkut apapun tentang dirinya, selain itu ia tidak ingin berbicara dengan siapapun sekarang.
'Apa aku harus kabur saja dari rumah ini?'
Tiba-tiba saja Zahra memikirkan sesuatu tanpa berpikir panjang. Ya, bagaimanapun juga Zahra tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai, tapi apa yang harus ia lakukan sekarang, jika ia kabur dari rumah maka ia akan menjadi anak durhaka dan yang kedua, Zahra akan membuat kedua orang tuanya malu dilingkungan karena anak gadis mereka kabur sebelum hari pernikahannya.
__ADS_1
Ya, Zahra tidak bisa membayangkan bagaimana malunya keluarganya atas sikapnya yang sama sekali tidak dewasa. Tapi, semakin Zahra memikirkan, semakin ia ingin lari dari masalah ini. Seolah kabur adalah cara terbaik agar semua yang telah direncanakan tidak terealisasi. Ya, dilema hati membuat Zahra tidak mampu berpikir jernih, karena di dalam otaknya penuh dengan penolakan.
'Aku harus bergegas, sepertinya aku memang harus kabur namun dengan cara yang cantik agar kedua orang tuaku tidak curiga,' ucap Zahra di dalam hati.